
Aize sangat syok mendengar rencana Birru yang ingin mengadakan pernikahan di hari ulang tahun Arka. Bukan hanya fisik dan mentalnya yang belum siap, tapi Aize juga merasa ini terlalu mendadak dan terburu-buru.
“Orang nikah nggak sama kayak kita mau ke luar negeri, Birru! Nikah juga butuh persiapan!” protes Aize yang jelas merasa keberatan dengan keputusan sepihak yang dilakukan oleh Birru.
Bagi Birru tidak sulit untuk menyiapkan pernikahan dan segala macamnya karena dia bisa mewujudkannya dengan mudah berkat kekuasaan dan juga uang. “Kita nikah yang penting sah. Kalau kamu mau resepsi nggak masalah, kita bisa bikin seperti yang kamu mau, besok!”
Makin lemas saja rasanya kaki Aize mendengar rencana Birru yang semakin di luar nalar. Wanita itu tak tahu lagi harus melakukan apa lagi selain pasrah. Birru sudah memutuskan dan Aize sendiri sudah menyetujuinya kemarin.
Beberapa saat berlalu, orang tua Birru akhirnya datang di waktu yang tepat. Sekarang, Aize juga sedang merias diri untuk acara pernikahannya yang sederhana. Sementara Birru sejak tadi terus tersenyum menunggu waktu pernikahan tiba.
“Kamu sama Aize serius mau nikah hari ini?” tanya papa Birru pada sang putra yang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Calon suami Aize itu mengangguk dengan mantap. “Aku sengaja memilih hari ini karena ini adalah ulang tahun Arka, dan aku ingin kasih kado yang spesial untuknya,” jawabnya.
Orang tua Birru tentu ikut bahagia mendengarnya. Mereka tidak hanya datang untuk merayakan ulang tahun cucu mereka, tapi juga merayakan sebuah hubungan baru dengan orang lama.
__ADS_1
Akhirnya, saat yang dinanti pun tiba. Aize dan Birru melangsungkan pernikahan dengan hanya dihadiri keluarga inti saja. Apalagi, Aize juga sudah tidak memiliki keluarga.
Semua orang sangat bahagia menyambut pasangan baru yang akhirnya resmi menjadi suami istri itu. Birru mencium kening Aize untuk pertama kalinya di hadapan semua orang dan wanita itu tersenyum malu-mlu.
“Aku bahagia bisa menikah sama kamu, Aize!” kata Birru setelah melepaskan bibirnya dari kening Aize.
Wanita itu mengangguk dan membalas ucapan Birru, “Tapi aku masih syok, Mas!”
Birru menatap dalam-dalam mata Aize yang untuk pertama kalinya memanggil dirinya dengan sapaan mesra itu. Dia membeku dengan bibir sedikit terbuka dan tampak bingung.
“Kamu nggak suka aku panggil, Mas sama kayak Mas Cakra? Atau kamu mau aku panggil yang lain?” tanya Aize yang jadi bingung karena ekspresi Birru yang tak bahagia seperti harapannya.
“Suka kok! Suka banget, Aize. Suara kamu kedengaran lembut sampai aku bingung ini nyata atau halusinasi,” jawab Birru apa adanya.
Arka menghampiri mereka dan langsung memeluk. “Asik! Papa udah kasih aku hadiah yang sangat keren!” kata Arka tampak sangat bahagia dengan pernikahan kedua orang tua kandungnya. “Kalau hadiah dari Mama pasti lebih keren nanti.”
__ADS_1
Aize dan Birru saling pandang. Lalu, dengan rasa penasaran, Birru bertanya pada putranya itu, “Memangnya kamu mau hadiah apa dari Mama, Sayang?”
Arka senyum-senyum mencurigakan. Sebenarnya keinginannya itu sudah sangat lama dia nantikan, tapi sampai detik ini Aize belum mengabulkannya, “Arka pengen adik dari Mama. Mau cewek apa cowok, Arka akan terima dengan senang hati!”
“Nah, kalau keinginan kamu yang itu, sekarang Mama sama Papa pasti akan mewujudkannya. Tapi, kasih waktu Mama sama Papa buat tentukan adiknya dulu cewek apa cowok. Milihnya harus rahasia. Jadi, biarkan Mama sama Papa pergi ke kamar sekarang ya, Arka!” kata mama mertua Aize yang tampak peduli dengan keinginan sekaligus kebutuhan putranya.
Birru sudah sangat lama menantikan momen pernikahan ini. Mungkin juga dia menginginkan Aize saat ini juga untuk melakukan hak dan kewajiban suami istri.
“Boleh!” jawab Arka dengan senang hati, dan malah membuat Birru dan Aize menjadi canggung.
“Waktu kalian cuma sampai nanti siang, karena sorenya kita harus merayakan ulang tahun Arka!” kata sang papa mertua mengingatkan.
***
Kalau ada typo komen aja jangan sungkan gaess, aku ngetiknya barengan sama si Nomnom takut ada yg ketuker 🙈🙈
__ADS_1