
Marissa dan Dimas terus bertengkar karena pernikahan Dimas dan Laras yang diam-diam, Dimas juga telah membohongi dirinya.
" Mas, aku benar-benar kecewa sama kamu, bisa-bisa kamu berbohong soal Laras, kamu bilang dia sepupu kamu mas!!".
" Maafkan mas Marissa, mas juga bingung waktu itu untuk menjelaskan padamu, Laras itu adalah putri nya Lion, dia terus-menerus menyiksa Laras setiap waktu, Laras adalah kekasih nya damar tapi dia melakukan kesalahan saat mereka ketahuan di dalam kamar berduaan, Damar meninggalkan nya beberapa bulan, Lion yang tidak terima terus memarahi Laras, hingga akhirnya dia melarikan diri, aku menemukan nya di jalan seperti orang linglung, maafkan aku Marissa, harusnya aku mengatakan yang sejujurnya padamu!!".
"Apa kau sudah melakukan hubungan suami-istri dengan nya mas!??",
pertanyaan Marissa membuat Dimas emosi, tapi dia mencoba untuk tidak marah saat ini.
" Dengarkan aku Marissa, aku tidak pernah menyentuh Laras atau pun menganggap nya sebagai istri, aku sudah menganggap nya sebagai putri ku sendiri, setelah lulus sekolah Laras dan Damar akan melangsungkan pernikahan!! aku menikahinya hanya untuk menyelamatkan nya dari Lion dan suruhannya".
" Kau tidak berbohong mas??" tanya Marissa meragukan Dimas.
" Percayalah padaku Marissa!!" ucap Dimas lalu memeluk nya.
Sementara Laras masih tidur pulas di rumah Louise, jika pun ada gempa dia tidak akan terbangun karena hari ini benar-benar butuh istirahat dan ketenangan.
" Laras, bangun lah" Louise membangun nya agar segera pindah ke kamar,
tapi dia hanya asik dengan tidur lelapnya.
Louise pun menggendong tubuh gadis dan membawanya ke dalam kamar,
dia meletakkan tubuh gadis itu pelan-pelan agar tak terjaga dari tidurnya.
Saat dia memandang wajah cantik itu dalam-dalam, terdengar suara ketukan pintu dari luar yang membuatnya langsung kaget
sebelum keluar, ia terlebih dulu mengunci pintu kamar itu.
ceklek
pintu pun terbuka,
" Vani???" Louise langsung gugup melihat Vani ada di depannya sekarang,
jika Vani melihat Laras ada di dalam kamar, tidak di pungkiri Vani akan langsung mengadukan itu pada orang tua Louise.
" Kamu kok gugup gitu sih, kayak ga pernah liat aku sebelum nya!!" ucap Vani mengerutkan keningnya.
" Tidak apa-apa, mama papa tidak ada di rumah sebaiknya kamu pulang Van takutnya ada omongan dari tetangga yang ga-ga, apalagi kamu kan anak orang terpandang Van" Louise menyuruh nya pulang supaya kehadiran Laras tidak akan menambah masalah lagi.
__ADS_1
" Kamu kok gitu sih!!" ucap Vani kesal lalu duduk di sofa menyilang kan kakinya.
" Van, aku ga ngelarang kamu kesini asal ada papa mama, lagian mama juga bilang kan ke kamu kalo mereka lagi pergi 2 hari!!"
Louise tetap berusaha agar Vani bisa pergi secepat nya.
" Bising bangat sih, ya udah aku pergi!!"
Vani kesal dengan kelakuan Louise, biar Vani ingin berduaan malah di usir sama pujaan hatinya, sial banget yah kan,
Louise langsung mengunci pintu setelah Vani pergi, dia langsung masuk kamar untuk melihat keadaan Laras.
Matanya langsung membulat dan diam setelah melihat Laras sudah duduk di atas kasur,
" Louise, aku mendengar semua pembicaraan mu dengan Vani!! maafkan aku tapi aku harus pergi!!" Laras menurunkan kakinya pelan-pelan lalu melangkah mendekati pintu.
Seketika Louise langsung menarik tangan Laras untuk mencegah nya pergi, dia tidak mau Laras pergi dari sisi nya saat ini.
" Tolong jangan pergi Laras, aku bisa menjelaskan nya!!",
"Maafkan aku Louise, biarkan aku pergi!!" ucap Laras pelan, meski matanya masih sembab dia tidak peduli jika harus pulang ke rumah nya dengan keadaan seperti itu.
