
Arka benar-benar menikmati waktu bahagianya bersama Aize dan Birru. Bocah itu tampak riang sembari menggandeng kedua tangan orang tuanya. Mereka telah menghaiskan waktu dengan bersenang-senang. Beberapa momen berhasil mereka abadikan dengan kamera ponsel Birru maupun Aize yang akan menggunakannya sebagai bukti pada Cakra.
Birru melirik Aize yang fokus dengan Arka. Dia tahu, istri saudara kembarnya itu memang sangat cantik. Namun, wajah cantik itu juga mengingatkan Birru pada patah hati terdalam di hidupnya.
“Kayaknya udah sore, Arka pulang sama Suster ya! Papa harus antar Mama!” kata Birru usai melihat arloji di pergelangan tangannya.
Birru tahu, saat ini dia harus mengurus urusannya dengan orang tuanya, sekaligus mengantarkan Aize pulang dengan selamat. Tidak ada niat sedikitpun bagi Birru untuk membawa kabur istri saudara kembarnya itu karena Aize bukanlah Arka yang mudah dibujuk.
Mengetahui waktunya dengan sang putra telah habis, perasaan Aize jadi sangat sedih. Dia masih sangat ingin bersama Arka, tapi
“Papa, Arka masih pengen sama Mama. Boleh nggak, Arka ikut antar Mama?” tanya Arka sembari mendongak menatap wajah Birru dengan memohon.
__ADS_1
Birru menggendong Arka agar sejajar dengannya. Dia tidak mungkin membawa Arka pulang ke rumah Cakra, itu sama saja dengan menyerahkan Arka pada mereka.
“Sayang, tempat Mama itu jauh. Papa juga sekalian ada kerjaan. Kamu pulang dulu ya sama suster ya, nanti Papa belikan pesawat remot. Kita bisa main bareng nanti!”
Memang, Birru sangat pandai membujuk Arka. Itu terbukti karena akhirnya bocah itu bersedia mengikuti perintah sang ayah. Sebuah hal yang membuat Aize salut dengan Birru.
Suster dan para pengawal membawa Arka ke parkiran, sedangkan Birru segera menarik tangan Aize agar keluar dari pintu yang berbeda. Dia berencana akan menggunakan taksi untuk mengantar Aize pulang. Setidaknya, Birru masih berniat baik dengan mengantarkan Aize pulang dan memastikannya selamat.
Saat akan memasuki taksi yang sudah dipesan Birru, Aize melihat sebuah mobil berwarna hitam. Di dalamnya ada Arka yang juga tengah melihatnya. Bocah itu melambaikan tangan sembari memanggil ibunya, sedangkan Aize langsung merekam plat nomor mobil itu di kepalanya.
Aize gelagapan dan langsung masuk tanpa menjawab apa-apa. Dia tidak ingin membuat Birru curiga dengan gelagatnya yang sekarang pasti terlihat aneh.
__ADS_1
Saat taksi yang mereka tumpangi melaju, Aize memberanikan diri untuk membuka obrolan dengan ayah kandung dari anaknya itu. “Kenapa aku dan Arka yang harus kamu korbanin?”
Pertanyaan Aize terdengar jelas dan langsung pada intinya. Jelas saja Birru merasa sulit menjelaskannya secara jujur.
“Karena kamu adalah istrinya Cakra. Arka adalah anakku. Aku yang akan mengurusnya. Tapi Cakra juga harus merasakan sakitnya aku. Itu baru adil!” jawab Birru tanpa melirik Aize sedikit pun.
Aize mendeesahkan napas kasar dan tertawa sarkas. “Kamu hidup dengan orang kaya, lalu kamu merasakan sakitnya tanpa orang tua. Apa kamu pikir seumur hidupnya Mas Cakra itu bahagia?” tanya Aize dengan nada bicara lebih tinggi. “Aku menemani Mas Cakra dari nol. Dia nggak tiba-tiba kaya seperti yang kamu kira. Yang sekarang dia punya itu bukan dari orang tua angkatmu. Bukan hasil dari Mama Papa jual kamu! Itu kerja keras Mas Cakra selama bertahun-tahun.”
Teriakan Aize membuat telinga Birru terasa panas. Dia mendekatkan wajahnya pada Aize dan menatap wanita itu dengan amarah. Sementara Aize memundurkan wajahnya menghindari Birru yang benar-benar mirip dengan Cakra.
“Aku tahu. Aku tahu semuanya! Untuk itulah aku membuat hidupku jauh lebih kaya darinya. Asal kamu tahu, Aize, aku sangat mengenal kalian berdua!”
__ADS_1
***
Liha gess udah senin nih, bagi vote nya dong ❤️❤️❤️