Cinta Untuk Laras

Cinta Untuk Laras
Laras Dimas


__ADS_3

Dimas berjalan sambil memikirkan siapa yang memberikan hatinya pada Laras. Tidak mungkin secepat itu ada pendonor tanpa mau memberikan identitasnya, bahkan hanya hitungan hari saja.


" Ada yang tidak beres" gumamnya. Namun ia berusaha untuk tidak mengatakan apapun sebelum Laras dioperasi hingga sadar setelah operasi.


Ia menemui Louise yang masih menunggu di depan ruangan Laras.


" Bagaimana om? Siapa yang pendonor itu?"


Dimas terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Louise. Ini adalah janji si pendonor dan janji dokter.


" Nanti saja kita bahas, sebentar lagi Laras akan di bawa ke ruangan operasi, sebaiknya beritahu pada Lion dan Roy. Tapi jangan katakan apapun pada Anjani, dia pasti sibuk dan pekerjaannya Banyak" kata Dimas. Tapi raut wajahnya jelas terlihat tidak baik-baik saja.


Namun Louise tidak bertanya apa yang sedang terjadi, ia tidak ingin memperkeruh suasana di saat Laras akan menjalani sesuatu yang membuat bertahan atau pergi selamanya.


" Kita akan melakukannya beberapa jam lagi, siapakah semuanya, jangan sampai ada yang kurang" ucap dokter itu dan kebetulan di dengar oleh Dimas. Jantungnya Senk berdetak tak karuan.


Sementara itu kondisi Mars G semakin lemah, ia harus di rawat semaksimal mungkin, jika tidak bisa saja ia akan kehilangan nyawanya. Beberapa dokter dan perawat memastikan keselamatan Mars G yang sedang berjuang. Setelah 3 jam selesai operasi ia belum juga sadar. Itu di karenakan luka yang di sebabkan oleh Anggara untuk menyelamatkan Laras.


" Bagaimana ini dok? Pasien masih belum sadar" kata perawat yang menjaga Mars G.


" Dia akan sembuh, yang penting kita tidak boleh lengah untuk memantau perkembangan nya" jawab dokter itu, meski dirinya pun merasakan ketakutan yang luar biasa.


3 jam kemudian, setelah Laras di operasi dokter keluar dari ruangan itu lalu menemui keluarga Laras yang sedang menunggunya.


" Dokter bagaimana keadaan Laras?" tanya Dimas menghampiri dokter itu.


" Operasinya berjalan lancar, semoga dia segera sadar"


" Tapi kapan?"


" Kita hanya bisa berharap dan berdoa pak, selanjutnya hanya yang kuasa lah yang menentukan"


Jawaban dokter itu membuat Dimas dan yang lainnya was-was, bagaimana jika gagal?


dokter itu langsung menuju ruangan Mars G, ia kaget melihat tidak ada reaksi yang diberikan olehnya.


Dokter itu pun tidak menyerah, ia terus memberikan yang terbaik untuk pengobatan Mars G.

__ADS_1


" Aku akan berusaha semampu ku anak muda, tidak akan kubiarkan kau mengalami hal buruk" gumam dokter itu.


Berhari-hari telah berlalu, Laras sudah bisa di jenguk oleh Dimas dan yang lain, dia sudah terlihat lebih baik dari sebelum dioperasi.


Tetapi yang paling di nantikan oleh Laras adalah kehadiran ayahnya, Lion. Namun dengan alasan yang banyak ayahnya tidak bisa datang untuk melihatnya setelah selesai operasi.


" Dimana ayah?" pertanyaan itu membuat semua orang terdiam.


" Ayah masih dalam perjalanan Laras, jika ayah sudah tiba, dia akan segera menemui mu" jawab ibunya.


Louise ternyata selalu setia menunggu nya, begitu juga dengan Dimas.


Namun, yang tidak pernah mereka duga adalah kehadiran Damar membawa seikat bunga lili, Dimas bahkan kaget melihat kehadiran putranya itu.


" Maaf, saya datang tidak mengatakan pada siapapun, saya hanya ingin menjenguk Laras, hanya itu saja" ucap Damar.


" Terimakasih sudah datang" jawab Laras. Ia sudah melupakan semua rasa sakit hatinya yang diberikan oleh Damar dulu.


Bahkan ia sudah tidak merasa terganggu lagi melihat Damar yang dulu sangat ia cintai.


