
Aize mengambil baju tidur milik Cakra yang masih tersusun rapi di lemari. Wanita itu terpaksa memberikan baju suaminya kepada Birru yang menginap demi Arka.
Kini, wanita itu berjalan ke kamar Arka untuk menyerahkan pakaian tidur pada Birru. Sayup-sayup terdengar suara tawa Arka dan Birru yang sepertinya tengah asyik bermain di dalam kamar.
Rasanya sudah lama Aize tidak mendengar suara tawa bocah itu. Mungkin sejak Cakra kecelakaan dan masuk rumah sakit. Bahkan, Aize sendiri juga tidak ingat kapan terakhir dia tersenyum, apalagi tertawa.
“Arka!” panggil Aize dari luar kamar.
Mungkin karena terlalu asyik bermain, Arka dan Birru tidak mendengar panggilan Aize. Mau tidak mau, Aize pun masuk dan melihat apa yang terjadi.
Ayah dan anak itu sedang bermain perang-perangan dengan pedang mainan milik Arka. Keduanya sudah seperti anak kecil yang sangat-sangat menikmati permainan.
“Mama!” teriak Arka sembari tersenyum lebar karena berhasil melumpuhkan ayahnya sendiri.
Sementara itu, saat ini Birru tengah terbaring di lantai. Laki-laki itu berpura-pura mati di depan Arka yang telah mengalahkannya dalam permainan.
Namun, saat melihat Aize datang ke kamar Arka, Birru segera bangkit dan memperbaiki sikap. Pasti sikapnya ini sangat-sangat memalukan di hadapan Aize.
“Ini baju tidur Mas Cakra kalau mau ganti baju!” kata Aize sembari menyerahkan setelan piama pada Birru.
__ADS_1
Birru tampak canggung berhadapan dengan Aize saat ini. Dia menerima pakaian itu dan segera pamit ke kamar mandi.
“Papa ganti baju dulu ya, Sayang!” ucap Birru seraya mengusap rambut sang putra.
Arka mengangguk, dan kini beralih pada Aize untuk meminta perhatian. “Mama di sini dulu ya. Temani Arka sampai Papa selesai mandi!”
Aize jelas tidak bisa menolak keinginan putranya itu. Dia menemani Arka bermain sampai Birru selesai ganti baju.
Bocah itu terus memandangi sang ibu dan menatapnya sembari tersenyum. “Mama, Arka kangen lihat Mama senyum. Kata Papa, kalau kita pengen Papa Cakra bahagia di surga, kita juga harus bahagia. Kalau kita sedih, Papa Cakra juga akan sedih, karena Papa bisa lihat kita, Ma!”
Aize menundukkan kepala mendengar pengakuan Arka. Mungkin memang ini sudah saatnya dia bangkit dan mengambil alih tugas yang selama ini diemban oleh suaminya. Masa depannya dan Arka masih panjang, dia harus memikirkan itu juga.
Ibu dan anak itu terus berbincang sampai akhirnya Birru keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian Cakra.
Aize dan Arka sama-sama mematung melihat penampilan Birru saat ini. Semua mengingatkan mereka pada sosok Cakra yang memang identik dengan Birru.
“Nggak pantes ya? Papa ganti baju lagi deh!” ucap Birru saat melihat Aize dan Arka yang sama-sama terdiam.
Arka melirik Aize. Namun, wanita itu bangkit dari tempat tidur putranya dan kembali menatap Birru. “Pantes kok! Nggak usah ganti!” kata Aize yang kemudian beralih menatap putranya. “Sayang, Mama ke kamar dulu ya! Selamat malam!”
__ADS_1
Aize segera keluar dari kamar Arka, menutup pintu dan ingin menangis. Akan tetapi, wanita itu mengurungkan niat saat melihat ibu mertuanya yang sejak tadi menunggu di depan kamar Arka.
“Aize. Apa kamu sedih melihat Birru memakai baju Cakra? Kamu masih teringat Cakra ya?” tanya wanita tua itu seolah memahami kesedihan sang menantu.
Aize menarik napas pelan dan berusaha tersenyum di depan ibu mertuanya. “Selamanya Mas Cakra nggak akan bisa diganti, Ma. Walaupun seribu orang yang mirip dengannya memakai baju Mas Cakra, itu nggak akan mengubah apa-apa. Mas Cakra tetaplah Mas Cakra yang selalu mengisi hatiku!”
Mama Cakra tersentuh mendengar pengakuan Aize. Ia sadar, selama ini sudah bersikap jahat pada Aize.
“Kamu memang tulus sama Cakra, Aize. Maafkan Mama selama ini udah jahat sama kamu!” Mama Cakra menundukkan kepala karena rasa bersalah.
Melihat ibu mertuanya bersedih, Aize pun segera memeluk wanita itu dan keduanya sama-sama saling menguatkan.
“Kamu masih muda Aize. Kamu bisa melanjutkan hidup dengan laki-laki lain. Apalagi, pesan terakhir Cakra juga minta kamu menikah dengan Birru, kan? Mama akan merestui kalian, Sayang!”
“Ma. Papanya Arka itu terlalu mirip dengan Mas Cakra. Aku takut kalau menikahinya, itu karena aku belum siap kehilangan Mas Cakra. Aku akan menganggapnya seperti Mas Cakra yang masih hidup. Itu pasti akan melukai perasaan Birru karena yang aku cintai itu Mas Cakra, Ma. Birru berhak menikah dengan wanita yang mencintainya juga!”
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋
__ADS_1