
"kak pasha.. kak pasha, jangan menindas kak alena dia sahabatku ! " triak Natasha dengan wajah panik dan protesnya yang membuat zames pun langsung menggendong tubuh adiknya dari pangkuannya dan berjalan pergi meninggalkan mereka berdua didalam kamarnya
"sudahlah , Natasha, kakek sudah mencarimu sebaiknya kita pergi kesana! " bujuk zames kepada adiknya iTu yang terus berjalan keluar sembari menutup pintunya dengan kasar
brakkk.... (suara pintu)
"kak, kenapa kakak tidak menghentikannya? apa kakak sengaja membawaku pergi karena ingin membiarkan kak pasha menindas kak alena 'kan? " tanya Natasha dengan polosnya sembari melihat pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat
"tentu saja bukan! " saut zames singkat sembari berjalan menuju ruangan lain
"kakak , apa kau tahu aku ingin sekali kak alena menjadi kakak iparku ! " pinta alena yang memberitahukan keinginannya iTu
__ADS_1
"bukankah aku sudah bilang , aku tidak akan menikah selama hidupku, aku tidak akan memiliki istri, dan tidak akan memiliki anak! " saut zames dengan suara tegasnya memberitahukan kepada adiknya yang masih digedong dari pangkuannya
"tidak mungkin, orang dewasa pastinya akan menikah dan memiliki anak, dan juga memiliki keluarga utuh , kakak jangan terlalu polos , kau harus berlajar jadi orang yang dewasa ! " protes Natasha dengan wajah seriusnya menasehati kakaknya , yang membuat zames pun yang mendengar iTu ketawa meledek
"hahahaha... adik kecil, kau lebih tua 10 tahun darimu , dan aku juga tidak akan menikah seumur hidupku karena ingin menjaga dirimu! " ujar zames dengan suara renyahnya yang terus berjalan sembari menggedong adiknya yang tak mau diam dari pangkuannya
"huh, aku tidak perduli , jika kakak alena ditidas , maka iTu adalah kesalahanmu kak! " bentak Natasha dengan wajah marah dan kesalnya kepada kakaknya, yang membuat zames pun tak bisa berkata apa-apa lagi hanya bisa terdiam lurus dengan pikiranya entah iTu apa hanya dia yang tahu
dan didalam kamar saat ini alena sungguh sangat ketakutan melihat suaminya yang sudah duduk disamping dirinya dengan tatapan liciknya yang sudah memegang dan membelai puncuk rambut alena dengan lembutnya
"aku tidak mau! " tolak alena dengan rasa keberanianya menolak keinginan suaminya iTu
__ADS_1
"jangan beri dia kesempatan kepadanya alena,hanya karena ingin menindasku dan menyiksaku sesukanya , atas dasar apa dia melakukannya ? .. (batin alena) yang masih kuat dengan pendiriannya, yang membuat pasha pun langsung mendekatkan tubuhnya dan menatap alena yang begitu lekat
"apa kau bilang, kau tidak mau? seharusnya kau tahu apa akibatnya jika kau tidak mengikutiku bukan! " saut pasha dengan suara khasnya langsung mendorong tubuh alena kebelakang yang membuat alena pun terkejut dengan mata melototnya yang sudah terbaring diatas ranjang dengan kedua tangannya menjaga tubuhnya didadanya yang begitu erat
"jangan coba mengancamku dengan hal semacam iTu, jika mengenai hutang , maka aku akan mengembalikannya kepadamu sampai lunas , dan aku tidak akan membiarkan diriku ditidas seenaknya oleh mu, dan menginjak -nginjak harga diriku , apa hubungannya denganku jika kau ingin menyenangkan perempuan lain? jangan pernah kau Memamfaatkanku hanya untuk menyelesaikan masalah kalian ! " bentak alena dengan rasa marahnya memberitahukan unek-uneknya kepada suaminya yang sudah diatas tubuhnya dengan tatapan kesalnya , dan pasha pun yang mendengar keluhan alena kepadanya tersenyum kecil
"ehmm.. ucapanmu ini, aku anggap kau sedang cemburu padaku, benarkah bukan seperti iTu? " saut pasha dengan rasa tak sabarnya langsung menarik tubuh alena dari dekapannya yang membuat alena pun sangat terkejut
"ahh!..
"cemburu apa nya? justru aku ingin menghindar jauh darinya , apa otakku masih berpungsi dengan baik 'kan? . . (batin alena) yang sudah menampakan wajah kesalnya
__ADS_1
"jangan menyentuhku aku akan mengembalikan uangmu! " pinta alena yang sudah was-wasnya melihat dirinya yang sudah ada di pangkuan suaminya saat ini yang begitu erat
"4 triliun, bagaimana kau akan mengembalikannya? apa jangan-jangan kau akan meminta bantuan Simon melunasi hutangmu? " tanya pasha dengan rasa kesalnya menatap alena yang sudah membelai pipi dan bibir mungkil istrinya dengan liciknya