
Dimas tiba di depan pintu kamar Laras, dia melihat tubuh gadis kecil itu sedang terbaring lemah di atas kasur.
Dimas memejamkan mata nya lalu menghembuskan nafas nya perlahan, dia ingin masuk ke dalam untuk melihat nya secara langsung, tapi ada rasa khawatir di benaknya jika Lion sampai memergoki nya,
dia menatap seisi ruangan itu, dia melihat tak seorang pun ada di dalam untuk menjaga Laras atau menemani nya hingga ia benar-benar pulih, dia membuka pintu kamar itu pelan-pelan lalu berjalan mendekati gadis itu.
Dimas menatap wajah pucat gadis itu, entah kenapa dia menghela nafasnya kuat-kuat, batinnya seakan tak rela melihat Laras berbaring lemah.
" Bangun lah Laras, Daddy disini" bisik nya pelan di telinga gadis itu, Dimas menatap nya lagi karena tak ada jawaban dari Laras.
Dimas mengusap rambut nya dengan lembut, masih juga tidak ada jawaban saat Dimas mencoba membangun kan nya, wajah Dimas tertunduk betapa hancur hatinya saat ini.
Saat dia menggenggam tangan Laras, ada respon yang diberikan kepada nya, tangan nya mulai terasa bergerak,
Dimas mengerjapkan matanya.
" Laras bangun lah!!",
mata Laras perlahan terbuka, ia melihat Dimas di samping nya,
" Bahkan dalam mimpiku pun Daddy selalu menjaga ku, bahkan lebih baik dari ayah dan kakak ku" ucap nya pelan,
" Ini bukan mimpi Laras, Daddy disini bersamamu!",
Laras mencoba menatap nya, ia takut jika kehadiran Dimas hanya lah mimpi baginya.
" Apa ini bukan mimpi??",
" Ini kenyataan Laras" Dimas tersenyum padanya,
Seketika Laras memalingkan wajahnya dari pandangan Dimas yang membuat pria dewasa itu merasa bersalah.
" Maafkan Daddy Laras, Daddy tidak menepati janji padamu!!" Dimas tertunduk menatap lantai keramik di bawah kakinya.
" Laras mau pulang ke rumah Daddy aja, Laras ga mau pulang ke rumah ayah!!" Laras merengek lalu menangis, Dimas tak tega melihatnya seperti itu.
" Daddy ga bisa berbuat apa-apa sekarang, Daddy juga ga bisa bawa Laras pulang, jika Daddy memaksakan kehendak Laras akan semakin di siksa oleh Lion!".
" Tapi...!!",
Dimas langsung menautkan jari telunjuk nya di bibir Laras,
" shhht, Daddy akan segera membawa Laras pulang, tapi Daddy mohon jangan paksakan sekarang!!" Dimas menggenggam tangan nya sangat erat.
" Daddy pulang dulu yah, besok pasti akan kesini lagi!!" Dimas mencium puncak kepala Laras dengan sangat lembut,
gadis itu merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya
saat Dimas melangkah pergi, tangan Laras memegang tangan nya dengan erat sambil menggeleng.
__ADS_1
" Jangan pergi!!",
Dimas tak sanggup mendengar yang di katakan oleh Laras, dia langsung memeluk tubuh tak berdaya itu sambil menahan agar air mata nya tidak menetes, meski begitu hancur dia harus tetap peduli dengan keadaan Laras.
Dimas melangkah keluar tanpa melihat Laras, karena jika ia melihat nya langkah nya akan terhenti dan akan kembali pada gadis lemah itu, ternyata selama Dimas ada di dalam Roy telah mendengar semuanya, dia melihat ketulusan Dimas menjaga Laras.
tapi, ada sesuatu yang membuat dia bingung dan bertanya-tanya,
" akh, aku akan menemui Dimas nanti".
Roy masuk ke dalam, di tatap nya wajah pucat itu dengan sedih, dia tau Laras hanya pura-pura tidur untuk menghindari pertemuan nya dengan kakak nya itu.
" Bangun lah adikku, kakak udah tau semuanya!!" Roy melangkah pelan-pelan lalu duduk di kursi dekat kasur tempat Laras berbaring, Laras membuka matanya yang sudah sembab karena Dimas telah pergi.
