
Perbincangan kedua keluarga itu terus lanjut, Laras tidak tau harus beralasan apa untuk bisa menemui Dimas
satu-satunya cara untuk lari dari sini hanya akan terjadi jika Dimas bermurah hati membantunya.
" Hmm" Laras berdehem pelan membuat tuan Xean menghentikan perbincangan nya.
" Ada apa Laras??" tanya Xean menatap nya,
" Tidak apa-apa om, Laras cuma sedikit batuk! eehhemmmm!!!" dia mengulangi nya lagi,
Xean merasa kasihan padanya lalu menyodorkan segelas air putih padanya, dia pun mengambil nya lalu menumpahkan nya sedikit di gaun nya.
" Ya ampun!!" mata Laras langsung melihat ke ibunya.
" Kamu ga papa Laras??" tanya nyonya Xean khawatir,
" Tidak apa-apa Tante, Laras ke toilet bentar bersihin gaun, permisi!!" dia pun melangkah ke toilet sambil membawa tas tangannya.
" Laras!!!" suara Lion menghentikan langkahnya,
" Iya ayah!!" dia pun menoleh dengan sedikit gugup,
" Kenapa bawa tas tangan ke toilet??" tanya Lion menatap sambil mengerutkan keningnya,
" Ini Ayah, tissu di dalam tas ini, dibawa aja sekalian biar ga repot!!" Laras mencari alasan supaya bisa pergi dari situ dan memikirkan cara untuk kabur.
Setelah Laras menghilang dari pandangan Lion, calon tunangan Laras pun tiba di sana,
" Maaf mah, di jalan tadi macet makanya terlambat!!",
" Tidak apa-apa nak, oh ya salam dulu sama orang tua dari calon tunangan mu!!" ucap mamanya,
" Selamat malam om, Tante!!" katanya lalu mencium tangan mereka.
" Kamu memang pria yang baik, dan sangat pantas untuk Laras!!" puji Lion dengan bangga pada calon tunangan Laras.
Laras masih memegang keningnya sembari memikirkan bagaimana cara memberitahu Dimas bahwa dia juga di tempat yang sama dengan nya dan memerlukan bantuan.
" Ya Tuhan bagaimana ini??? apa ku telepon aja yah Daddy???" batinnya sambil sambil mondar-mandir, sampai dia lupa untuk membersihkan gaunnya.
" Kalau aku nelpon Daddy, pasti Tante Marissa akan mikir yang macem-macem lagi nanti, aku harus ngapain ya Tuhan,!! bantu aku!!",
dia menghela nafasnya kuat-kuat lalu menghembuskan nya, dia mencoba menetralkan pikiran nya agar tidak kaku saat bertemu dengan calon tunangan nya nanti, dari pada nyusahin Dimas lebih baik untuk kali ini di rela harus duduk bersama orang asing.
Dia melangkah keluar dari toilet setelah membersihkan gaunnya, setelah semua nya terlihat sangat rapi.
" Ayah, ibu!!" sapa Laras setelah kembali ke meja dimana orang tuanya dan keluarga Xean bicara.
" Iya nak, duduklah!!" jawab ibunya,
" Laras???" kata calon tunangan nya itu saat melihat dirinya yang hendak duduk, matanya langsung membulat melotot dan gugup, detak jantung nya berpacu kencang sehingga tangannya terasa bergetar dan juga kakinya, keringat nya mulai mengucur di malam yang dingin.
" Kak Anggara???",
__ADS_1
" Kita ketemu lagi, apa kabar???" Anggara mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Laras,
" hhm, baik kak, kakak apa kabar??" tanya Laras, jantung nya semakin berdebar dia takut jika Anggara mengatakan pada mereka tentang Dimas yang mengantar jemput nya saat dia lari dari rumahnya.
Keluarga Lion dan keluarga Xean saling memandang heran,
" Apa kalian udah saling kenal???" tanya tuan Xean mengerutkan keningnya,
" Iya lah, waktu di pertandingan antar sekolah dan...!!!".
" Kak Anggara jalan-jalan yuk, biar orang tua kita aja yang bicara!!" Laras memotong pembicaraan, takut kalo yang ada dipikiran nya di katakan oleh Anggara, bisa-bisa dia akan kena amukan Lion saat di rumah.
" Pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan Laras, jika tidak tak mungkin kau mengajakku jalan-jalan" batin Anggara,
meskipun dia tau ada sesuatu yang di sembunyikan Laras, dia tetap menemani nya jalan-jalan.
" Ayok" Anggara pun meletakkan tangan nya di pinggang supaya Laras menggandeng nya, dengan berat hati dan terpaksa Laras pun melakukan nya demi keselamatan nya nanti.
