
Sementara Lion dan istrinya begitu khawatir dengan keadaan Laras, hingga tengah malam Laras juga tidak kembali.
Roy juga sudah mencari ke sana dan kemari, menghubungi Laras berkali-kali namun tidak juga ada jawaban.
" Ini semua karena Anggara!! kalau saja aku tidak mengijinkan Laras pergi dengan nya!!" Lion duduk di sofa ruang tamu di rumah nya, menghela nafasnya kuat lalu menghembuskan nya perlahan, menetralkan pikiran nya agar tidak terbawa emosi karena Laras yang belum juga pulang.
" Ayah udah lapor polisi??" tanya istrinya yang sejak tadi juga cemas, dia hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa-apa.
Anggara yang tidak menemukan Laras ada di ranjang menjadi sangat murka, dia langsung memakai pakaian nya lalu keluar mencari Laras, dengan wajah yang begitu emosi dan kepalan tangan nya kuat seakan-akan dia akan memukul siapapun yang ia lihat.
" Brengsek, berani-beraninya dia melarikan diri, jika sampai Lion menemukan nya habis sudah rencana ku!! sial!!" teriak Anggara sepanjang jalan.
Dia langsung turun ke lobi dan melihat di setiap sudut hotel, mungkin saja Laras masih di sekitar hotel bersembunyi dari dirinya.
" Jika aku menemukan mu, aku akan menghabisi mu Laras, brengsek!!" lagi-lagi dia marah-marah sendiri.
Pikiran nya kacau, jika Lion menemukan Laras hidupnya sudah pasti dalam bahaya
" Kurang ajar!!",
Dimas yang masih cemas tidak bisa fokus mengantar kan Marissa pulang ke apartemen nya, meski sudah lama berpacaran Dimas tidak mengijinkan Marrisa tinggal di rumahnya.
" Mas, kami ngapain bengong, ha??" tanya Marrisa mengerutkan keningnya, dia tidak suka jika Dimas memikirkan hal-hal yang tidak penting apa lagi memikirkan Laras.
" Tidak apa-apa, mas cuma lelah seharian di kantor banyak kerjaan!!" Dimas mencari alasan supaya Marrisa tidak lagi bertanya.
" Bagaimana jika gadis yang aku lihat adalah Laras??? pasti dia sangat membutuhkan bantuan, tapi kenapa dia bersama laki-laki???" batin Dimas.
Setelah mengantar kan Marrisa pulang, Dimas balik lagi ke hotel untuk mencari keberadaan Laras.
" Permisi pak, apakah ada gadis yang bernama Laras Nevi Lion disini??" tanya Dimas ketika dia sudah tiba di hotel.
" Tidak pak, tapi tadi keluarga Lion datang kesini untuk makan malam bersama keluarga Xean!!".
" Baik pak terimakasih!!" Dimas pun langsung menuju lift dan menekan tombol 27,
tiba di lantai 27, dia kembali ke kamar nomor 501 untuk memastikan jika Laras masih ada di sana,
namun tidak ada jawaban saat ia berulang kali mengetuk pintu itu.
Setelah melangkah meninggalkan kamar itu, tiba-tiba untuk menuju lift
damar yang baru keluar kamar melihat Dimas berjalan terburu-buru.
__ADS_1
" Pah"
Dimas langsung menolah karena ia sangat familier dengan suara Damar.
" Damar?? kamu disini juga?",
" Iya, aku suntuk di rumah pah, jadi aku nginap disini 2 hari ini!!".
" Laras mana??",
Damar bingung mendengar kan pertanyaan Dimas,
" Maksud papa apa?? aku ga tau dimana Laras!!" jawabnya mengedikan bahunya.
" Laras di bawa oleh seseorang kesini, mungkin saja dia dijebak!!".
" Dijebak ??" Damar kaget mendengar itu, dia pun ikut panik lalu berpencar mencari Laras,
saat mereka berpencar, Damar ditabrak seorang pria dan membuat dada kirinya sedikit terasa sakit.
" Maafkan aku" ucap pria itu tanpa menoleh dia pun segera pergi dari hadapan Damar.
" Apa pernah mendengar suara itu! tapi siapa?? Damar terus mencoba mengingat suara itu,
" Ahh sial siapa dia??" batin Damar yang masih memikirkan itu, lalu tiba-tiba pikiran nya tertuju pada seorang pria muda yang sering keluar masuk penjara karena kasus pornografi, Mars G.
dan tepat saja dia masuk ke kamar nomor 510 membawa seorang pria usia 40an.
