DIA MILIKKU.

DIA MILIKKU.
24


__ADS_3

mendengar ucapan Nevan yang begitu dewasa dan bijak membuat Kinan yang tadinya menatap sinis menjadi luluh,


"wahhh Kaka Nevan ternyata berhati baik tapi kakak sendiri belum menjawab pertanyaan Kinan dari tadi ,siapa Kaka Nevan ini sebenarnya"ucap Kinan , sebenarnya ia hanya mencari alasan untuk tidak membuat papanya semakin bersedih .


"semoga cara ini dapat mengalihkan perbincangan yang hanya akan berakhir dengan air mata"batin Kinan.


melihat kebingungan dari pertanyaan Kinan akhirnya Mona menjawab pertanyaan Kinan.


"Kinan sayang nak Nevan ini adalah keponakan papa kamu dan ayahnya Nevan adalah adik papa kamu sekaligus orang kepercayaan papa kamu" ucap Mona.


"kinan ya jelas aja kamu baru melihat Kaka Nevan ,Kaka Nevan kan lama di luar negri ,oiya Nevan kapan kamu datang dari luar negri"ucap Wirata sambungnya setelah berbicara kepada kinan.


"seminggu yang lalu om,"jawab Nevan.


"oiya Nevan tadi kamu bilang ada yang harus saya tanda tangani,memang berkas apa yang harus di tanda tangani".


"oiya om Nevan Sampek lupa,begini om ini berkas yang harus om tanda tangani,ini adalah berkas pengesahan perusahan cabang yang akan zayen dirikan di Australia,dan pihak yang bekerja sama tidak mau menyutujui pengesahan tersebut Jika tidak ada tanda tangan dari CEO Wirata grub karena beberapa di antara mereka tau dan mengenal zayen sebagai putra om Wirata"ucap Nevan menjelaskan alasan mengapa ia harus meminta tanda tangan Wirata ayah kandung zayen.wirata hanya tersenyum dan langsung menandatangani berkas tersebut.


setelah beberapa jam berada di kediaman Wirata Nevan Sampek tidak sadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam akhirnya Nevan berpamitan pada wirata dan Mona serta Kinan .


Nevan bangkit dari tempat duduknya namun ketika Nevan ingin melangkah keluar ,langkah Nevan terhenti oleh suara Wirata.

__ADS_1


"Nevan tunggu"ucap Wirata.


"ya om "sambil membalikkan badannya menghadap Wirata kembali.


Wirata bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Nevan.


"bisa kita bicara di luar sebentar sebelum kamu pergi??"tawar Wirata Nevan hanya membalasnya dengan anggukan.kemudian mereka pun keluar.


Mona yang paham bahwa apa yang ingin di bicarakan suaminya itu merupakan hal yang serius yang mana tidak boleh satupun orang mengetahui nya jadi Mona tak menganggap pusing ,sedang kan Kinan ia merasa curiga hal apa yang membuat papanya ingin berbicara empat mata sampai tak mengizinkan dirinya tau.


"ma,mama tau gak kira-kira apa ya yang akan papa bicarakan Sampek segitunya" tanya kinan penasaran.


"entah lah,mama pun tidak tau ,mungkin ingin membahas tentang perusahaan."kemudian Mona pergi meninggalkan Kinan yang masih menatap kearah luar.


Wirata mengajak Nevan duduk di bangku halaman ,Nevan mulai merasa heran sebenarnya apa yang ingin di sampaikan pada diri nya,


"Nevan om ada satu permintaan ,dan om harap kamu bisa memenuhinya" sambil menatap penuh harap.


"me-mangnya om mau minta permintaan apa sama Nevan" tanya nya dengan hati yang berkecamuk karena menurut Nevan ini adalah permintaan yang begitu berat buat dirinya,tapi Nevan sendiri belum tau apa maksud dari omongan Wirata.


"om ingin kamu bantu om agar bisa menepati amanah Nia yang di titipkan ke om sebelum dia meninggal "ucap wirata mengenang sang istri ,Nia adalah mama zayen yang meninggal saat zayen berusia 4 tahun.

__ADS_1


"maaf om Nevan semakin bingung ,memangnya apa yang Tante Nia amanahkan ke om" tanya Nevan semakin bertambah bingung .


"Nia memiliki sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perindustrian dan dia ingin perusahaan nya tersebut dapat berkembang dan terus maju walaupun ia sudah tiada,tapi Nia ingin zayen yang meneruskan itu semua kalau zayen menikah sebelum usia ke tiga puluh"


"menikah om??loh bukannya perusahaan itu memang zayen Sekarang lagi mengelola ya om??kalau gak salah perusahaan itu yang saat ini zayen kembangkan kan??"


"ya kamu benar tapi perusahaan itu belum sepenuhnya mutlak milik zayen karena 99 persennya itu masih atas nama om,dan om akan berikan jika zayen menikah" ucap Wirata sambil menatap Nevan.


"kenapa harus menikah om memangnya tidak ada cara lain selain menikah,maaf ni om nevan bukannya lancang tapi Nevan gak berani kalau zayen tau hal ini"


"om paham maka dari itu om memberikan amanah ini padamu, karena selain ayahmu dan dirimu tidak ada yang lain lagi untuk om percaya mendampingi zayen"


"tapi om,Nevan bukannya gak mau untuk menyampaikan amanah ini,akan tetapi Nevan tidak mau melihat kemarahan Nevan yang susah sekali di kendalikan" ucap Nevan meyakini Wirata agar tidak memaksa diri nya untuk melanjutkan permintaan yang membuat Nevan sendiri susah untuk membayangkannya.


"Nevan om percaya kamu bisa ,begini saja tolong sampaikan surat ini kepada ZAYEN setelah itu tolong kamu kasi tau om apa reaksinya , kamu mengerti" ucap Wirata sambil menyodorkan sebuah gulungan kertas yang berwarna puti yang sudah Wirata siapkan sebelum Wirata menemui Nevan.


"apa ini om??"sambil menerima gulungan kertas putih tersebut.


"itu adalah surat yang Nia tulis sebelum ia meninggal dan Nia memberikan nya pada om" ucap Wirata lirih .


"baik om Nevan akan usahakan ,Nevan akan membantu agar amanah Tante Nia dapat di selesaikan" ucap Nevan meyakinkan.

__ADS_1


Wirata yang melihat kesungguhan Nevan langsung memeluk Nevan dan Nevan pun membalas pelukannya.


setelah lama berbincang-bincang akhirnya Nevan pun berpamitan untuk pulang .


__ADS_2