" Laras! kakak tau om Dimas menyayangi mu lebih baik dari ayah kita!".
Laras melihat kakaknya itu, seakan ada sesuatu yang tak bisa ia katakan pada siapapun.
" Tolong bawa om Dimas kembali kesini kak!!" air mata nya membasahi pipinya,
" baiklah!" Roy memegang tangan Laras erat-erat,
Murni memasang wajah kesal saat Dimas tiba di rumah nya, dia terlihat murung,
" Mas, kamu dari mana aja?? aku nunggu sampai makanan nya dingin!" wajah Murni menggerutu.
" Maaf kan aku Murni, duduklah aku lelah"
aku kasihan pada Laras Murni, bagaimana pun juga aku telah menikahinya
aku gagal menjaganya, bahkan aku ini orang pengecut
saat dia butuh seseorang untuk menemaninya, aku malah pergi meninggalkan nya
"Mas??" Murni membuyarkan lamunan Dimas
" Aku akan mengantar mu Murni, setelah itu aku istirahat!!".
" Tapi mas, makanan nya??",
" Nanti saja",
mau ga mau Murni pun menurut, dia tak berhak berlama-lama di sana, karena status mereka hanya sebagai mantan.
Setelah Dimas mengantar kan Murni pulang, dia kembali ke rumahnya,
duduk di sofa sambil memegang keningnya, pikiran nya tak pernah lepas dari Laras
mengapa aku selalu memikirkan nya?? apa karena aku menikahi nya?? atau ada hal yang tak ku sadari??.
__ADS_1
dia merasa sangat kesepian setelah Laras meninggalkan rumah itu, tapi bayangkan dari setiap senyuman nya masih tersimpan jelas di hati Dimas, dia bisa merasakan kehangatan rumah itu saat memikirkan Laras.
tok..tok...tok...
Dimas beranjak dari tempat duduknya
dia melihat seorang pria telah berdiri di depan pintu rumah nya membelakangi dirinya,
" Siapa??",
alangkah terkejut dirinya saat dia melihat ada Roy di depannya,
" Silahkan masuk!!" Dimas menyuruh nya masuk dengan ramah, Roy mengikuti nya masuk ke dalam.
" Duduklah Roy" mereka pun duduk di sofa ruang tamu.
" hemm" Roy ingin memulai pembicaraan tapi dia agak sungkan untuk bertanya,
" Ada apa Roy?? katakan saja!!",
" Begini om, aku sudah tau kalo om tadi menemui Laras di rumah sakit, aku mendengar kan semua nya sangat jelas!!",
Dimas kaget mendengar apa yang di katakan oleh Roy.
" Jangan salah paham Roy, om ke sana untuk menjenguk Laras !!".
" Hanya itu??",
alis Dimas menyatu membuat kening nya mengerut, dia bingung harus menjawab apa.
tidak mungkin om mengatakan padamu, kalo kedatangan om ke sana hanya memastikan keadaan Laras, bagaimana pun dia adalah istriku
" Om??" Roy melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh Dimas,
" Katakan saja om, ayah sedang di luar kota, om bisa menemui Laras sampai besok siang, setelah besok siang ayah akan membawanya pulang ke rumah!!".
Mata Dimas mengerjap memandang Roy, seakan dia tak percaya dengan apa yang ia dengar.
" Maafkan om Dimas Roy, karena telah menemui Laras tanpa seizin dari keluarga mu!",
" Jangan salah paham om, justru Roy kesini untuk memohon bantuan om Dimas, supaya Laras cepat sembuh" Roy tertunduk, rasanya dia gagal menjadi kakak yang harusnya melindungi adiknya.
" Jika om tidak keberatan, sekarang kita pergi ke rumah sakit!!",
Dimas masih menatap Roy keheranan.
" Demi Laras om, temui dia!!",
ucapan Roy seakan menambah luka di hati pria dewasa itu, dia memang selalu memikirkan keadaan gadis itu, tapi dia tidak menyangka kalo Roy percaya padanya.
__ADS_1
maafkan om, untuk saat ini om tidak bisa mengatakan apapun soal pernikahan itu pada mu Roy
yang om mau, Laras menjalani hidupnya nya tanpa beban seperti yang dia alami selama ini, dia seharusnya bahagia, bukan menderita