
" Tuan Dimas, tetap saja tindakan yang kau lakukan itu salah, apa lagi tidak ada ikatan di antara kalian berdua, lagi pula Laras masih terbilang remaja saat ini"
" Saya mengerti pak, tapi ada hal yang tak harus di ungkapkan pada orang lain, jika Anda diposisi saya, maka anda akan melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan!!"
Saat Dimas mencoba membela diri di hadapan mereka, Lion tentu nya tidak akan senang mendengar itu, jika dia merasa sudah tersudut kan, maka segera dia meluncurkan rencana yang lain
" Maaf tuan Dimas, anda tetap bersalah dan harus di hukum karena telah membawa Laras bersama anda!!"
Mendengar itu, Dimas hanya menunduk diam, tak ada kata bantahan yang keluar dari mulutnya, meski Laras terus memberi pembelaan terhadap nya, Lion akan terus membuat Dimas dalam masalah mengingat usia Laras yang masih remaja, itulah salah satu senjata Lion
" Sampai pengacara anda datang, anda akan tetap kami tahan!!" kata polisi itu lalu menggembok jeruji besi itu dari luar
Laras sungguh tak tega melihat Dimas sudah berada di dalam jeruji, dia menangis tak berdaya karena sekarang orang yang melindungi sudah tidak bisa menjaga nya sepanjang waktu
Terlebih yang ia pikirkan adalah penyiksaan ayah nya sendiri ketika ayahnya membawa nya pulang ke rumah
" Dad, kenapa jadi seperti ini??? kapan kita akan terbebas dari semua masalah ini???"
Dimas mengelus rambut Laras, meski dirinya berada di dalam, tapi tangannya masih bisa memberikan semangat pada gadis itu
" Daddy akan tidur disini sampai pengacara Daddy besok pagi tiba!!"
Laras sangat berharap hari ini akan segera berakhir, dia ingin Dimas segera keluar dari kamar terkutuk itu
" Hahahaha, bagaimana Dimas Wijaya?? apakah ini masih kurang untukmu??" suara dan hentakan kaki terdengar beriringan, Dimas hanya menatap nya tanpa membalas semua penghinaan yang Lion katakan padanya
" Ayah, tolong bebaskan dad....!!" mulut Laras langsung bungkam, hampir saja dia menyebut Dimas sebagai daddy
" Siapa yang kau katakan Laras???" suara Lion terdengar kuat membuat gadis itu gemetaran
" Lion, kau bisa membunuh ku sekarang, jika itu bisa membuat merasa puas, tapi jangan pada Laras!! putraku sangat mencintai putri mu!!"
Mata bulat melotot Lion tertuju tajam pada wajah Dimas
dia ingin sekali menghajar Dimas saat ini juga, tapi tidak!!! ini kantor polisi
" Laras, ayok pulang ke rumah ayah menunggu mu di mobil, jangan sampai kau berbuat macam-macam atau keluarga Wijaya akan mendapatkan serengan yang tak mereka duga!!" Lion pun pergi menuju mobil, disana bodyguard dan beberapa orang lainnya menunggu Lion dan Laras
__ADS_1
" Dad, Laras harus bagaimana???" deraian air mata nya membasahi pipinya, dia tersungkur ke lantai, serasa tak sanggup untuk hidup lagi, membayangkan pulang ke rumah itu adalah mimpi buruk nya, tapi itu akan segera terjadi
" Jangan menangis yah, Daddy akan segera keluar dari sini!!, pergilah jangan sampai Lion marah padamu!!" Dimas menghapus air matanya yang masih menetes di pipinya.
Laras mencoba bangkit di bantu oleh Dimas, kesedihan di wajah gadis itu sangat jelas terlihat
" Pergilah Laras" Dimas masih tersenyum padanya, tak nampak kesedihan sedikit pun di dirinya saat ini
" Tapi dad!!"
