Cinta Untuk Laras

Cinta Untuk Laras
tidak waras


__ADS_3

Laras sudah boleh pulang ke rumahnya, dia di jemput oleh Roy dan ibunya, sedangkan ayahnya sibuk memikirkan rencana balas dendam nya, Dimas memang tidak mengenal nya, karena dulu ketika ibunya meninggal dikediaman Wijaya, Dimas tinggal di Italia bersama kakeknya, dia sekolah dan tumbuh disana, tapi cerita tentang pembantu yang tewas di rumahnya dia mengetahui itu, tapi dia tidak tau kalo itu adalah ibu dan adik Lion


Laras di bantu oleh Roy untuk keluar dari rumah sakit, sedangkan ibunya membereskan semua barang-barang nya


" Kak Roy, kenapa om Dimas tidak datang??" tanya Laras saat mereka berjalan menuju ke mobil


Roy tak punya jawaban atas pertanyaan itu, karena dirinya lah penyebab nya, Dimas tidak akan menemui Laras lagi


" Kak??" Laras membuyarkan lamunannya, Roy seketika menatap nya lalu tersenyum padanya


" Mungkin om Dimas sibuk!"


" Iya kak, mungkin!!"


Saat mereka sudah di mobil, Laras duduk di samping Roy sedangkan ibunya duduk di belakang


" Bu, kenapa ayah tidak ikut.??" Laras menoleh ke belakang, ibunya hanya diam tak ada jawaban dari bibirnya


" Laras tau Bu, ayah tidak akan mau menjemput Laras!!!" dia menghela nafas lalu menunduk


" Sudah... sudah, kakak akan memberi hadiah nanti saat kita tiba dirumah!!" Roy tersenyum sambil mengelus rambut nya


Dimas merasa kacau beberapa hari ini, dia tidak ke kantor bahkan tidak menghubungi Marissa, pikiran nya kacau karena masuk penjara, Laras sakit, dan kata-kata yang membuat dia menyesal ' tidak akan menemui Laras lagi '


dia menghembuskan nafasnya kuat-kuat, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu matanya terpejam


" Daddy...!!!" Laras memanggil nya dari depan pintu ketika dia tiba dirumah Dimas


" Laras?? kenapa kamu kesini???"


Laras mengerutkan keningnya, menatap Dimas dengan kesal soal pertanyaan nya itu


" Apa Laras ga boleh kesini lagi??" Laras duduk menyandar kepalanya


" Boleh, kenapa tidak!!"


Entah kenapa, Dimas mendekati Laras dan duduk di samping nya, Laras menatap nya keheranan sambil menaikkan kedua alisnya


Dimas mendekatkan wajahnya ke wajah Laras, hanya 1 jari jarak wajah itu


sadar atau tidak, Laras memejamkan matanya seakan ada sesuatu yang ia rasakan


Dimas menautkan bibir mereka, mencium nya dengan sangat lembut, membelai rambutnya dan memeluk pinggang nya


lidahnya mulai masuk ke dalam mulut gadis kecil itu, tangan Laras sudah memeluk leher Dimas, ada sesuatu yang Laras rasakan seperti aliran listrik di tubuhnya, dia menginginkan sesuatu yang lebih dari ciuman itu, tapi apa???

__ADS_1


tangan Dimas mulai masuk kedalam baju Laras, memegang lembut dadanya yang indah, ada ******* kecil yang keluar dari mulut gadis itu, yang membuat Dimas langsung turun ke dadanya, menikmati setiap hisapan yang ia rasakan, Laras murai mengerang, mendesah, meminta lebih dari itu


Dimas membaringkan Laras di sofa itu, lalu dia mulai turun dari dada hingga kebawah, Laras dengan gairah menggebu merespon yang diberikan oleh Dimas


mulai memasukkan lidahnya ke dalam, menjilati bagian atas lalu kebawah, masuk lalu keluar


Laras yang pertama kali merasakan itu membuat tubuhnya bergetar, semakin mendesahh, semakin merengek manja yang membuat Dimas semakin bergairah


" Daddy.." suara seraknya begitu indah di telinga Dimas


" Nikmati lah sayang, Daddy akan memberikan yang sempurna untuk mu!!"


