
Birru sangat menikmati waktunya bersama Arka. Dia sengaja pergi ke Amerika untuk melupakan dan merelakan Aize yang telah dimiliki adik kembarnya. Dia menghabiskan malam terakhirnya bersama Arka dengan mengajak putranya itu bermain apa pun yang dimau sampai larut.
Sementara itu, Cakra yang semalam baru melakukan kegiatan olah raga ranjang bersama Aize, kini sudah menghadap laptop meski istrinya belum bangun. Dia begitu sibuk mengurus pekerjaan dan juga masalah rumit yang akhir-akhir ini dia hadapi.
Aize terbangun dan mencari sang suami di sisi lain kasurnya, tapi jelas Cakra tidak ada di sana. Wanita itu keluar dari kamar dan mencari keberadaan Cakra. Di luar masih gelap, dan rasanya tidak mungkin kalau laki-laki itu pergi bekerja.
Mata Aize tiba-tiba menatap sedih pada suaminya yang ternyata sedang fokus dengan pekerjaannya. Sebelum menghampiri Cakra, Aize ke dapur terlebih dahulu untuk membuatkan suaminya itu minuman hangat.
Dengan penuh perhatian, Aize akhirnya mendekati Cakra yang saat ini masih fokus dengan pekerjaannya sampai-sampai harus bangun di pagi buta.
“Minum tehnya dulu, Mas!” seru Aize sembari menyodorkan secangkir teh hangat untuk Cakra.
“Makasih, Sayang!” Cakra tersenyum dan menikmati teh buatan sang istri.
Aize sebenarnya tidak ingin mengganggu suaminya, tapi bekerja di jam se-pagi ini rasanya tidak wajar. Untuk itulah, Aize perlu menanyakan sesuatu pada suaminya.
“Ada masalah besar ya, Mas?” tanya Aize sambil memijat pundak suaminya yang mungkin terasa lelah karena harus bekerja di depan laptop terus menerus.
__ADS_1
Cakra tampak berpikir cukup lama. Dia ragu dengan kecurigaannya sendiri karena dia sebenarnya merasa ada yang tidak beres dengan semua yang terjadi saat ini.
“Akhir-akhir ini, aku merasa ada banyak masalah yang datang menimpa usaha kita. Aku nggak tahu ini kebetulan atau gimana, yang jelas setelah aku menjadi saksi tabrakan yang membuat seorang ibu penjual makanan keliling itu meninggal, masalah datang bertubi-tubi,” jawab Cakra pada akhirnya.
“Berarti ini bukan ulah Birru, Mas?” tanya Aize yang justru mencurigai saudara kembar suaminya itu karena Aize sendiri tahu bagaimana sikap Birru selama ini.
Empat tahun menahan rasa takut karena ancaman dan sikap Birru pada Aize, membuat wanita itu sulit percaya bahwa Birru memang benar-benar sudah berubah sekarang. Namun, melihat sikap baik laki-laki itu pada Arka, dia juga merasa bimbang.
“Aku juga nggak yakin sih, Sayang. Entah ini kebetulan atau bukan. Yang jelas, Birru memang yang menyebabkan papa mama bangkrut. Kalau soal usaha kita ... aku belum yakin.”
“Terus, sekarang yang kamu hadapi apa, Mas? Apa yang sudah mereka lakukan dengan usaha kita?”
Aize terdiam, rasanya ini memang berat. Akan tetapi, mereka juga tidak bisa menuduh siapa pun atas kejadian yang menimpa mereka.
“Kita bisa jual rumah lama kita, Mas. Siapa pun yang sengaja melakukan ini, pasti suatu saat nanti akan daat balasannya sendiri.” Aize memeluk Cakra untuk menguatkan hati suaminya.
**
__ADS_1
**
Sore hari, Birru mengantarkan Arka pulang. Arka merasa sangat sedih karena harus berpisah dengan Birru yang selalu bisa membuatnya bahagia. Sementara Aize merasa gelisah karena Cakra tidak di rumah saat Birru berpamitan sekarang ini.
“Mas Cakra katanya masih di kafe. Aku telfon nggak dijawab terus,” kata Aize saat Birru berpamitan untuk ke Amerika karena penerbangannya malam ini juga.
“Aku susul aja dia. Nanti kalau dia telfon, bilang aku ke sana! Aku titip Arka ya, kalau ada apa-apa tolong kabari aku.” Birru segera berpamitan karena waktunya tidak banyak.
Perpisahan Arka dan Aize dengan Birru akhirnya terjadi. Bocah itu menangis kencang setelah mobil Birru meninggalkan halaman rumah Cakra. Namun, Aize berusaha menenangkan putranya itu.
“Aize, aku harap setelah ini aku bisa melepaskanmu. Saat aku kembali nanti, semoga kamu bisa mengabulkan keinginan Arka untuk memiliki adik,” batin Birru sembari melamun menatap jendela mobil, sedangkan orang kepercayaannya terlihat memperhatikannya dari kaca spion tengah.
Beberapa waktu berlalu, Aize mendapat telepon dari Birru. Dia mengabarkan berita yang sangat buruk.
“Apa? Mas Cakra kecelakaan?”
Rasanya Aize hampir pingsan, tapi dia berusaha kuat dan mengatur napas karena ada Arka yang harus dia pikirkan juga.
__ADS_1
***
Kembang kopinya jangan lupa 🤗💋💋💋