
Aize tidak bisa tidur meski malam sudah sangat larut. Wanita itu duduk melamun di depan televisi yang menyala tanpa suara. Malam ini, dia ingin melamun dan meratapi kesedihannya sampai benar-benar puas dan melanjutkan hidup dengan lebih ikhlas esok hari.
Wanita itu sedang berpikir dengan matang apa yang akan dia lakukan besok. Dia juga tengah menyiapkan diri untuk mengambil alih usaha yang ditinggalkan oleh Cakra. Hidupnya dan Arka bergantung pada usaha itu sekarang. Meski Birru juga tidak mungkin diam saja untuk kebutuhan Arka, tapi Aize tidak mau mengandalkan ayah kandung putranya itu.
Birru ingin ke dapur untuk mengambil air minum. Begitu melihat Aize, dia pun memperhatikan wanita yang dicintai itu dari kejauhan. Laki-laki itu jadi teringat kata-kata Aize tadi sore yang memintanya untuk pergi.
Setelah dipikir-pikir, mungkin ada baiknya juga Birru meninggalkan Aize. Wanita itu sedang berjuang mengikhlaskan Cakra dan pasti kehadirannya semakin menyulitkan Aize.
Ayah biologis Arka itu mengambil minum, lalu ikut duduk di samping Aize yang tengah melamun.
“Kamu nggak tidur?” tanya Birru sembari menatap layar televisi yang entah sedang membahas apa karena sama sekali tidak ada suara yang terdengar dari sana.
Aize sedikit tersentak, lalu menoleh pada Birru setelah menguasai diri dari keterkejutannya. Awalnya, Aize pikir yang di sampingnya itu adalah Cakra, tapi beberapa detik berikutnya ia langsung tersadar bahwa laki-laki itu adalah Birru.
__ADS_1
“Nggak bisa tidur,” jawab Aize kembali menatap layar besar televisi yang tengah menampilkan dialog malam yang sepertinya tengah membahas sebuah produk khusus pria dewasa. “Kamu kenapa nggak tidur?”
Birru yang sejak tadi juga fokus pada televisi, merasa sangat canggung dengan apa yang dilihat Aize saat ini. Dia mengambil remot di meja, lalu menjawab pertanyaan Aize, “Tadinya aku cuma mau ambil minum, tapi lihat kamu nonton acara aneh gini, aku jadi penasaran!”
Ekor mata Aize memperhatikan tangan Birru yang kini menunjuk layar televisi. Betapa malunya Aize saat Birru menambah volume suara sehingga kini bisa terdengar jelas apa yang sedang dibahas oleh acara itu.
“A-aku nggak sengaja. Nggak perhatiin juga itu acara apa,” jawab Aize dengan alasan yang menurutnya sendiri cukup masuk akal.
“Santai aja! Kita sudah sama-sama dewasa. Bahkan, kita udah punya Arka!” balas Birru yang kemudian mengganti channel televisi yang lebih layak ditonton dengan Aize.
“Aku dengar, kamu yang selesaikan masalah di tempat usaha Mas Cakra, apa itu benar?” tanya Aize yang sepertinya tidak nyaman membahas hubungan dirinya dengan Birru sebagai orang tua kandung Arka. Walau bagaimanapun, itu tetap menjadi kesalahan terbesar Aize yang sampai detik ini masih dia sesali.
Birru menelan ludah dengan kasar. Dia tidak ingin Aize berburuk sangka dengan menganggapnya sok jadi pahlawan, karena itulah laki-laki itu harus memikirkan jawaban yang lebih masuk akal.
__ADS_1
“Aku merasa bersalah sama Cakra. Jadi, aku membantunya karena itu. Semua masalah sudah selesai, Aize. Kamu bisa melanjutkan usaha milik Cakra. Kalau butuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungiku.”
“Hem. Kamu juga pasti akan sering ke sini untuk ketemu Arka, ‘kan? Mungkin tanpa aku beri tahu kamu juga pasti sudah mengetahui kalau aku ada masalah,” timpal Aize.
Birru menatap Aize dengan sangat serius, sampai-sampai membuat wanita itu merasa tidak nyaman dan sedikit menjauh. “Kenapa?”
Pikiran Aize melayang. Suasana sepi di malam yang larut, rasanya begitu mencekam untuk dirinya yang berduaan dengan laki-laki yang pernah menodainya.
“Dua hari lagi aku berangkat ke Amerika. Aku harap, saat kita ketemu lagi nanti, kamu sudah kembali ceria seperti saat kamu menjadi istri Cakra! Aize, aku akan pergi biar kamu bisa lebih mudah mengikhlaskan Cakra dan melanjutkan hidup!”
***
Ramaikan komennya dong gaess💋💋💋
__ADS_1