Dimas menjilatii seluruh tubuhnya mulai dari perut hingga ke dadaanya, menyesap leher indah itu yang membuat Laras semakin mendesaah hebat


" Daddy!!" suaranya pelan dan semakin serak, mulut Dimas menempel di bagian dada sedangkan tangannya begitu liar menyentuh nya, perlahan masuk ke bawah lalu memasukkan jari tengahnya


" Ahhhhh" Laras teriak pelan, Dimas pun semakin memompa tangannya keluar masuk ke dalam


" Ahh, Daddy"


" Dimas terus memasukkan tangannya ke dalam, erangan manja itu pun semakin membuat nya bergairah, nafsuu nya sudah di ubun-ubun nya


" Boleh Daddy masukkan!!?" bisik Dimas ditelinga Laras begitu lembut


Laras hanya mengangguk, matanya begitu sayu namun indah


ketika juniornya masuk Laras mendesah kesakitan, perih, pedih meski masih di ujung


" sakit!!"


" akan Daddy lakukan pelan-pelan sayang, nikmatilah!!"


Dimas masih menggesekkan nya pelan, membuat tubuh Laras semakin bergetar, sekali lagi Dimas memasukkan nya mata Laras membola, mulutnya menganga seperti disambar petir


ada sesuatu yang pecah dibawah sana


" sakit!!"


" mendesahlah sayang, Daddy ingin menikmati semua nya, Daddy akan membuat nya sempurna untuk mu!!" satu kecupan mendarat di bibirnya


saat Dimas memompa nya lagi, dia merasa begitu sakit, juga sangat nikmat


entah apa yang lagi, tiba-tiba tangan nya seperti di goyang-goyang oleh seseorang


" Daddy.. Daddy!!" tubuh nya menggeliat dan tangannya bergerak

__ADS_1


" maaf nona Laras, ini bi Inah!!"


suara itu seperti sangat jelas di telinga nya, dia langsung mengambil selimut lalu menutupi tubuhnya


" nona Laras" sekali lagi bi Inah memanggil nya, dia pun tersadar hingga tersentak jatuh dari kasur


matanya dengan liar melihat sekeliling nya


" Jangan-jangan bi Inah melihat semuanya?, mati aku!!" bisik nya pelan


" Lihat apa nona??" bi Inah jadi bingung


" Semuanya bi, jangan bilang kak Roy Laras mohon!!"


bi Inah semakin bingung, dia menatap Laras yang memegang kakinya


" Jangan pegang kaki saya non, itu tidak pantas, jangan non!!"


Laras langsung melotot, dia tersadar hanya bi Inah yang ada disana, dia langsung melepaskan tangannya dari kaki bi Inah, dia langsung berdiri menepuk jidatnya sambil mondar mandir menahan malu pada bi Inah


" tadi yang nona katakan apa?? jangan bilang sama kak Roy?? maaf nona Laras bi Inah ga ngerti!!" bi Inah bertanya memperjelas kata-kata Laras


" Hehehe, maaf Bu Inah, Laras cuma mimpi!!" Laras menepuk-nepuk punggung bi Inah


" Aku sudah tidak waras!!"


Bi Inah mengerutkan keningnya melihat tingkah laku Laras yang cukup aneh


" Kenapa nona tidak waras?? apa nona Laras sakit??"


" Aku baik-baik saja bi, pergilah aku mau mandi!!"


Bi Inah pun keluar dari kamarnya sambil menggeleng kan kepalanya


sedangkan Laras memikirkan mimpinya, semua yang dia lakukan dengan Dimas, tanpa sadar tangan nya sudah ada di bagian sensitif nya


" Apa ini??" saat ia tersadar kalo tangan nya sudah dibawah, dia langsung berlari lalu berdiri di depan cermin


" Kenapa aku mimpi seperti itu?? ini tidak pantas, sudah tidak waras, benar-benar gila, jika Tante Marissa tau aku bisa mati!!"


Dia langsung masuk ke kamar mandi dan berendam di bathtub untuk merilekskan pikiran nya, memejamkan matanya sejenak, dia merasa Dimas ada disampingnya mencium lembut bibirnya dan memeluknya, dengan cepat ia membuka matanya lalu keluar dari bathtub, dia berdiri dibawah shower untuk membasahi seluruh tubuhnya, mencoba melupakan mimpi buruknya itu dari ingatan nya, mencoba melupakan kehadiran Dimas di samping nya


" Aku tidak mungkin mencintai Daddy, sedang kan saat ini aku merindukan Louise!!, aku tidak ingin menjadi benalu untuk semua orang, aku sudah melupakan Damar yang menyakiti hati ku, bagaimana mungkin aku mencintai Daddy yang hanya menolong ku saja?? ini kesalahan"


dia mencoba memikirkan Louise, mendongak ke atas agar wajah nya tersiram air agar menetralisir pikirkan nya tentang mimpi itu

__ADS_1


" Aku harus menemui Louise"


__ADS_2