" Laras, tolong jangan salah paham padaku, aku melakukan ini karena...!!" seketika Louise terdiam.
" Apa???" tanya Laras mendongak ke atas untuk melihat wajah pria remaja itu.
" Aku.. aku sayang kamu!!",
Laras menjadi diam, dia tidak lagi menatap Louise, sekarang pandangan nya fokus ke lantai yang dipijak nya itu,
" Aku sayang sama kamu sejak pertandingan itu, saat pertama kali aku melihat mu main voly!!",
Louise pun duduk di samping gadis itu, Laras pun tak menjawab meski Louise terus bicara menjelaskan padanya.
" Laras!!" ucap Louise lalu mengangkat dagu laras untuk melihat dirinya,
sekarang mata mereka sudah saling mengunci, tatapan mereka menyatu satu sama lain.
" Aku mencintaimu Laras, semua yang ada pada mu, bukan hanya kebahagian mu dan juga kecantikan mu, tapi aku juga akan menerima semua permasalahan yang kau hadapi!!".
" Aku menikah Louise, aku sudah menikah!!" jawab Laras memalingkan wajahnya.
__ADS_1
" Pernikahan itu salah, om Dimas akan mengurus surat perceraian mu dengan nya Laras, karena Tante Marissa tidak akan menerima kenyataan jika om Dimas tidak menceraikan mu!!".
" Aku...!!" Laras jadi bingung,
" Jangan pikirkan tentang Damar dan om Dimas, aku ada disini bersamamu!!".
Louise menatap wajah itu dalam, hingga sedikit demi sedikit wajah nya mulai mendekati wajah Laras, tanpa Laras sadari matanya mulai terpejam perlahan seakan dia sudah tau jika Louise akan menciumnya.
Benar saja, bibir mereka sudah saling menempel, sedetik kemudian jantung Laras berdegup kencang tak karuan,
Mungkin ini adalah ciuman pertama bagi Louise, dia tidak membasahi bibir Laras, hanya menempel saja di atas bibir gadis itu.
Louise pun melepaskan ciumannya, lalu menatap wajah Laras yang sudah merona, lalu dia pun tarik nafas dan menggeleng kan kepalanya untuk menetralkan perasaan gugup nya dan perasaan yang ingin terus mencium gadis itu.
Dia pun mendekati wajah Laras lagi, dia memegang dagu Laras dan langsung mencium bibir seksi itu,
sekarang dia sudah ******* bibir itu, menghisap nya pelan, lalu sedikit menggigit nya karena gemas, Laras merasakan ciuman itu begitu lembut di bibirnya,
sehingga dia tak sengaja mendesah ketika Louise memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya.
ciuman yang sangat lembut membuat Laras terbuai dan lupa tentang semua masalah nya, Louise mendorong tubuh Laras pelan-pelan hingga tergeletak di atas kasur dan di bawah kungkungan nya.
Louise merasakan suhu panas di tubuh nya, tanpa ia sadari tangan nya berada di atas dada gadis itu, seketika ia tersadar dari kegiatan nya, ia mengerjap kan matanya dan lagi-lagi menggeleng kan kepalanya untuk menetralkan pikiran nya, karena yang dibawah sudah mulai terasa sakit dan membesar.
Sebaik apapun dirinya, jika tentang perasaan seperti itu dia juga pasti akan terbuai.
Laras duduk di samping nya setelah Louise berhenti mencium dirinya.
Laras menatap nya bingung, apa dia impoten atau apa, masa ciuman aja berhenti
bukan karena Laras adalah wanita murahan, hanya saja Louise melakukan nya penuh cinta dan kelembutan, memang salah sih karena mereka bukan lah suami-istri.
Deketika Laras menyentuh lengan Louise dan mendekat ke wajah pria remaja itu,
" Kak Louise, kenapa berhenti?? lakukan lah jika kakak mencintai Laras!!",
Kata-kata Laras seperti Sambaran petir untuk nya, dia pun tersenyum menatap wajah gadis itu, lalu memegang kedua pipi Laras dengan kedua tangan nya,
setelah itu melanjutkan kegiatan nya yang sempat terhenti
" Ya Tuhan, ini pertema kali untuk ku, ternyata sangat jauh dari imajinasi ku, Laras sungguh luar biasa!!".
__ADS_1