
...''Entah berapa lama menunggu dan menunggu ingin rasanya waktu berhenti hingga aku dapat memelukmu Pa,Ma aku merindukan kalian ingin sekali mengatakan aku adalah putramu yang selama ini kalian caricari tapi mulutku terkunci ''...
Praakk....
Krraak....
Brughh...
Empat kali tendakan kaki membuat preman tersebut langsung ambruk tersungkur ketanah.
''Apa kau baik-baik saja?
''Iya terimakasih sudah menolongku''
''Cepat pergi dari sini jika mereka bangun ia akan menganggumu lagi''
Setelah memastikan keselamatan gadis tersebut ia baru bernafas lega
''Aiisshhh aku terlambat mengirimkan bunga-bunga pelanggan haduhh.....''rutuk Yara dalam hati ia pun berlari dengab cepat
Dilain tempat Darrel berhasil meringkus penyusup lalu membawanya masuk kedalam penjara bawah tanah
Byuuurrr....
Satu ember air disiramkan diwajah penyusup membuat nya terbangun dengan terbatuk-batuk
''Uhukk...Uhuk...Uhukk....Akshh....Bunuh saja aku''tantangnya
''Bisa saja aku langsung membunuhmu tapi tuanku tidak ingin kau mati lebih cepat karena ada pertanyaan yang harus kau jawab sebelum ajalmu datang ''
Takk...
Takk...
Takk..
Langkah kaki berjalan semakin mendekat kearah Darrel dan penyusup tersebut lalu muncullah Juan bersama Friya
''Tuan,Nyonya...''sapa Darrel sedikit membungkuk
''Hemm tinggalkan kami''titah Juan
''Baik...''
Juan memutari penyusup yang di ikat di kursi wajahnya penuh luka memar dan tangannya masih mengeluarkan darah
''Langsung saja ke intinya jadi jawab pertanyaan ku dengan baik jika kau ingin bebas dari sini''ucap Juan
''Cuihhh....Jika ingin aku mati maka cepat bunuh saja aku tidak perlu basa basi''
''Apakah tato ditanganmu ini melambangkan suku Scronpion yang selama ini meresahkan dunia?
''Itu bukan urusanmu ''
''Apa suku Scronpion yang menyuruh mu memata-matai kami?
''Aku tidak tau...''
''Huh...Kau cukup setia rupanya ''ujar Juan seraya melonggarkan dasinya
__ADS_1
Friya menatap insten orang tersebut mulai dari mimik wajah, expresinya, gerak geriknya tak luput dari pandangan Friya.
Penyusup itu tak sengaja beradu pandang kala Friya menatap nya tiba-tiba saja ia menjadi takut kala pandangan mata Friya menjadi aneh.
Juan sudah mulai habis kesabaran ia mengambil setrum listrik agar penyusup itu mau mengakuinya
Saat Juan berjalan mendekati orang tersebut Friya langsung menghentikannya.
...----------------...
Yara pulang kerumah sudah larut malam ia perlahan mengendap-endap agar tidak membangunkan Paman Li
Ia membuka pintu perlahan dan pelan lampu rumah sudah gelap ia pun berjalan agar tak menimbulkan suara
Klikk...
Lampu menyala terang Yara langsung kaget ternyata paman Li masih belum tidur
''Pa-Paman belum tidur''ujar Yara kikuk
''Dari mana saja kenapa sampai selarut ini?tanya Paman Li
''Enn...Ahh. ... itu tadi ada sedikit kecelakaan dijalan jadi Yara ikut membatu bibi penjual buah dan mengantarkannya pulang,maaf paman''
''Huhh...Lain kali jangan lakukan itu lagi mereka bisa mengurus dirinya sendiri jangan pernah ikut campur''
''Tapi paman bagaimana bisa aku membiarkan bibi itu sendirian karena itu selalu mengingatkanku pada Paman jika suatu saat nanti terjadi pada paman bagaimana,kali ini saja maaf aku lupa memberitau paman ''
''Hemm ya sudah cepat bersihkan dirimu jangan lupa makan dan langsung istirahat paman sudah mengantuk sekali''
''Baik paman terimakasih ''
''Huh...hampir saja ketauan ''pikir Yara.
Di babak Final ini permainan semakin sengit membuat Aslan dan Alan kalah dalam babak pertama dan dibabak ledua mereka seri kini tinggal babak terakhir dimana kedua kubu tim mengeluarkan kekuatan masing-masing
Teriakan semangat semakin menggema diaula pertandingan semakin menegangkan memacu andrenalin para penonton.