" Shhuuuttt!!!, jangan menangis!!" Dimas mengangguk kan kepalanya pertanda menyuruh Laras harus pergi
Laras mencoba melangkah pelan-pelan meski ia terus menggenggam tangan pria dewasa itu, sampai akhirnya tangan mereka harus terlepas karena penghalang diantara mereka, Laras berjalan dan masih menengok kebelakang, Dimas masih terus tersenyum pada dirinya, sampai bayangan Laras pun hilang dari pandangan nya, rasa tegar yang ia tunjukkan pada Laras hilang entah kemana, dirinya seakan tak kuat untuk berdiri menopang tubuhnya yang masih kekar, air matanya menetes dari pelupuk matanya
" Maaf kan Daddy Laras, Daddy tidak menepati janji Daddy untuk menjaga mu!!" dia masih terus menangis seperti orang yang sudah putus asa
" Dimas Wijaya, apakah ada kerabat yang bisa menjamin Anda sebelum pengacara anda datang???" tanya polisi itu setelah 4 jam berada di dalam kamar terkutuk
" Ada pak!!"
" Cepat hubungi dia, atau kamu akan selamanya di sini sampai membusuk!!" ucap polisi itu
dia takut mengecewakan putranya itu, karena selama ini Dimas adalah kebanggaan Damar yang tak pernah tercatat dalam masalah apapun
" Masuk, cepat!! anak tidak tau diri!!" suara Lion membuat Laras menggigil ketakutan
Plakkk...
tamparan keras mendarat di pipi nya yang masih basah dengan air mata
sekali lagi Lion akan mendarat kan tamparan nya, kali ini berhasil di tepis oleh Roy
" Apa yang ayah lakukan??? apakah ini adalah kepuasan yang ayah inginkan??? menghukum Laras seperti ini bukanlah sesuatu yang membanggakan ayah!!" wajah Roy merah menahan emosi, ia tak tega adiknya itu di pukuli oleh ayahnya
Lion memasang wajah bringas ketika Roy memeluk adiknya itu
tangisan Laras pecah di dada Roy, kakak nya itu merasakan kepedihan ketika adiknya menangis, terdengar suara yang pelan dan sangat miris jika semakin di dengarkan
__ADS_1
Roy membawa adiknya itu ke dalam kamar, dia terus memeluk nya dengan kasih sayang
" Kurung dia di kamar, jangan ada siapapun yang berani membuka pintu itu, mengerti!!?" kata-kata Lion itu seperti kutukan ditelinga gadis itu
Sampai dikamar, Roy membiarkan Laras duduk di bibir kasur masih dengan Isak tangis nya, Roy yang tak tega berlutut di depan adiknya itu sambil memegang kedua tangan nya
" Katakan pada kakak, apa yang terjadi 2 bulan ini" Roy membujuknya dengan lembut, Laras masih bungkam soal pernikahan nya dengan Dimas
" Laras, adikku!! percayalah pada kakak!!" Roy masih berlutut di lantai
" Kak, tak ada yang terjadi, tapi selama aku di rumah om Dimas, dia memperlakukan ku seperti anak kandung nya sendiri, dia menyayangi ku setulus hatinya, menjaga dan membuat kan sarapan layaknya orang tua" tanpa sadar ia teringat pada Dimas
" Aku tau disana Daddy pasti kesepian dan terluka!!" gumamnya menghapus air mata nya.
Mendengar omongan Laras, Roy merasa sedih karena ayah mereka tak pernah melakukan hal itu pada adiknya itu bahkan sejak dari kecil
Tiba-tiba Laras menghapus air matanya dan berhenti menangis, ia lalu mendekati kakaknya itu
" Ada apa Laras??" Roy mengerutkan keningnya
" Kak, bantu Laras membebaskan om Dimas, meskipun Laras harus terkurung disini selamanya, Laras ikhlas!!"
" Maafkan kak Roy adikku, kakak ga bisa melakukan itu!"
Laras melepaskan tangannya dari Roy, dia kecewa, benar-benar kecewa, tak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk membebaskan Dimas
" Pergilah kak, Laras ingin sendiri!!" kata Laras membelakangi kakaknya
Roy pun pergi, berlama-lama disana akan semakin membuat Laras kecewa karena dia tak bisa membantu nya
" Apa aku menelpon Damar??" kedua alis gadis itu menyatu karena memikirkan siapa yang akan membantu Dimas
Laras mondar-mandir di kamarnya seperti orang gila
" Ha???" otak nya teringat pada seseorang yang sangat dekat dengan Dimas, Tante Marissa
Laras mencari ponselnya lalu mencari kontak Tante Marissa, tapi sayang sekali dia baru ingat kalau Marissa saat ini ada di luar negeri untuk urusan pekerjaan nya
__ADS_1
karena usahanya sia-sia, dia pun menangis di lantai sekencang kencangnya hingga lelah dan terlelap