
Laras duduk di balkon merenung, dia memikirkan cara bertemu dengan Louise, dia sudah sangat merindukan pria itu, pria muda dan tampan si atlet bulutangkis.
tok...tok..tok...
Suara ketukan itu membuyarkan lamunannya, segera ia berlari ke pintu untuk membuka nya.
" Ada apa kak" tanya Laras saat ia melihat kakaknya berdiri di depan di pintu.
" Boleh kakak masuk??",
" Boleh dong, masa ga!!".
Laras membuka pintu itu ketika Roy masuk ke dalam, Roy duduk di balkon sementara Laras duduk di meja rias.
" Ada apa kak?? tumben kesini??" Laras bicara sambil sibuk merapikan rambut nya,
" Kakak bingung, kenapa rambut kamu ikat sedangkan rambut kakak lurus!!",
" Hahahaha, itu aja di bingung kan!!" tawanya lepas saat mendengar candaan kakaknya.
" Sekarang serius nih, ada apa??" tanya Laras menatap nya.
" Ih, apaan sih! kakak ga boleh masuk ke kamar mu? kalo gitu kakak keluar!!" Roy berdiri dengan cepat Laras menarik tangan Kakak nya.
" Merajuk nih???" Laras terkekeh melihat kakaknya kesal.
Sore ini Lion akan pergi ke luar kota selama 3 hari, ini adalah kesempatan emas bagi Laras untuk keluar rumah menemui Louise.
" Roy, saat ayah tidak ada di rumah kau yang pegang kendali untuk menjaga semua orang disini, tanpa terkecuali!" Lion menatap Roy sangat tajam.
" Jangan khawatir ayah, aku akan menjaga ibu dan Laras!!".
Lion pun pergi dengan beberapa anak buahnya, tidak ketinggian tas koper nya yang berisi puluhan map dan senjata api resmi miliknya.
Setelah Lion berlalu dari rumah, Laras memikirkan cara untuk pergi.
" Aku tidak mungkin aku bilang keluar sama Nadya bisa-bisa kak Roy curiga!" dia mondar-mandir di kamarnya sambil memegang keningnya, saat mondar-mandir ponselnya berdering, ia melihat layar ponselnya ternyata nama Daddy.
" Halo dad!"
" Laras Daddy mau bicara, bisa??",
tiba-tiba otaknya traveling ke mimpinya kemarin sore,
" Laras?? apa kamu dengar Daddy??" ia tersadar dari lamunannya.
" Iya dad, bicara apa??"
" Daddy tunggu di luar rumah kamu, ada hal yang penting!!",
" ok dad, tunggu di luar!!".
__ADS_1
Laras pun bergegas mengambil tas selempang nya lalu melirik apakah ada orang di ruang tamu atau ga, ternyata cuma bi Inah.
" Bi Inah" panggil Laras berbisik,
Bi Inah menoleh sambil menaikkan alisnya.
" Sini!!" tangan Laras bergerak memanggil Inah.
" Ada apa non??",
" Aku mau keluar bi, tolong jangan bilang siapa-siapa yah, bilang aja lagi tidur atau belajar di kamar kalo ibu atau kak Roy nyariin, kening bi Inah mengerut, dia takut jika ketahuan berbohong.
" bi Inah jangan takut, kali ini aman!!" Laras mengedipkan matanya.
" Baik non!"
" gitu dong bi, Laras pergi dulu!!" dia berlari begitu cepat untuk bisa keluar tanpa ada yang melihat.
Sampai di luar pagar, mobil Dimas sudah terparkir di sana, dia langsung lari menuju mobil itu, Dimas membuka pintunya.
" Akhirnya Laras bisa ketemu Daddy" katanya ketika sudah duduk di samping Dimas
Dimas memutar mobilnya agar segera menghindar dari Roy.
"kita mau kemana dad??" Laras mengerutkan bibirnya.
" Ke rumah Daddy!!",
" heem" Laras hanya mengangguk,
" Oh ya dad, Laras berencana menemui Louise hari ini" Laras memandang ke depan sambil terus bicara.
" Sekarang??",
" Iya, mumpung ayah di luar kota selama 3 hari ini, jadi kesempatan Laras hanya 2 hari!!".
" Nanti Daddy antar, setelah kita bicara di rumah!!".