" Siapa yang dia bawa kedalam kamar itu??" Damar pun mengintip dari kejauhan supaya mereka tidak curiga.
Saat Mars G keluar dari dalam kamar, selang 5 menit kemudian pria yang satu lagi membawa Laras keluar, dia menggendong tubuh mungil Laras, mata Damar langsung membola melihat nya, jantung nya berdebar tak karuan, emosi nya meluap-luap ingin menghajar pria dewasa itu,
dengan cepat Damar merogoh kantong nya untuk mengambil ponselnya, lalu menelepon papanya Dimas untuk meminta bantuan nya,
" Halo pah!",
" Iya, sekarang!!",
dengan cepat Dimas berlari mencari dimana Damar mengintai Mars G dan Laras, akhirnya dia pun menemukan nya dibalik vas bunga Gucci setinggi 2 meter.
" Pah, mereka akan membawa Laras!!" kata Damar yang masih berdiri bersama Dimas.
"Kita akan membawa nya pulang, jangan khawatir!!" ucap Dimas.
__ADS_1
Mereka terus mengikuti kemana Mars G membawa Laras, tapi langkah mereka akan sangat sulit karena banyak bodyguard menjaga Mars G dari belakang.
Damar merasa buntu, karena tidak akan mudah membawa Laras pulang.
" Pah, tunggu sebentar aku mau ke toilet!!",
" Iya, papa tunggu, cepatlah!!",
Damar pun langsung berlari, dia tidak pergi ke toilet tapi hanya sedikit menjauh dari Dimas
dia pun kembali membuka layar ponselnya lalu mencari nomor Lion, tapi nomor nya sudah tidak ada,
lalu dia mencari nama Roy, dengan detak jantung yang sangat berpacu dia berharap agar nomor Roy masih ada di ponselnya.
" Syukurlah masih ada" batinnya lalu memencet tombol hijau.
Beberapa menit kemudian Roy pun bisa dihubungi.
" Halo, siapa ini?" suara Roy sudah terdengar sangat jelas di telinga nya,
" Akuu minta tolong kak Roy, sekarang hubungi om Lion dan bawa bodyguard ke hotel, cepat!!" Damar langsung mematikan ponsel nya tanpa menjelaskan apa yang terjadi pada Roy
dia pun berlari menyusul Dimas.
Roy yang masih bingung tidak bisa mencerna apa yang di katakan oleh Damar.
Akhirnya mau tidak mau dia pun mengatakan apa yang di katakan oleh Damar pada Lion.
Dengan gerak cepat, mereka pergi menuju hotel membawa ratusan bodyguard, sebelum tiba di hotel para bodyguard itu sudah di beri aba-aba supaya tidak bertindak gegabah.
Lion sudah tidak sangat sabar untuk segera tiba di hotel, dia bahkan memarahi Roy saat mengemudi kan mobil.
Damar menghubungi Roy untuk memberi arahan jalan supaya mengikuti mereka dari belakang, Roy pun mengikuti panduan yang di katakan oleh Damar.
Bagaimana pun kekuatan Lion, jika tanpa bodyguard akan sia-sia untuk membawa Laras pulang.
" Cari Anggara, jangan sampai dia bebas berkeliaran di kota ini, aku kau membawa nya padaku hidup-hidup!! aku akan menyiksanya sampai dia ingin segera mati!!" ucap Lion saat berbicara dengan seseorang di telepon genggam.
" Cepat lah Roy, jangan sampai kita ketinggalan jauh dari Damar, aku akan menghabisi Mars G jika sampai berbuat macam-macam pada adikmu!!" Roy kaget mendengar apa yang di katakan oleh Lion.
Ternyata Lion sangat peduli pada adiknya itu
" Ternyata ayah sangat menyayangi mu Laras!!" batin Roy tersenyum lalu fokus mengikuti Damar.
__ADS_1
" Malam ini, masalah ini harus kita selesaikan Roy" ucap Lion dengan suara yang sangat tegas, rahangnya seperti menyatu menahan emosi di dalam dirinya.
" Aku tidak akan memaafkan keluarga Xean mulai dari hari ini, akan ku beri mereka pelajaran karena telah berani mengganggu Laras dengan kelicikannya" gumam Lion.