Dihamili Kembaran Suami

Dihamili Kembaran Suami
DKS ^ Bab 41


__ADS_3

Birru menatap tajam Aize agar mau ikut dengannya. Hari sudah sangat larut, pasti tidak akan baik untuk seorang wanita pergi sendirian dengan taksi. Apalagi masih harus menunggu sampai ada taksi yang mau menumpanginya.


Tadinya Aize mau melepaskan jaket Birru yang dipakaikan sendiri oleh laki-laki itu. Namun, Birru tetap memaksa dan udara dingin yang menerpa, membuatnya terpaksa pasrah.


Wanita itu akhirnya bersedia masuk ke mobil Birru. Meski ada banyak ketakutan di hatinya, tapi Aize terus berusaha tenang dengan terus memegangi ponsel. Aize bertekad kalau Birru berbuat jahat, dia akan langsung memanggil polisi dengan menekan tombol angka darurat yang sudah dia siapkan.


“Aku tadinya akan ke kafe Cakra, tapi di tengah jalan, aku lihat mobilnya. Akhirnya, aku putar balik dan ikuti dia. Ternyata, saat di lampu merah, mobilnya ditabrak dari belakang, dan ....”


Biru sengaja tidak melanjutkan ceritanya untuk menarik reaksi Aize. Rupanya, wanita itu mendengarkan apa yang dia bicarakan.


“Dan apa?”


Birru menghela napas dengan berat sebelum kembali melanjutkan ceritanya. “Dan dari arah lain, muncul truk sejenis yang langsung menabraknya. Padahal, saat itu posisi lampu merah seharusnya kedua truk itu sama-sama berhenti, tapi seolah mereka sengaja menargetkan Cakra!”


Aize memejamkan mata dan air bening kembali keluar dari sana. Wanita itu tidak bisa membayangkan bagaimana posisi suaminya saat kecelakaan itu. Entah apakah Cakra bisa sadar kembali atau tidak.

__ADS_1


“Aize, aku juga sedang menyelidiki masalah yang sedang Cakra hadapi. Bisa saja ini didalangi orang yang sama. Atau ... yang aku takutkan, ternyata Cakra korban salah sasaran dari musuh-musuhku.”


Suara Birru terdengar lebih pelan saat mengatakan kalimat terakhirnya. Kalau memang itu terjadi, bukankah Cakra mengalami nasib yang sangat malang? Dia selalu menjadi korban dari salah sasaran.


Dalam perjalanan pulang itu, Aize hanya mendengarkan semua yang berusaha Birru jelaskan. Wanita itu hanya diam tanpa mau berkomentar lebih jauh. Sampai akhirnya, mobil berhenti di rumah Birru, bukan di rumah Cakra.


“Kenapa kamu bawa aku ke sini?” tanya Aize penuh kecurigaan.


Birru keluar dari mobil dan berputar untuk membantu Aize membuka pintu. Hal yang selama ini hanya bisa muncul dalam khayalannya.


Aize baru ingat bahwa putranya ada di rumah Birru sekarang. Dia pun akhirnya turun meski dengan raut wajah yang tidak ikhlas.


“Kalau memang yang mencelakai Cakra adalah orang yang menjadi musuhnya, maka di rumah itu kamu dan Arka juga tidak bisa dibilang aman.”


Benar yang dikatakan oleh Birru. Di rumah itu hanya ada dirinya dan Arka. Tanpa Cakra, rumah itu pasti akan sangat membahayakan.

__ADS_1


Sementara di rumah Birru, ada banyak penjaga yang mengawasi rumah dua puluh empat jam. Walau beberapa waktu sempat terkecoh karena Cakra bisa menembusnya, tapi sekarang mereka pasti sudah belajar dari pengalaman.


“Ayo, masuk! Arka ada di dalam!” ajak Birru.


Aize akhirnya memutuskan untuk menuruti Birru, tinggal di rumah laki-laki yang telah menghamilinya dan hampir menghancurkan rumah tangganya itu. Dia bisa tidur di kamar yang nyaman bersama Arka yang sudah terlebih dulu terlelap.


Sementara itu, setelah mengantarkan Aize ke kamar Arka, Birru menemui kaki tangannya yang sepertinya sudah mulai menemukan petunjuk baru.


“Bos, ini orang yang kita curigai sebagai bos dari para sopir itu!” kata kaki tangan Birru sembari memberikan map berisi beberapa foto yang telah dicetak.


“Astaga! Dia yang mencelakai Cakra?”


***


Yok tebak, siapa?

__ADS_1


__ADS_2