Rupanya kepergian Lion itu hanya memastikan kejadian beberapa tahun lalu, memastikan bahwa Laras itu adalah anak dari saudara perempuan nya Dimas yang ia culik ketika terjadi kebakaran, dan ia ganti dengan mayat orang lain,
dia ingin membalas kan dendam nya karena kematian adiknya yang masih kecil, dendam nya begitu membara hingga puluhan tahun masih bisa ia rasakan.
Lion kembali ke kota itu dengan membawa rambut Laras dan juga saudara perempuan Dimas yang ia simpan selama ini dengan baik.
" Hari ini akan dimulai Dimas, api yang sudah padam akan segera menyala dan membakar semua keluarga mu, bahkan tak tersisa!!"
senyum licik di bibirnya terlihat sangat jelas, bahkan ia tidak sabar untuk segera tiba di kota itu.
" Aku sudah menunggu belasan tahun Dimas, api itu akan menyala kembali, aku sangat bersyukur kau tidak mengenal ku saat kejadian di rumah kakek mu itu, hingga sekarang masih sangat jelas di ingatan ku wajah ibu dan adikku" Lion mengepalkan tangannya menahan emosi di dirinya.
"Tuan, apa tuan mau istirahat dulu atau terus lanjut??" tanya supir pribadi Lion
__ADS_1
di belakang mereka ada beberapa mobil mengikuti mereka, itu adalah anak buah Lion yang selalu setia padanya.
" Kita istirahat sebentar, mereka mungkin sudah kelaparan!!".
" hhmm, baiklah tuan!!.
Laras duduk di sofa untuk mendengarkan apa yang di katakan Dimas padanya, lagi-lagi ketika ia memejamkan matanya, ia kembali teringat pada mimpi buruknya itu, dia langsung tersentak lalu berdiri, pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
" Ada apa dengan mu??" tanya dimas, ada yang aneh pada tingkah laku gadis itu,
" Ga papa dad, Laras cuma kelilipan, Daddy mau ngomong apa??" Laras rebahan lagi di sofa bed itu, sementara Dimas duduk di sofa yang lain sambil minum air soda.
Laras menatap Dimas yang belum bicara, ia mengerutkan alisnya dan terus menatapnya
" Apa Daddy merindukan Tante Marissa??".
Dimas langsung melihatnya, meneguk soda itu lalu menghela nafas,
" Seperti nya begitu!",
" Kapan Tante Marissa kembali??",
" Dia akan kembali beberapa Minggu lagi",
" oh sad, Daddy pasti sangat merindukan nya bukan??".
Dimas pindah ke sofa dekat Laras, seperti nya Dimas memang ingin bicara serius dengannya.
" Laras, jika masih ada kesempatan kedua, Daddy mohon berikan Damar kesempatan itu!!"
wajah Laras langsung masam mendengar nama Damar, bagaimana mungkin ia mau memberikan kesempatan pada orang yang tak berpikir dewasa?? disaat ada masalah malah lari bukannya menyelesaikan nya.
" Maaf dad, untuk saat ini Laras belum bisa, hati Laras masih terluka!!" Laras menetes kan air matanya.
" Maafkan Daddy Laras, Daddy tidak memaksa, hanya saja sekarang Damar sudah menyadari kesalahannya, dia menyesali semua nya Laras!!".
" Bahkan saat Damar minta maaf padaku atau pada ayah dan ibu, hati Laras sudah membencinya dad!!".
Dimas melihat kebencian itu dimata Laras, harapan nya pun seakan sirna untuk menyatukan mereka berdua.
" Apakah Daddy tau?? Louise bahkan sangat peduli padaku sejak pertama kali bertemu di pertandingan itu, meskipun akhirnya nanti Louise akan bersama dengan Vani, biarlah takdir yang membawa langkah kaki masing-masing!!" Laras bicara sambil menangis.
" Daddy mengerti Laras, Daddy tidak akan memaksa mu, tapi Vani siapa??? apakah dia pilihan orang tua Louise??".
" Vani itu???, sudahlah dad jangan dibahas Laras udah lupa siapa Vani!!",
Dimas tersenyum melihat kekonyolan gadis itu.
" Dad, antar kan Laras ketemu Louise, please???!!" Laras menyatukan kedua tangannya sambil mengedipkan matanya
Dimas pun tertawa melihat kecentilan gadis itu.
__ADS_1
" Baiklah tuan putri Daddy akan mengantarkan mu!!",
" hahahaha, terimakasih Tuan".