Dihamili Kembaran Suami

Dihamili Kembaran Suami
DKS ^ Bab 39


__ADS_3

Aize berlari ke rumah sakit untuk mencari tahu apa yang terjadi pada suaminya. Dengan membawa serta Arka yang tak mungkin ditinggal sendirian, dia berusaha berpikir dengan tenang meski air mata terus mengalir di wajahnya tanpa henti.


Sesampainya Aize di rumah sakit, Birru langsung menghampiri ibu dari anaknya itu. Terdapat bercak-bercak darah yang cukup banyak di pakaian saudara kembar Cakra itu yang membuat Aize semakin merasa takut.


“Papa! Kenapa baju Papa banyak darahnya?” tanya Arka yang juga syok melihat penampilan Birru saat ini.


Birru tampak bingung menjelaskan apa yang terjadi pada Cakra. Sementara Aize yang terus berlumuran air mata menatapnya dengan amarah.


Kejahatan Birru selama ini, membuat Aize sulit mempercayai perubahan sikapnya. Bagi Aize, Birru berubah karena ada sesuatu yang ingin dicapainya.


“Apa yang sudah kamu lakukan pada Mas Cakra?”


Birru menghela napas beberapa kali sembari menatap Aize dengan lemah. Dia bisa merasakan bagaimana Aize membencinya lewat tatapan itu.


“Cakra kecelakaan, tapi bukan aku pelakunya. Bukan aku yang buat dia celaka, Aize!”


Aize tak mudah percaya begitu saja dengan penjelasan Birru. Dia mengendus kesal dan berjalan menuju ruangan yang dia yakini menjadi tempat Cakra mendapat pertolongan.

__ADS_1


Dari balik kaca kecil di pintu, Aize bisa melihat suaminya yang tengah dikerumuni banyak tenaga medis. Dia tahu, suaminya dalam keadaan parah sekarang, dan yang dia lakukan sekarang hanya bisa berdoa dan mengharapkan keajaiban semoga suaminya baik-baik saja.


Birru melihat betapa terlukanya perasaan Aize. Meski wanita itu tidak meraung, tapi air mata yang terus mengalir, hidung merah yang kembang kempis mengatur pernapasan yang terasa sesak, sudah membuktikan bagaimana kondisi Aize saat ini.


“Papa, Papa Cakra terluka parah ya? Apa ini darahnya Papa Cakra?” tanya Arka sembari menyentuh pakaian Birru yang terkena darah cukup banyak.


Birru berlutut untuk menyejajarkan tingginya dengan Arka. Dia tahu, Arka juga sangat mengkhawatirkan Cakra. “Kita berdoa untuk Papa ya! Semoga Papa baik-baik saja dan bisa lihat Arka lagi!” jawab laki-laki itu sembari memeluk tubuh kecil putranya.


Tak lama perawat keluar dan menyampaikan kabar bahwa Cakra harus segera dioperasi untuk menghentikan pendarahan di kepalanya. Tanpa menunggu lama, Birru segera pergi ke loket untuk mengurus administrasi.


Tak butuh waktu lama, pengasuh Arka datang untuk menjemput bocah tampan itu. Saat itulah, Aize menyadari bahwa Birru akan membawa pergi Arka.


“Arka, kamu ikut suster dulu ya. Papa ada urusan, Mama juga harus tunggu Papa Cakra di sini!” kata Birru pada sang putra.


“Kamu mau bawa Arka ke mana lagi? Apa yang kamu rencanakan?” sahut Aize hampir berteriak, tapi seketika sadar saat melihat pasien yang kebetulan lewat di ujung jalan.


“Aku nggak akan bawa Arka kabur. Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa ikut Arka,” jawab Birru tak kalah sengit. Dia merasa kesal karena Aize terus mencurigainya padahal dia sedang berniat baik.

__ADS_1


Aize membuang muka, lalu Arka datang menghampirinya. “Mama, Mama jangan khawatir. Kali ini, Arka nggak akan ninggalin Mama!”


Pelukan Arka akhirnya membuat Aize pasrah. Dia membiarkan Arka dibawa oleh anak buah Birru dan sekarang yang tersisa hanya dirinya dan ayah dari anaknya itu.


Setelah kepergian Arka, Birru baru berani membahas kecelakaan parah yang menimpa Cakra. “Bukan aku pelakunya, Aize. Aku tahu kecelakaan ini memang disengaja, tapi bukan aku. Aku akan mencari orangnya supaya kamu percaya!”


Pikiran Aize yang sudah dikuasai oleh kecurigaan dan kekecewaan, tidak bisa lagi mempercayai omongan Birru.


“Cuma kamu yang punya rasa benci sama Mas Cakra, usahanya terus mengalami masalah, dan sekarang kamu mencelakainya. Kamu tidak bisa membuatku bercerai dengannya, itu sebabnya kamu ingin memisahkan kami dengan cara lain, ‘kan? Kamu tahu nggak sih Birru, kamu jahat banget! Kamu nggak ngerti rasanya berpisah dengan orang yang benar-benar kamu sayang, makanya kamu melakukan semua ini, ‘kan?”


Aize tak bisa mengendalikan emosinya. Dia memukul dada Birru dengan keras untuk melampiaskan amarahnya pada laki-laki itu. Air mata yang terus mengalir sampai hidung Aize memerah, membuat hati Birru terasa hancur.


‘Kamu salah, Aize. Aku sudah merasakan sakitnya berpisah dengan orang yang aku cintai. Tapi, bukan aku yang melakukan semua ini pada Cakra!’


***


Huhhh makin tegang gaess.. Jangan lupa kembang kopinya 💋💋

__ADS_1


__ADS_2