Dihamili Kembaran Suami

Dihamili Kembaran Suami
DKS ^ Bab 51


__ADS_3

Sikap dingin dan judes yang ditunjukkan Aize untuknya, membuat Birru paham perasaan dan kondisi mentalnya saat ini. Wanita itu baru saja kehilangan suami yang menjadi sandaran, sumber kebahagiaan, dan semangat hidup untuknya. Birru bisa merasakan betapa beratnya hati Aize kehilangan Cakra yang sangat dicintainya.


Namun, Birru juga tidak mau menyerah dengan mudah. Baginya, Aize tetap harus melanjutkan hidup sebagaimana mestinya karena ada Arka yang masih membutuhkan wanita itu.


“Arka kamu nggak boleh makan kalau Mama nggak makan! Kamu nggak boleh keluar kamar kalau Mama juga nggak keluar!” putus Birru setelah mendapatkan ide untuk membujuk Aize dengan mudah.


Sontak saja wanita itu mengangkat dagu dan menatap Birru dengan kesal. Laki-laki itu mengaku sebagai ayah kandung Arka, tapi melarangnya untuk makan.


“Kamu gila ya? Kenapa kamu larang Arka makan?” tanya Aize dengan kesal.


Birru tersenyum dan tetap terlihat santai. Laki-laki itu merasa tenang karena Aize ternyata masih memikirkan putranya meski dirinya sendiri masih larut dalam kesedihan setelah kematian Cakra.


“Kalau kamu sayang sama Arka, ajak dia makan! Kamu boleh aja sedih, tapi jangan berlarut dalam kesedihan seolah-olah nggak ada orang lain yang sayang sama kamu di sekitar kamu, Aize. Aku yakin, di sana Cakra pasti nggak mau lihat kamu kayak gini!” seru Birru yang kemudian keluar meninggalkan kamar Aize.

__ADS_1


Aize melirik Arka yang sejak tadi mendengarkan kedua orang tua kandungnya berseteru. Hati Aize langsung luluh melihat wajah polos putranya yang sudah dia abaikan beberapa hari ini.


“Maafkan Mama, Arka!” Wanita itu memeluk putranya dan Arka pun juga balas memeluknya.


Ibu dan anak itu saling berpelukan dan saling menguatkan, membuat Aize semakin sadar bahwa hidupnya harus terus berlanjut.


Akhirnya, Aize mau keluar kamar dan mau makan malam bersama. Di meja makan sudah ada banyak sekali makanan, dan itu semua Birru yang membawanya.


Melihat Aize sudah mau keluar kamar dan duduk di meja makan, Birru berpamitan untuk pulang. Dia merasa misinya sudah selesai, yang penting Aize sudah mau makan.


“Papa kenapa pulang? Arka pengen papa nginep saja, Arka kangen, Pa!” Bocah tampan itu menarik-narik tangan Birru agar mau tinggal lebih lama dengannya.


“Besok Papa ke sini lagi, ya! Sekarang Arka temani Mama dulu!” balas Birru sembari melirik Aize yang terlihat tenang di tempat duduknya.

__ADS_1


“Birru kamu belum makan, ‘kan? Kamu udah bawa makanan sebanyak ini, kamu harus makan dulu di sini!” sahut mama Birru yang sejak tadi sibuk menyiapkan makanan bersama asisten rumah tangga baru yang dipekerjakan Birru untuk bantu-bantu.


“Aku bisa makan di luar nanti!” jawab Birru yang tetap ingin pulang.


“Makan di sini aja! Kalau nggak sibuk, kamu juga boleh nginep di sini temani Arka!” sahut Aize yang sebelumnya melihat raut wajah kecewa yang ditampilkan oleh Arka.


Mendengar pendapat Aize yang jelas mengizinkan sang ayah untuk tinggal, tentu saja Arka merasa sangat bahagia. Dia langsung bergelayut manja sambil memegangi kaki Birru.


“Papa nginep ya, please! Arka sekarang cuma punya satu Papa. Papa tolong jangan tinggalkan Arka juga ya!” pinta Arka dengan mata berkedip-kedip, memohon belas kasihan dari sang ayah.


“Aize, kalau Birru tinggal, boleh ‘kan kalau dia pinjam baju tidur Cakra. Nggak mungkin dia bisa tidur dengan celana jeans begitu, ‘kan?” tanya ibu mertua Aize yang dengan berat hati meminta pada Aize.


Ini juga menjadi kesempatan besar bagi kedua orang tua Birru untuk memperbaiki hubungan dengan putra yang telah mereka jual itu. Kematian Cakra sekaligus menjadi hukuman bagi kedua orang tua itu karena sejak dulu mereka menganggap hanya memiliki satu anak, dan saat anak yang lain kembali, mereka harus kehilangan yang lainnya.

__ADS_1


***


Jangan lupa komen yang banyak, ada typo langsung komen di paragraf ya gess biar bisa langsung diperbaiki 🥰


__ADS_2