
dengan cepat Dimas langsung mengangkat tubuh Laras dalam pelukan nya dan membawa nya masuk ke rumah sakit, Laras belum juga sadar meski sudah hampir 2 jam pingsan
" dokter..., dokter!!" teriak Dimas di lorong rumah sakit
dokter dan perawat langsung berlari menuju ke arah Dimas
" ada apa pak??" tanya si dokter
" tolong selamatkan Laras, dia jatuh dari tangga dan juga belum sadar hingga sekarang!!" Dimas sangat terlihat panik
suster membawakan bed hospital lalu Dimas membaringkan nya disana, mereka berlari dengan cepat supaya Laras cepat mendapatkan pertolongan medis
" jangan masuk pak, biarkan kami yang menangani nya!!" ucap dokter ketika mereka tiba di depan pintu ruangan dimana Laras dibawa
" tapi pak, saya....!!"
" ini sudah tugas kami pak, biarkan kami bekerja semampu kami!!" dokter itu pun tersenyum lalu meninggalkan Dimas di luar
Dimas mondar-mandir di depan ruang tunggu, dia tidak tau harus melakukan apa, bahkan ponselnya sudah berdering entah berapa kali
" halo" ucap Dimas ketika ia sadar bahwa ponselnya sudah beberapa kali berdering
" mas kamu dimana sih?? dari tadi di telepon ga di angkat!!" Marissa marah-marah ketika Dimas sudah mengangkat teleponnya
" maafkan mas Marissa, mas kebingungan sampai ga bisa berbuat apa-apa!!"
" maksud nya??"
Dimas pun akhirnya menceritakan semua yang terjadi pada Marissa, mulai dari Dimas mengantar kan Marissa ke apartemen lalu balik lagi ke hotel
" ya udah, aku ke rumah sakit sekarang!!"
Marissa yang sebenarnya sangat lembut tidak bisa mendengar jika Laras sedang di rawat di rumah sakit karena jatuh dari tangga, dia sudah terlanjur sayang pada gadis itu sebagai keponakan nya
Marissa langsung berlari menemui Dimas saat tiba di rumah sakit yang tengah duduk sendirian memegang kepala dan tertunduk, Dimas langsung memeluk Marissa karena ke khawatiran nya, sampai akhirnya dia tidak bisa memikirkan apapun lagi
" bagaimana keadaan Laras mas??" tanya Marissa saat pelukannya terlepas dari Dimas
" dokter belum juga keluar dari dalam, Laras pingsan saat terjatuh dari lantai 2!!" Dimas menghembuskan nafasnya kuat-kuat, dia terlihat seperti orang yang sangat lemah
Marissa menatap nya, melihat kesedihan Dimata Dimas
" apa ga di laporkan saja Mars G ke polisi mas???" tanya Marissa untuk mengalihkan perhatian Dimas agar tidak terlalu gelisah
" tunggu kabar dari Lion, mereka masih disana untuk mencari Roy!"
" Roy??" kening Marissa mengerut mendengar omongan Dimas
" Damar, Lion dan juga Roy kakaknya Laras ada disana, setelah Laras dibawa oleh Mars kami langsung mengikuti mereka, aku berhasil keluar dari rumah itu bersama Laras karena strategi Lion, kalo tidak kami semua mungkin masih ada disana dan Laras juga tidak akan mendapatkan pertolongan"
Marissa mengelus pundak Dimas, memberinya kekuatan dan sebisa mungkin menahan untuk tidak marah saat ini
Damar hampir mendekati mobilnya, namun seorang dari bodyguard Mars berjalan-jalan menjaga setiap sudut area rumah Mars G
__ADS_1
Damar sembunyi di balik bonsai, karena gelapnya malam sehingga bodyguard itu tidak melihat Damar, dengan langkah pelan ia pun melangkah menuju ke mobilnya
" aku harus menyelamatkan kak Roy dulu baru kami bisa meninggalkan rumah ini" batinnya
Damar sudah memasukkan tubuh Roy yang masih pingsan ke dalam mobil
" ya Tuhan, ini sungguh luar biasa" gumamnya
mengingat semua rintangan yang ia hadapi agar sampai di mobil
" om, kak Roy sudah ada di mobil" bisik Damar pelan
" heehhmmmm" Lion hanya berdehem, jika ia bicara mungkin Mars akan mencurigai mereka
Lion berjalan meninggalkan Mars yang duduk di sofa, dengan tajam mata Mars menatap ke Lion yang tidak menghormati dirinya
" berhenti kau Lion, jangan macam-macam denganku!!" ucap Mars emosi
namun Lion terus melangkah kakinya meninggalkan rumah itu, lalu saat tiba di depan pintu bodyguard nya menghalangi Lion untuk keluar
" jangan berharap bisa keluar dari ini dengan mudah!!" kata bodyguard itu tersenyum licik
" katakan pada bos mu itu, aku tidak akan takut dengan ancaman nya!!" Lion langsung menerobos keluar hingga sengaja menabrak tubuh kekar itu
Damar sudah menunggu Lion di dalam mobil, namun mobil Damar terparkir agak jauh dari halaman Mars G
" om aku menunggu di tempat yang tadi" kata Damar saat bicara dengan Lion
" baiklah"
tiba-tiba Roy mulai sadar, dia memegang kepalanya dan mencoba duduk
" sial, badanku sakit semua!!"
