
Orang tua Cakra akhirnya bersedia tinggal di rumah Cakra. Mereka harus bersiap jika Birru datang tiba-tiba ke rumah Cakra dan Aize.
Sementara itu, Aize yang telah berpisah dengan Arka selama beberapa hari, tak lagi berselera makan. Dia terus memikirkan Arka yang sampai saat ini belum ada kabar.
Cakra harus ke luar kota untuk menangani masalah kebakaran karena dia baru saja menyelesaikan masalah dengan pelanggan kafe dan restorannya. Laki-laki itu hanya bisa memasrahkan masalah Arka untuk sementara waktu karena dia juga harus mengurus masalah usahanya.
Aize berada di rumahnya bersama kedua orang tua Cakra. Mereka akhirnya tahu yang ditemui mama Cakra dan yang Aize taampar beberapa waktu yang lalu adalah Birru, bukan Cakra. Meski begitu, mama Cakra enggan meminta maaf pada Aize karena gengsinya yang setinggi langit.
“Aize, makanlah sedikit!” kata papa Cakra yang masih peduli dengan kesehatan menantunya.
Ibu satu anak itu menggeleng lemah. “Aku nggak lapar, Pa.”
“Tapi perut kamu juga harus tetap diisi. Cakra sudah menitipkan kamu sama papa dan Mama. Kamu harus makan, biar nanti kalau Cakra kembali, kamu bisa cari Arka sama-sama!” nasihat sang ayah mertua pada Aize.
Mama Cakra yang sebelumnya ada di halaman depan, tiba-tiba menjerit. Hal itu membuat Aize dan ayah mertuanya langsung keluar untuk mengecek.
__ADS_1
Rupanya, ada Birru yang berdiri di halaman rumah Aize yang langsung menghampiri Aize dan membawanya masuk ke dalam rumah.
“Mana Arka?” teriak Aize berusaha berontak.
Seketika itu juga ayah mertua Aize yang tak lain adalah ayah kandung Birru, menyadari bahwa yang di hadapan mereka saat ini adalah Birru bukan Cakra. Keduanya memang sangat identik. Jika tidak diperhatikan betul-betul, pasti akan terkecoh.
“Kalau kamu mau ketemu Arka dan membiarkannya terus selamat. Jangan libatkan polisi! Jangan menghubungi Cakra!” jelas Birru dengan nada bicara penuh ancaman.
Aize merasakan sesak di dada. Dia tahu, Birru tidak pernah main-main dengan ancamannya.
“Birru. Jangan ganggu Cakra dan keluarganya. Yang salah papa dan Mama. Tolong hukum kami saja!” sahut papa Cakra melerai perdebatan Aize dan Birru yang baru saja dimulai.
Birru menguulum senyum sinis. Dia sudah membalaskan sakit hati pada ayah kandungnya itu, tapi sepertinya itu tidaklah cukup.
“Aku ke sini karena ada urusan dengan Aize. Kalau mau ada yang kita bahas, nanti aja! Sekarang aku akan ajak Aize untuk ketemu Arka, tapi ingat saat polisi muncul, maka nyawa Aize dan Arka yang akan jadi taruhannya!” Birru ganti mengancam ayah kandungnya sendiri karena dia harus mempertemukan Aize dengan Arka.
__ADS_1
Semua itu Birru lakukan demi mewujudkan keinginan putranya yang sangat ingin bertemu dengan sang ibu. “Bagaimana Aize? Kamu mau ketemu Arka?”
Aize tentu sangat merindukan putranya, tapi di juga tahu bahwa Birru adalah laki-laki yang jahat. Mungkin saja dia akan berbuat jahat dengannya tanpa ada orang yang tahu.
“Kamu jangan menipuku! Di mana Arka? Dia anakku, dia sakit! Apa kamu nggak paham?” tanya Aize dengan berteriak.
“Dia sangat sehat, Aize.” Birru membuka ponselnya dan memperlihatkan panggilan video dengan Arka. Setelah sekian lama Aize bisa melihat putranya itu, tapi sayangnya orang yang ditelepon Birru seolah hanya memperlihatkan wajah Arka tanpa memberitahu bocah itu bahwa ada Aize yang menghubunginya.
“Sus, mamaku mana ya? Kenapa nggak datang-datang? Katanya Papa mau bawa Mama?” Suara Arka terdengar dengan sangat jelas, bahkan Aize bisa memastikan bahwa putranya itu sedang mencarinya saat ini.
Tanpa memberi kesempatan Aize untuk bicara, Birru langsung memutus sambungan teleponnya dan tersenyum licik. “Kalau kamu mau ketemu Arka, cukup diam dan ikut denganku. Jangan memberi tahu Cakra, polisi, atau orang lain. Kalau kamu tidak ingin bertemu dengan Arka sekarang, aku akan membawanya pergi jauh dari jangkauan kalian!”
***
Abang Birru ngeri banget. Awas ya kalau cinta sama Aize 🥲🥲
__ADS_1