
Dibelahan negara lain dimana seorang remaja masih terjaga dari tidurnya jari jemarinya begitu cekatan memainkan permainan game hingga waktu sudah menunjukan pukul 12 malam.
''Game over''
''Yes akhirnya aku menang''serunya dengan nada bersemangat
Ia sudah memainkan begitu banyak permainan game mulai dari yang termudah hingga tersulit sekalipun ia coba dan menjadikan dirinya pemain gramers profesional secara individu bukan secara kelompok karena dia belum mendirikan kelompok sendiri
''Huahemm...aku sudah mengantuk saatnya tidur jika tidak telingaku besok pagi akan panjang''pikirnya
Ia tidak mau mendapat jeweran ditelinga lagi setiap ia bangun terlambat untuk pergi kesekolah
Keesokan pagi nya rutinitas sarapan pagi selalu diwarnai drama bagi ayah dan anak yang selalu berebut perhatian ibunya.
Hingga membuat sang ibu pusing kepala
''Sudah waktunya berangkat sekolah ayo cepat jangan sampai telat okey''ujar Friya tak lupa mendaratkan ciuman dikenang sang putra
''Hishh...kenapa hanya putramu yang mendapat kecupan aku juga mau''protes Juan
''Ohh ya tuhan sayang bukankah seharusnya kau malu ada putramu yang melihat nya ''bisik Friya memaksa tersenyum
Juan yang mengerti langsung berkata ''Son masuklah kedalam mobil terlebih dahulu Papa akan menyusul''
''Oke Pap''sahutnya
Cup...''Sudah sana berangkat pastikan putramu sampai dikelas dengan selamat jangan sampai ada lecet sedikitpu''
Tak terima hanya mendapat kecupan dipipi Juan langsung mencium bibir istrinya dengan singkat hingga membuat Friya kaget akan serangan spontan Juan.
Dengan santainya Juan berjalan sambil melambaikan tangannya.
Friya hanya bisa tersenyum malu dengan tingkah suaminya itu seraya masuk kedalam rumah.
Friya merapikan kamar putranya yang sedikit berantakan lalu melihat sekeliling ruangan kamar tersebut entah mengapa hatinya terasa kosong seperti ada yang hilang.
Sesampainya disekolah Internasional Juan mengantar putranya sampai didepan ruang kelas seperti yang diminta sang istri tercinta
__ADS_1
''Baiklah kau sudah sampai jangan membuat kekacauan mengerti son''ujar Juan
''Em...mengerti Pap''
''Bagus jika begitu Papa pergi dulu''pamit Juan pada sang Putra
''Alan....''panggilnya dengan suara keras
Melihat siapa yang memanggil namanya membuat ia memutar kedua bola matanya malas
''Oh...ayolah kawan kenapa dengan wajahmu itu sepertinya kau tidak suka dengan kehadiranku''ujar Leo seraya merangkul pundak Alan
''Cih menyebalkan bukankah kau tau aku paling tidak suka diganggu''sahut Alan menyingkirkan tangan Leo dari pundaknya
''Idih jangan begitu kawan bukankah dari kecil kita sudah satu sekolah hingga sekarang kenapa kau masih saja jual mahal pada teman sendiri bukankah itu tidak adil bagiku''protes Leo dengan wajah nelangsa
''Ya,ya,ya kau memang selalu begitu dengan memperlihatkan wajah nelangsa mu agar aku kasihan padamu,tapi maaf aku tidak akan tertipu lagi denganmu''jawab Alan
Meski selalu ditolak terus oleh Alan tapi Leo masih saja menempel pada Alan bahkan kemanapun Alan pergi selalu ada Leo disamping Alan sungguh parasit yang menyebalkan
Pelajaran dimulai semua siswa dengan tenang mengerjakan soal yang diberikan oleh guru dalam waktu 90 menit yang diberikan oleh guru,Alan hanya butuh waktu 30 menit saja untuk menyelesaikannya.