Damar tertawa melihat Roy yang masih pusing
Lion tiba di mobil lalu mereka pun pergi meninggalkan rumah Mars
" om, tidak apa-apa kan??" tanya Damar saat menyetir
" tidak" jawab Lion
Lion melihat kondisi Roy, tubuhnya terluka karena timpahan lemari
" kita akan ke rumah sakit!!" kata Lion
mereka pun menuju rumah sakit dimana Laras di rawat, mereka harus menempuh jarak lebih 1 jam agar tiba dirumah sakit itu
saat dokter keluar dari ruangan Laras, Dimas dan Marissa dengan cepat mendekati dokter itu
" dokter bagaimana keadaan Laras??" Dimas terlihat begitu cemas
bahkan Marissa tidak pernah melihat Dimas seperti itu
__ADS_1
" begini pak, apakah ada keluarganya disini?? saya harus bicara dengan nya!!"
Dimas semakin khawatir mendengar omongan dokter itu
" bicarakan saja pada kami dok, kami juga keluarga nya Laras!!" ucap Marissa
Dimas langsung menatap Marissa saat tunangan nya itu mengatakan mereka keluarga Laras
Marissa hanya mengangguk, lalu mereka mengikuti dokter ke ruangan pribadi nya
" begini pak, buk, Laras mengalami luka di bagian kepalanya, jika ia sadar kemungkinan dia akan kehilangan ingatan nya, tapi saya harap itu tidak terjadi!!"
Dimas menatap dokter itu seakan itu tidak lah benar, sementara Marissa hanya bisa mengelus punggung nya untuk menenangkan Dimas
Lion dan Damar sudah tiba di rumah sakit, mereka langsung membawa Roy supaya cepat dirawat, meskipun luka Roy tidak parah tetapi Lion memaksa untuk membawanya ke rumah sakit
" Laras juga butuh darah pak, saya harap keluarganya bisa segera mendonorkan darahnya, golongan darah Laras adalah AB"
" baiklah pak!!"
Dimas segera keluar bersama Marissa, dia langsung menghubungi Lion
" Halo Lion!"
" Laras membutuhkan darah secepatnya!!"
setelah perbincangan itu, Dimas mematikan ponselnya lalu pergi menuju kamar Laras bersama Marissa
Lion merenung sendiri di kursi tunggu, tiba-tiba Damar mendekati nya dan duduk disampingnya
" Damar, aku harus pergi sebentar, tolong temani Roy hingga aku kembali, Laras juga ada di rumah sakit ini, beritahu Dimas aku akan segera kembali"
" iya om"
Lion berlalu meninggalkan rumah sakit, tidak ada yang tau dia pergi kemana
" mas, apakah Laras akan melupakan semua yang pernah terjadi di hidupnya??" tanya Marissa saat mereka menatap Laras yang terbaring
" semoga saja dia tidak kenapa-kenapa, Laras anak yang baik, tapi kenapa cobaan selalu datang menghampiri nya??"
tiba-tiba pintu kamar Laras terbuka dengan kuat
ceklek
mata Marissa dan Dimas tertuju tajam pada sosok yang berdiri di depan mereka
" kau, berani sekali kau datang kemari, apa kau ingin menambah masalah?? seharusnya orang seperti kau berada di penjara seumur hidup"
" jangan marah-marah tuan, aku datang kesini dengan niat yang baik" kata nya tersenyum
" siapa dia mas??" tanya Marissa, dia tidak mengenal siapa orang yang berdiri di depan mereka
" kenalkan namaku...."
__ADS_1
" " jangan lancang kau, tidak usah bersikap sok baik disini" ucap Damar melotot dan jari telunjuk nya tertuju pada seorang di depan mereka