
"oh? jadi maksudnya.. jika mereka buka suara, aku masih punya kesempatan untuk menolak? " tanya zames dengan suara khasnya menatap pasha dengan wajah dinginya
"tentu saja! "saut pasha dengan santainya mengambil minuman anggurnya dan meminumnya hingga tandas sehinga diirinya pun dengan sengaja mejilat lidahnya dengan sedikit nakal menatap istrinya itu, yang membuat Jenifer pun yang melihat dan memperhatikan ekpresi pasha itu sangat terpesona yang sudah memegang dadanya yang sudah semu merah dipipinya , sama halnya dengan alena yang sudah amat cemas melihat tatapan suaminya itu yang seperti moster diranjang
"dasar penjahat ini!.. (batin alena) yang sudah menahan rasa kesalnya
beberapa menit kemudian...
mereka pun saling lempar senyuman dan pembicara ngaler kidul Sana sini, yang membuat zames pun sedikit mengeluh dengan wajah diamnya sembari memegang minumannya
"belakangan ini aku sangat Lelah, aku ingin pergi berlibur .. " ujar zames dengan suara pelannya pada asistenya itu yang sudah berdiri di belakangan tuannya yang membuat asistenya itu pun sudah tahu dan paham maksud tuannya itu
"baik, aku mengerti tuan! " saut asistenya itu yang sudah menganggukan kepalanya
"kalau begitu , janji melihat sekenarionya bersama dengan nona alena terpaksa dibatalkan, kami minta maaf! " ujar asistenya itu yang sudah memberitahukan keluhan tuannya itu, yang membuat alena pun mengerti apa maksud dari ucapan zames pada asistenya itu
"tidak masalah, kalau begitu kita akan membahasnya setelah tuan zames selesai istirahat! "saut alena yang sudah tersenyum ramah menatap asistenya itu
beberapa jam kemudian..
__ADS_1
alena dan Nana pun akhirnya bisa beralasan untuk pergi ketoliet dengan nafas lega nya yang sudah berjalan meninggalkan sekelompok orang kaya yang didalam Sana yang penuh penekanan
tak.. tak.. tak...
"alena bagaimana kalau kita pergi saja? aku merasa tertekan ketika bersama mereka, aku hampir tak bisa bernafas ,bagaimana kalau kita pergi diam-diam, lagi pula tidak ada yang memperhatikan kita? " saran Nana pada sahabatnya itu dengan suara pelannya yang sama satu pemikiran yang membuat alena pun mengiyakan apa yang dikatakan Nana barusan
"baik, aku juga merasa begitu.. " saut alena sembari menganggukan kepalanya
tak.. tak.. tak..
dengan cepat mereka pun berjalan keluar yang sangat tergesa-gesa , termasuk alena yang sudah sangat kecewa pada suaminya itu
"misi malam ini dihancurkan oleh bos sendiri sekaligus suamiku diatas kertas, jadi dia tidak bisa menyalahkan kami,untung saja aku sudah tinggalkan pesan singkat padanya , bila aku ada masalah jadi aku pulang duluan.. (batin alena) yang terus berjalan menuju gerbang namun dengan tiba-tiba seseorang pun berteriak sehingga mereka pun berhenti dan menoleh mendengar suara itu berasal
tak... tak.. tak..
" suara itu? "saut Nana dengan suara pelannya melihat sosok laki-laki yang sudah berjalan menghampiri sahabatnya itu , yang membuat alena pun sangat terkejut melihat tingkah laki-laki itu yang sudah menghampiri dirinya dengan wajah bengongnya
yang membuat dengan sontak Simon pun menyentuh bekas luka dijidat wanita itu dengan wajah penasaranya
__ADS_1
"emm?ini.. (batin Simon) yang sudah menampakan wajah dinginya , yang membuat alena pun langsung menepis tangan laki-laki dari kepalanya yang langsung beranjak mundur dengan wajah waspadanya
"karena tidak bisa mengundang tuan zames bit, itu berarti tugas kami sudah selesai, tolong sampaikan pesanku kepada mereka , mungkin lain waktu kita bisa berkumpul bila ada kesempatan lagi! "ujar alena yang sudah menampakan wajah sedikit kewaspadaan menatap laki-laki itu
"ckk.. lain waktu? kau sungguh percaya diri sekali , merasa akan ada kesempatan lagi? " sindir Simon dengan tatapan dinginya , yang membuat alena pun membalikan tubuhnya dan menarik tangan sahabatnya itu untuk beranjak pergi
"Nana sebaiknya ayo cepat, kita harus pergi dari sini? " pinta alena dengan wajah cemasnya mengabaikan laki-laki itu yang masih berdiri dibelakangnya, yang membuat Simon pun dengan cepat langsung memegang pingang wanita itu didekapanya
"apa aku sudah menyuruh mu pergi! "ujar Simon dengan suara khasnya menatap wanita itu dengan rasa kesalnya yang sudah memegang tangan sebelah kanannya yang membuat alena pun sangat terkejut bukan main melihat tingkah laki-laki itu padanya
"kau! lepaskan aku! " triak alena dengan cepat langsung membalikan tubuhnya dan mendorong tubuh laki-laki itu sekuat tenaganya dengan wajah kesalnya
"apa kalian semuanya merasa sangat kaya jadi bisa menganggap perempuan sebagai mainan! apa dia tidak waras!.. (batin alena) yang sudah menampakan wajah Marahnya , namun dengan cepat Nana pun langsung menghadang laki-laki itu didepanya dengan wajah emosinya
"apa yang kau ingin lakukan hah? acara ini bukan diadakan olehmu dan kau juga tidak ada hak memutuskan untuk tinggal atau perginya tamu, kan? " triak Nana dengan suara kerasnya menatap laki-laki itu yang sudah ada didepan matanya
"aku bisa membantu memujuk zames bit, agar dia bisa ikut syuting filmmu? " saran Simon dengan tatapan dinginya menatap mereka berdua, yang membuat alena pun terdiam sejenak dengan pikiranya itu
"mungkin dia memang bisa membantu, hanya saja... pasti ada persyaratan dibaliknya?.. (batin alena) dengan rasa curiganya menatap dengan sedikit penasaranya
__ADS_1
"aku bisa membantumu, melakukan hal yang ingin kau lakukan , asalkan kau... meninggalkan pasha Abrahamic! " pinta Simon dengan suara tegasnya menatap alena dengan wajah seriusnya, yang membuat alena pun sangat terkejut 2kali lipat dengan mata melototnya
"apa!?..