''Ssttt Alan bisa kau beritahu aku rumus nomor 10 aku kemarin lupa''pinta Leo berbisik pelan
''Apa kau semalam tidak belajar?tanya Alan dengan dahi berkerut
''Hehehe belajar sih tapi aku ketiduran''jawab Leo senyum lima jari
''Cih dasar bodoh''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disekolah swasta Aslan dan Ranma mengikuti semua pertandingan meskipun Ranma tertinggal 15 poin dari Aslan yang jauh lebih unggul dalam permainan.
''Cih sial,aku terlalu meremehkan murid pindahan itu''pikir Ranma sambil mengatur nafasnya yang masih tersenggal
Aslan memperhatikan Ranma dengan seksama lalu berjalan dan mendekatinya
__ADS_1
''Ingat seorang pria tidak akan mengingkari ucapannya''bisik Aslan disamping Ranma
Sorak dan teriakan dari penonton untuk mendukung peserta semakin meriah dan antusias apalagi yang bisa mengimbangi babak berikutnya adalah Aslan murid pindahan yang belum lama ini membuat pamor Ranma merasa terancam.
Sedangkan Aslan hanya biasa-biasa saja melakukannya sedangkan Bima selalu mendukung Aslan
''Aku berani bertaruh jika pertandingan kali ini Aslan akan menjadi juaranya''ujar Bima kepada anak buah Ranma
''Huh mana bisa jelas-jelas tuan muda Ranma yang akan memenangkan lomba kali ini seperti tahun-tahun sebelumnya''sangkal anak buah Ranma
''Jelas-jelas Ranma tertinggal 15 poin dari Aslan apa itu yang dinamakan memenangkan lomba taun ini,aku sudah yakin tahun ini sudah pasti Ranma akan segera tergantikan''ujar Bima yang terus memprovokasi.
Mendengar cibiran Bima yang terus memprovokasi Ranma semakin emosi karena ucapan Bima sengaja ia keraskan agar Ranma pikirannya kacau dan tidak bisa fokus dalam perlombaan kali ini
Kali ini adalah perlombaan memanah jarak jauh dimana targetnya adalah 10 poin yang berati kelipatan jika dalam 3x panahan tidak meleset tepat angka 10 dan tepat sasaran berturut-turut maka dialah pemenangnya.
Aslan sudah tertinggal beberapa poin menambah rasa percaya diri dan angkuh Ranma dengan suara lantangnya ia mengatakan.
''Dalam dua tahun ini aku selalu menjadi juara memanah bahkan panahku tidak pernah meleset sedikitpun dan tepat sasaran 10 poin kali ini jika aku memenangkan pertandingan ini maka kalian semua harus patuh dan tunduk pada pengaturanku dan jika aku kalah maka aku akan melayani Aslan seumur hidupku''ujar Ranma dengan nada sombong
''Tapi...jika Aslan kalah maka ia harus merangkak dan bersujud dibawah kakiku''ujarnya lagi
Bisik-bisik mulai bergemuruh nyawa mereka dipertaruhkan semua penghuni sekolah kini bergantung pada Aslan agar ia dapat memenangkan perlombaan kali ini
Nama Aslan bergema dilapangan begitu juga dengan Ranma yang dengan bangga dan percaya diri tinggi bisa memenangkan pertandingan kali ini yang disaksikan guru dan kepala sekolah.
Bima mendekati Aslan '' Kawan bagiamana ini apa kau yakin bisa mengalahkannya?tanya Bima dengan wajah sedikit pucat
''Entahlah aku tidak yakin''jawab Aslan enteng
''Ap...Apa kau bilang Aslan kau..kau bercanda ya jika kau kalah maka kami semua akan menjadi korbannya''ujar Bima yang mulai panik
SHUUUT.....JLEB....satu panah melesat tepat sasaran dimana Ranma meraih 20 poin utama sorakan semakin kencang dan meriah
membuat tim Aslan diam membisu
SHUUUT...JLEB....lagi panah yang Ranma lesatkan lagi lagi mendapatkan poin ganda menambah rasa angkuh dan sombongnya meningkat pesat.
__ADS_1
''Kau lihat tinggal satu panah lagi maka aku akan menjadi pemenang yang tak terkalahkan dan kau sudah bisa aku pastikan akan bersujud dibawah kakiku''ujar Ranma