
Emosi Aize saat ini sudah tidak bisa dibendung lagi. Secara membabi buta, dia memukuli wajah dan kepala Birru dengan sepatunya.
Sementara itu, Birru berusaha melindungi diri. Jika saja yang menyerangnya adalah Cakra, dia bisa saja balik menghajarnya, tapi yang saat ini sedang memukulinya adalah Aize. Seseorang yang selalu punya tempat di hatinya.
“Aku yang melahirkan Arka, dan aku yang paling berhak atas anakku.” Aize terus menjerit sambil memukuli Birru. Air matanya yang tumpah terus mengalir dengan deras hingga jatuh menyentuh kulit Birru.
Ayah kandung Arka itu tiba-tiba menahan kedua tangan Aize dengan satu tangannya. Dia langsung mencekal wanita itu dan membalikkan tubuhnya.
Posisi Birru saat ini berada tepat di atas tubuh Aize. Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya saat pertama kali melihat Aize. Lalu, tiba-tiba muncul bayangan saat pertama kali dia menyentuh Aize dan menyamar sebagai Cakra. Semua itu membuat suasana hati Birru menjadi kacau.
Cakra menyaksikan posisi Birru dan Aize yang mengganggu pikirannya. Tanpa berbasa-basi dia langsung menarik jas yang dipakai Birru dan langsung menghajarnya dengan brutal. Dia benar-benar tidak terima dengan perlakuan Birru pada Aize. Sebenarnya, dalam hati Cakra merasa kesal dan cemburu karena jadi membayangkan bahwa laki-laki yang memiliki wajah identik dengannya itu telah meniduri istrinya.
Aize mundur beberapa langkah dan menjauh. Dia menyaksikan betapa buasnya Cakra menghajar Birru yang telah menjatuhkan harga diri mereka. Sementara itu, melihat kedua putranya bertarung, mama dan papa si kembar itu berusaha memisahkan keduanya.
__ADS_1
Birru dan Cakra saling menghajar dan berguling-guling di lantai layaknya anak kecil yang berebut mainan. Namun, kali ini ada luka dan juga darah menghiasi wajah tampan mereka.
“Cakra, Birru, sudah! Apa kalian akan terus bertarung sampai mati?” teriak papa si kembar berusaha melerai Cakra dan Birru yang sulit dipisahkan.
“Mama mohon sama kalian, berhenti!”
Aize hanya diam meski suaminya sudah babak belur. Yang dia pikirkan sekarang adalah Arka. Bagaimana perasaan putranya itu saat tahu kebenaran yang terjadi. Pikirannya kini berada di ambang batas antara Cakra dan Arka. Kalau dia memilih Cakra, maka dia akan kehilangan Arka. Begitu pun sebaliknya, saat dia memilih Arka, satu-satunya cara saat ini hanya dengan menceraikan Cakra.
Cakra dan Birru mengabaikan kedua orang tuanya. Sampai akhirnya, papa si kembar itu masuk ke tengah perkelahian anak-anaknya dan mendapat bogem mentah dari Birru. Sontak saja laki-laki tua itu langsung jatuh tersungkur.
Birru yang tidak sengaja memukul sang ayah pun berdebar dengan keras. Dia lalu melihat ibunya yang menangis, setelahnya dia juga menatap Aize yang tengah melamun dengan tatapan kosong.
Dengan langkah cepat, Birru keluar meninggalkan rumah Cakra dengan sisa-sisa tenaganya. Dia pikir ini adalah saat yang tepat untuk membawa Arka pergi jauh.
__ADS_1
Sementara itu, Cakra dan ibunya berusaha menyelamatkan sang ayah yang terluka karena satu pukulan keras dari Birru. Usianya yang sudah tidak muda jelas tidak sebanding dengan Birru yang bukan tandingannya.
“Ma, tolong ambilkan air!”
Cakra dan ibunya mengurus sang ayah. Kemudian, setelah memastikan papanya itu baik-baik saja, Cakra baru menyadari bahwa Birru telah menghilang. Sementara Aize tenggelam dalam lamunannya sampai tidak sadar dengan apa yang terjadi pada mertuanya dan Birru yang melarikan diri.
“Aize!” Cakra berusaha menyadarkan istrinya dari lamunan. “Aize sadar!” Dia terus menggoyang-goyangkan tubuh Aize agar wanita itu bisa sadar.
Aize menatap Cakra yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya. Napasnya kini tersengal-sengal dan air mata pun meluncur deras dari kedua mata indah itu.
Cakra tidak tahan melihat penderitaan yang istrinya itu alami. Dia langsung memeluk Aize dan merasakan kesedihan mendalam yang sekarang dirasakan oleh Aize.
“Aku punya firasat kalau Arka akan dibawa pergi, Mas. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
__ADS_1
***
Kembang kopinya jangan lupa gaess 😘😘😘