Senyum miring terlihat jelas diwajah Maru ia sangat optimis akan memenangkan perlombaan kali ini serangan akhir diluncurkan oleh Maru.
Untung nya Aslan dapat membaca gerakan dari serangan Maru dan memancing emosi Maru kini Aslan memimpin perolehan poin diatas Maru seakan membalikan keadaan
Aslan dan Alan kini sama-sama menyerang balik dan akhirnya Tim Maru kalah.
''Yeeaahhhh.....''teriak Alan seraya memeluk Aslan sambil lompat kegirangan
Menyaksikan pertandingan ini Friya dan Juan terharu senang melihat putranya
''Dia putraku''...ujar Friya dan Juan seraya berpelukan
...****************...
''Chiisss.....Mari bersulang atas keberhasilan tim kita ''ujar Ranma
Mereka akhirnya berkumpul dirumah Alan dimana Leo,Bima,Ranma dan Minako merayakan keberhasilan
Juan dan Friya juga ikut merayakan keberhasilan mereka namun tidak dengan Aslan ia memilih tidak hadir karena ada urusan lain.
''Oh iya kalian berdua belum mempernalkan diri''ucap Juan membuka pembicaraan
__ADS_1
''Oh maaf namaku Ranma dan ini Bima kami satu sekolah ''jawab Ranma
''Oh ya nama yang bagus lalu dimana teman mu yang satunya bukankah kalian bertiga''kini Friya yang bertanya
Sontak saja Alan,Ranma dan Bima menjadi canggung
''Dia - Dia ada urusan jadi tidak bisa datang ''dusta Alan
''Benarkah padahal akan sangat menyenangkan jika berkumpul bersama''ucap Friya sendu
''Sudahlah sayang jangan terlalu dipikirkan biarkan anak-anak melakukan hal yang mereka sukai''hibur Juan
Friya tersenyum dan mengangguk
''Sudah kenapa malah jadi canggung ayo kita makan selagi masih hangat kalo makanannya dingin nanti tidak enak lho''timpal Minako tersenyum
...----------------...
Dipasar tradisional Yara bersama paman Li sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari Yara nampak memilih beberapa sayur,buah dan danging
Saat akan mengambil salah satu bumbu yang ada diatas ia sangat kesulitan menjakaunya
sambil berjinjit ia mencoba meraihnya namun tangannya tak sampai.
''Sial kenapa tinggi sekali menaruh bumbunya''dumel Yara
Sekali lagi ia mencoba meraihnya namun dari belakang sebuah tangan besar membantu nya mengambil bumbu tersebut
Yara membetulkan letak kacamatanya lalu menoleh kebelakang ia melihat sosok tubuh tinggi menjulang dengan wajah tertutup masker hitam.
Pria berkulit putih dengan tatapan mata yang tajam seakan menyembunyikan kesan misterius
''Te-Terimakasih...''ujar Yara tergagap diawal
Pria tersebut tidak menyahut dan malah pergi begitu saja.
''Aneh kenapa dia begitu dingin sekali''pikir Yara
Ayara pun memilih mengabaikan orang tersebut ia langsung menuju kasir dimana paman Li sedang menunggu nya
''Ayo paman kita pulang,apa ada lagi yang diperlukan ?tanya Yara
''Sudah cukup kita langsung pulang saja''jawab paman Li
''Eehhh hujan aku lupa tidak membawa payung''
''Baiklah jika begitu paman tunggu sebentar disini aku pergi membeli payung''
Suara guntur menglegar hujan semakin lebat Tiba-tiba saja sekawanan perampok bersenjata saling baku hantam yang tak jauh dari paman Li berdiri hingga sebuah timah panas mengenai tubuhnya.
Door...
Saat itu Yara melihat dengan mata kepalanya sendiri hingga membuat Ayara terkejut.
Barang belanjaan jatuh berhamburan tubuh tegap jatuh ketanah
Yara berteriak histeris '' Paman....!!
Seketika jiwa pembunuh langsung bangkit kala orang yang begitu berarti jatuh didepan mata
__ADS_1
Ayara langsung saja melempar payung yang ia pegang hingga menancap tubuh perampok tersebut.
Perkelahian tak terhindarkan lagi Ayara dengan membabi buta satu persatu kawanan perampok itu mati dengan luka yang sama