Tiba di mobil, ternyata Anggara tidak menghidupkan mesin mobil nya
dia hanya menatap Laras
tak ada di antara mereka yang bicara untuk memecah keheningan.
" Kak" Laras memberanikan diri untuk bicara terlebih dahulu supaya suasana tidak canggung.
" Iya"
" Kakak ga tau, emangnya kenapa??" tanya Anggara pura-pura,
" Soal orang tuaku yang kakak lihat sekarang, bukan yang dulu aku panggil Daddy!!" ucapnya lalu menunduk dan memejamkan matanya
Anggara hanya diam melihatnya.
" Kenapa kau berbohong dulu??" tanya Anggara padanya, dia ingin Laras jujur padanya,
" Aku... aku!!" Laras langsung diam dan air matanya menetes,
" Kau tau Laras, kakak tidak suka air mata!!" Anggara pun menghapus air matanya pelan,
" Apa kakak mau kita di jodohkan!!???" pertanyaan itu membuat Anggara semakin menatapnya.
" Aku menginginkan mu sejak dulu Laras, dan perjodohan ini adalah langkah selanjutnya untuk ku memiliki mu!!" batin Anggara.
" Kenapa kakak diam??" tanya Laras saat Anggara tidak menjawab dirinya.
" Apakah kau mencintai Louise??" tanya Anggara.
" Iya kak, aku mencintai nya, tapi aku tidak akan menjadi benalu untuk orang lain!!",
" Maksudnya??",
" Louise dan Vani di jodohkan sejak mereka masih kecil, jadi tidak mungkin orang tuanya bisa menerima ku.
__ADS_1
" Tapi aku dan orang tuaku menerima mu Laras!!".
" Aku bukan gadis yang baik untuk kak Anggara, sejak di pertandingan itu Kakak melihat ku bersama Louise setelah itu di jemput pria dewasa yang ku panggil Daddy" Laras mengatakan semua itu karena berharap Anggara akan menolak bertunangan dengannya.
" Tidak masalah Laras, aku bisa menerima masa lalu mu, karena masa lalu mu tidak penting untuk ku!!".
" Tapi kak...!!",
" Kita akan menjalani hubungan kita mulai malam ini, semua yang ada padamu adalah milikku termasuk masalah mu!!".
Kata-kata Anggara mengingat kan nya pada Louise, saat dia menangis Louise juga mengatakan hal yang sama.
" Louise!!!" gumamnya sambil memikirkan pria itu,
" Hapus air matamu, kita akan menemui orang tua kita di dalam, jangan sampai mereka berpikir yang macem-macem tentang aku, apa lagi sampai menyakiti mu!!".
Laras pun membuka pintu mobil lalu keluar, sementara Anggara masih ada di dalam.
" Kak, kenapa masih di dalam??"
" Laras, kakak mau bicara sesuatu dengan mu, masuk lah!!".
Mau ga mau Laras masuk lagi ke dalam, duduk menatap ke depan, dia menghindari untuk melihat wajah Anggara.
" Kakak mau mulai besok yang antar jemput kamu ke sekolah adalah kakak, mau kemana pun kamu ga akan kakak larang asalkan bersama kakak!!".
" Apa? ini namanya pengekangan kak, mana mungkin aku nyaman kek gini, ya Tuhan tolong aku supaya menjauh dari kak Anggara" gumamnya sambil menutup matanya
" Laras?" Anggara mendekati wajah Laras yang sedari tadi sudah tidak nyaman disampingnya, tapi dia mencoba tetap sabar dan tidak memaksa kan kehendak nya.
" Siapa cinta pertama mu?" ucapan Anggara langsung membuatnya diam
amarah dimatanya sangat jelas terlihat, bahkan rahangnya sudah mengeras.
"Laras???" sekali lagi Anggara bertanya,
" Tidak ada kak, aku pun tidak mengerti apakah aku pernah mencintai seseorang atau tidak, aku hanya ingin kedamaian dan ketenangan, karena cinta hanya membawa luka!!" ucap Laras.
Seketika Anggara tidak bergeming, dia hanya menatap ke depan dengan rahang yang mengeras.
" Kau berbohong Laras, jika sampai itu terjadi aku harus melakukan sesuatu, aku tidak akan melepaskan mu, ku pastikan semua orang yang mencintai mu perlahan akan menjauh!!" gumam nya.
" Oh ya Laras, ini kakak bawain minum dari tadi kita di sini kamu pasti haus kan!??"
dia menyodorkan sebotol minuman
Laras pun mengambil nya lalu meneguk nya sampai setengah isinya habis.
" Habiskan lah, setelah ini kita akan bermain"
gumamnya tersenyum.
" Kak kepala Laras pusing, bisa kita pergi menemui ibu??".
__ADS_1