" Aku sudah baik, seseorang telah bersedia mendonorkan hatinya untukku" jawab Laras tanpa bertanya siapa yang telah mendonorkan hati untuknya.


Tapi, tiba-tiba ia terdiam. Ia melihat sekelilingnya dan melihat mereka satu-persatu.


" Siapa yang mendonorkan hatinya untuk ku ibu?"


" Pendonor itu merahasiakan identitas nya Laras, kita tidak bisa menemukannya" jawab ibunya merasa sedih. Bagaimanapun juga harusnya mereka berterimakasih.


" Nanti saja kita pikirkan itu, yang penting Laras sudah pulih dan sebentar lagi akan pulang" kata Roy.


Melihat Damar memperlakukan Laras sangat romantis, ada sesuatu yang menggores hati Louise, bukan karena iri, tapi Damar selalu mengambil keuntungan dari apapun.


" Licik sekali kau Damar, sifat mu sangat berbeda dari ayahmu, jangan-jangan kau bukanlah anaknya" gumam Louise.


Mereka sudah menyiapkan semuanya untuk membawa Laras pulang.


Meskipun kondisinya masih belum pulih 100% namun Laras terus merengek agar segera dibawa pulang.

__ADS_1


" Lega sekali rasanya akhirnya bisa pulang ke rumah" kata Laras saat Louise mendorong kursi roda Laras.


" Iya syukurlah, akhirnya perjuangan yang sulit itu bisa di lalui"


" Itu semua karena dirimu juga, yang selalu ada buat aku, maafkan aku selalu membuat mu susah" kata Laras lalu ia memegang tangan Louise.


Entah kenapa, setelah selesai operasi Laras bersikap semakin dewasa.


Dari cara bicaranya hingga kelakuannya berubah. Ia lebih bisa menghormati orang lain.


" Aku jadi GeEr" jawab Louise malu-malu. Wajah tampannya itu terlihat merona karena rayuan Laras yang membuat jantungnya dag dig dug.


Laras diangkat Dimas agar masuk ke dalam mobil. Laras akan di bawa pulang ke rumahnya, karena bagaimanapun saat ini Laras masih istrinya.


" Daddy, pelan-pelan" kata Laras saat ia akan masuk ke dalam mobil. Ia takut jika luka di bagian perutnya akan terasa sakit.


" Daddy tidak akan membiarkan mu terluka Laras" jawab Dimas lalu mengecup keningnya. Laras pun merasa sangat damai bersama dengan Dimas.


Louise, Laras, ibunya berada di dalam mobil yang sama. Sementara Roy sendirian menyetir mobil, karena ia masih ada urusan diluar yang harus ia selesaikan.


" Akhirnya Laras bisa tidur dirumah lagi" katanya sambil tertawa, ibunya bahkan sampai meneteskan air matanya karena melihat lagi senyuman Laras. Sebelumnya ibunya sangat ketakutan jikalau operasinya gagal. Siang malam ia tidak tidur nyenyak hanya karena memikirkan putri bungsunya meski tidak lahir dari rahimnya.


" Iya nak, semuanya akan baik-baik saja, yang penting kamu jaga kesehatan jaga makan, jangan sembarangan makan" kata ibunya lalu mengelus rambutnya.


" Baik buk"


Dimas tidak banyak bicara, ia hanya fokus menyetir agar mobilnya tidak masuk lubang yang akan menyebabkan Laras merasa kesakitan


" Sebentar lagi kita akan tiba, Daddy harap setelah ini tidak ada lagi yang membuat kekhawatiran, apalagi kamu Laras"


" Maafkan Laras dad, entah kenapa semua ini bisa terjadi, semua masalah bertubi-tubi, untung aja Laras masih kuat menghadapi semuanya" jawabnya tersenyum.


Tapi ibunya masih sangat sedih, jika tidak ada orang yang menolongnya bisa dipastikan mereka akan kehilangan Laras, cepat atau lambat.


" Semoga cobaan ini tidak menimpa Laras, lebih baik aku yang menderita daripada anakku, aku tidak sanggup jika harus kehilangan Laras. Laras adalah kekuatanku, dia yang membuat aku kuat sampai hari ini" ibunya pun mengenang masa kecil Laras, yang seringkali di marahi oleh ayahnya.


Sering kali menangis Karena menjadi pelampiasan kemarahan ayahnya yang berambisi membalas dendam.

__ADS_1


__ADS_2