Dihamili Kembaran Suami

Dihamili Kembaran Suami
DKS ^ Bab 69


__ADS_3

Aize masih menerka-nerka, kira-kira apa yang ingin Birru tunjukkan dengan mengajaknya duduk di ruang tunggu. Padahal, mereka sudah selesai melakukan pemeriksaan dan bisa pulang.


“Mas, kenapa kita di sini sih?” tanya Aize setelah dibantu sang suami untuk duduk di kursi tunggu.


“Tempat ini tempat pertama kita ketemu. Kamu ingat?”


Birru dan Aize memperhatikan sekitar. Banyak yang berubah dari ruangan terbuka itu. Namun, kenangan yang telah terukir sepertinya tidak bisa tergantikan dengan mudah. Buktinya, Birru masih bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi di tempat itu beberapa tahun yang lalu.


Aize mulai paham dengan maksud sang suami. Dia tersenyum manis, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Birru.


“Aku baru ingat, Mas. Ini waktu aku antar almarhum Mama berobat. Kita pertama ketemu di sini ya!” jawab Aize.


“Aku nggak tahu, gimana jadinya kalau aku nggak ketemu kamu waktu itu.”


Aize menatap Birru. Laki-laki itu balas tersenyum. Satu hal yang Aize sadari, saat Birru tersenyum, matanya bisa memancarkan ketulusan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


“Aku nggak pernah jatuh cinta sedalam ini, Aize!” ungkap Birru yang entah sudah berapa kali mengungkapkan rasa cintanya hari ini.


“Mas, kamu tiap hari selalu ngomong cinta. Aku tahu itu kok. Ini bukti cintanya udah jelas di perut aku,” balas Aize sembari menangkup wajah Birru yang menurutnya sangat menggemaskan.


Birru merasa bangga dengan hasil kerja kerasnya bersama Aize. Bayi kecil di perut Aize sebentar lagi akan semakin melengkapi kebahagiaan mereka.


“Aize, kamu membuatku malu!” Birru mendekap tubuh sang istri yang membuatnya tersipu. Jatuh cinta dengan Aize memang kebahagiaan terindah yang pernah Birru rasakan. Karena itulah, Birru merasa harus terus mengungkapkan rasa cintanya setiap saat.


**


**

__ADS_1


Sepulang dari rumah sakit, Birru mengajak Aize untuk kencan berdua saja. Laki-laki itu membawa sang istri ke pantai dan memesan kamar di sebuah hotel yang berada di tepi pantai.


“Kita akan menginap di sini, Sayang,” kata Birru setelah mendapatkan kunci kamar.


Ibu hamil itu tentu sangat bahagia karena diajak bulan madu oleh sang suami. “Kita nginep berdua aja. Arka gimana dong, Mas?”


Walau di rumah sudah ada banyak orang yang akan mengurus putranya, tapi tetap saja sebagai ibu Aize merasa cemas dan mengkhawatirkan Arka. Apalagi, mereka pergi tanpa mengatakan akan menginap. Arka pasti akan sangat kecewa.


“Aku udah nego sama dia, kamu tenang aja ya, Sayang. Kita di sini buat seneng-seneng. Biar baby kita juga seneng!”


Aize hanya bisa pasrah. Dia memilih menikmati liburan dengan sang suami dan mempercayakan semuanya pada Birru. Laki-laki itu pasti melakukan yang terbaik untuk keluarga kecil mereka.


Sore harinya, Aize yang masih hamil muda, berjalan pelan menyusuri pantai. Di sampingnya, ada Birru yang selalu menemani setiap langkahnya.


“Kamu bahagia nggak?” tanya Birru sembari menggenggam tangan Aize saat berjalan menyusuri tepi pantai.


“Bahagialah, Mas. Siapa yang nggak bahagia diajak jalan-jalan!” balas Aize masih belum memahami arah pembicaraan Birru.


“Maksudnya, kamu bahagia nggak nikah sama aku? Apa kamu ....”


Aize menoleh ke arah suaminya dan menutup mulut laki-laki itu. Dia memasang raut tersenyum dan berharap itu adalah jawaban yang bisa dimengerti Birru.


“Aku sangat bahagia, dan belum tentu ada orang lain yang bisa membahagiakan aku dan Arka, seperti kamu!”


Sebuah kecupan dari Aize mendarat di bibir Birru. Ciuman itu menutup sore yang teramat indah dengan senja yang mulai menghiasi cakrawala.


**

__ADS_1


**


Beberapa bulan berlalu dengan cepat. Hingga akhirnya, waktu persalinan telah tiba.


Setelah berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan bayinya, Aize akhirnya bisa memberikan kehidupan baru untuk kedua putrinya yang sehat.


Birru merasa gugup saat diminta menggendong salah satu bayi. Ini adalah pengalaman pertama baginya menyentuh bayi.


“Lagi-lagi mirip sama papanya!” komentar mama Birru yang saat ini tengah membantu Birru menggendong cucunya yang cantik.


“Aiz cuma kebagian pinjemin rahim aja, Ma!” balas Aize yang harus berbesar hati karena ketiga anaknya mirip dengan Birru.


“Tapi, Arka mau adik satu lagi ya, Ma! Biar Arka ada temennya!” celetuk Arka. Bocah itu sedang duduk di samping Aize untuk melihat adiknya yang lain sedang minum ASI langsung dari sumbernya.


“Wah, Papa setuju, Arka!” sahut Birru bersemangat.


“Nggak, nggak! Udah tiga anak aja. Hamil sama melahirkan itu berat! Kalian enak tinggal ngomong!”


Semua orang bersuka cita menyambut kedatangan anggota baru di keluarga mereka. Apalagi si kembar cantik yang sangat mencuri perhatian itu sukes membuat orang-orang di sekitarnya berebut ingin memberikan nama.


***


...SELESAI...


Terima kasih banyak ya untuk semua pembacaku kesayangan. Aku harap kalian tetap suport aku dan ikuti cerita terbaruku, "Bad Boy and His Secret Wife" nanti Insya Allah juga ada cerita-cerita baru lagi, yang sedang aku siapkan. Jadi ikuti semua kisahnya ya 🥰🥰 jangan di unsubscribe biar dapat info lainnya 🤭🤭


Wassalam, terima kasih banyak. I love you All ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2