
Laras dan Louise duduk di sofa ruang tamu untuk istirahat, sementara Dimas masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti bajunya.
Laras dan Louise masih malu-malu untuk duduk berdekatan, lebih tepatnya mau tapi malu.
Dimas keluar dari kamar lalu berjalan menuju ke dapur, Laras langsung mengikuti nya untuk membuat kan minum, karena di rumah Dimas tidak ada asisten rumah tangga, Dimas biasa melakukan apapun sendiri karena sejak kecil, dia sudah terbiasa mandiri.
" Dad mau minum apa??" tanya Laras yang sibuk mengambil gelas dari lemari kaca.
" lemon kayak nya segar di siang-siang gini",
Sementara Laras tengah sibuk dengan gelas dan es itu, Dimas pergi ke ruang tamu menemui Louise yang duduk sendirian, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di hati Louise saat ini, tapi rasa sungkan untuk bertanya selalu saja ada di benak nya, bagaimana pun dia tidak ingin mati penasaran, om Dimas adalah orang yang baik, bertanya apapun pasti dia tidak akan marah!.
" Om boleh Louise bertanya??" sebenarnya jantung nya berdetak kencang saat mulai bicara.
" Tanyakan saja Louise!!" jawab Dimas santai,
" Apa cuma Laras anak om?? lalu dimana istri om Dimas??".
Pertanyaan itu membuat Dimas terdiam, matanya membulat menatap Louise
tidak mungkin ia bilang Laras bukanlah anaknya, sementara sejak pertama kali bertemu dengan dirinya, Laras mengatakan bahwa Dimas adalah ayahnya.
" Om berpisah dengan isteri om waktu anak om berusia 7 tahun, itu semua karena om dulu kesulitan mendapatkan uang sehingga orang tua nya membawa nya pulang, lalu kami berpisah, om tidak pernah menginginkan perpisahan, mungkin sudah takdir kami harus berpisah, hubungan om dan mantan istri om sampai sekarang masih baik, kami menjalin hubungan sebaik mungkin demi anak, anak tidak boleh menderita karena keegoisan orang tua!!.
Louise tak bergeming mendengar penjelasan Dimas, tapi yang membuat ia penasaran kenapa tak ada satu pun foto Laras di rumah itu, kenapa malah foto anak laki-laki?.
Louise ingin menanyakan itu pada Dimas, dia ingin tau kenapa foto Damar yang terpampang di dinding rumah itu.
" Minuman nya datang" Laras membawa gelas berisi lemon dan jus jeruk, dengan senyuman yang manis ia meletakkan nampan itu di meja.
" Makasih" ucap Louise sambil mengedipkan matanya membuat Laras jadi salah tingkah.
" Silahkan di minum",
Laras pun kembali ke dapur untuk membuatkan makan siang untuk mereka.
Damar sedang sibuk mencari novel dewasa untuk ia koleksi, dia memang sering, membacanya ketika ia sendirian di rumah, saat sudah mendapatkan nya, dia berencana singgah di ruman papanya, ia memutar mobil nya ke arah rumah Dimas, sudah lama juga ia tidak menemui ayahnya itu.
Tiba di rumah, Damar memarkirkan mobilnya di samping taman, sehingga mereka yang ada di dalam tidak melihat kedatangan nya, dia berjalan santai seperti biasa nya.
" Papa" suara Damar sangat jelas di telinga Dimas, dia kaget melihat kedatangan Damar yang tiba-tiba.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Laras dan Louise sedang ada di rumah nya, sedangkan Louise tau cuma Laras seorang lah anak dari Dimas Wijaya.
" Damar??" Dimas langsung mendekati Damar keluar, dia tidak tau apa yang akan terjadi jika putranya itu melihat Laras ada di dalam.
" Papa kenapa?? ga suka lihat Damar kemari??" tanya Damar mengerutkan keningnya.
" Papa senang nak, tapi..!!" Dimas sudah mulai gugup, ia tak bisa menahan Damar terlalu lama di luar.
" Pah, ada apa? kenapa malah di luar ayok masuk!!".
Damar berjalan santai, Dimas sudah memijat keningnya yang tidak terasa sakit, dia tau akan ada kesalahpahaman nanti.
" Kenapa harus sekarang??? astaga Tuhan!!!"
Dimas mengikuti Damar dari belakang.
" Hei bro, ngapain disini??" tanya Damar saat melihat Louise duduk di ruang tamu, Louise kaget melihat kedatangan Damar, lalu ia mendekati nya lalu bersalaman gaya anak muda sekarang, maklumlah yah gaesss anak milenium banyakan gaya.
" Aku mampir ke rumah om Dimas!!",
" Kalian saling kenal??" Dimas rasanya tak percaya, pikiran nya semakin kacau saat ini,
" ya Tuhan, jangan sampai Laras keluar dari dapur!!" batinnya lalu memegang keningnya lagi.
" Iya bro, mungkin kebetulan",
" Dunia ini rasanya sempit bro, selain itu banyak juga kejutan nya yang tak terduga!!", Louise hanya tersenyum.
Setelah Damar mengatakan itu, Laras berjalan ke meja makan, menyusun makan nya dengan rapi dan menyiapkan semuanya.
" Makanan nya siap" suara Laras begitu familiar di telinga Damar, dia mengerutkan keningnya dan mencoba mendengar kan suara itu sekali lagi, namun ia tak lagi mendengar suara itu.
" Laras???apakah dia disini?? atau aku hanya berhalusinasi??".
Dimas sudah tertunduk menatap lantai keramik di bawah kakinya.
" Ya Tuhan jangan sekarang, masalah nya nanti akan bertambah rumit" batin Dimas.
Damar mencari suara itu, ia melangkah ke dapur pelan-pelan.
" Laras???" matanya membulat, ia begitu syok melihat gadis itu tengah menyiapkan makan siang,
__ADS_1
Damar mendekati nya lalu memegang pundak nya.
" ahhhk" teriak Laras kuat.
Dimas langsung berkeringat dingin, sementara Louise langsung berlari ke dapur untuk melihat Laras.
" Laras kamu kenapa??" tanya Louise memegang tangan nya.
Laras menghapus keringat di kening nya, detak jantungnya sangat kuat hingga Louise bisa mendengar nya.
" A.aku mau pulang!!" Laras melangkah begitu cepat, tapi sayangnya tangan Damar dengan cepat menahan tangan nya.
Dimas berdiri di tepat di hadapan Laras, Louise di belakang nya dan damar di sampingnya
entah mimpi buruk apa yang ia alami kemarin, kenapa jadi seperti ini.
" Laras kenapa kamu ada disini??"
pertanyaan Damar membuat Louise mengerutkan keningnya, ia tak percaya jika Damar menanyakan hal itu, karena Laras dan Damar adalah anak dari Dimas, Louise semakin bingung.
" Lepaskan tanganku Damar!" Laras memejamkan matanya, air matanya mengalir di pipinya, sementara Dimas dan Louise hanya berdiri menatap mereka berdua.
" Apa yang sebenarnya terjadi, apakah Damar dan Laras bukan saudara kandung?? lalu kenapa Laras memanggil om Dimas sebagai daddy, lalu Damar memanggil nya papa?? apakah Laras simpanan om Dimas?? oh ya Tuhan, apakah ini mimpi buruk ku?? batin Louise.
" Lepaskan aku Damar, urusan kita sudah selesai!!".
" Urusan??" batin Louise semakin penasaran,
" Aku akan menjelaskan nya Laras, aku minta maaf, aku mengaku salah!".
" Tidak ada kata maaf bagi seorang pria pengecut damar, kau hanya memberi luka di hatiku, kau tidak tau penderitaan yang aku alami ketika kau pergi menghilang entah kemana, harapan ku sirna, semuanya hancur karena kau Damar!!" Laras menghempaskan tangannya dari Damar.
Damar kaget menggeleng melihat sikap Laras padanya, dulu Laras sangat lembut dan mudah tersenyum, tapi sekarang hanya ada amarah untuk dirinya.
" Ini memang kesalahan besar yang ku lakukan, tidak seharusnya aku meminta maaf dengan mudah, aku memberi mu luka! aku memang tidak pantas di maafkan!!".
Louise semakin bingung dengan teka-teki kehidupan Laras, ia menghela nafasnya, ia melihat ada cinta yang besar di mata Damar untuk Laras.
" Laras apa kamu kenal sama Damar??"
seketika mata Laras membulat mendengar perkataan Louise.
__ADS_1
" ya Tuhan, kenapa harus terjadi sekarang??" batinnya, ia baru sadar jika Damar, Dimas, dan Louise berdiri di dekatnya.
" Masalah apa lagi ini Tuhan!! tolong lah aku untuk menjelaskan semua ini!!".