
Arka menunggu untuk waktu yang cukup lama demi bisa menyapa adiknya pagi ini. Bocah itu memasang wajah cemberut karena harus menunggu sang ibu yang saat ini masih mandi, padahal dia sendiri juga harus bersiap ke sekolah.
Begitu Aize keluar dari kamar, Arka langsung memeluknya dan menghadiahi kecupan selamat pagi untuk adiknya yang masih berada di perut sang ibu.
“Maaf ya, Dek. Kakak bangunnya kurang pagi lagi. Kamu pasti udah dicium papa duluan ya!” kata Arka setelah selesai dengan kecupan di perut Aize.
Bocah itu menatap sebal pada sang ayah yang kini menatapnya sembari memainkan alis naik turun.
“Udah cium adek, kan? Sekarang, ayo kita mandi!” ajak Birru yang kini meraih tubuh Arka dan membawanya ke atas pundak.
“Papa curang lagi! Harusnya Arka tidur sama Mama juga!”
Aize mengusap perutnya yang masih belum terlalu buncit. Dia membiarkan Birru yang memandikan Arka sementara dia bisa bersantai.
*
*
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Aize dan Birru mendatangi dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilan Aize. Ini menjadi momen pertama untuk Birru menemani sang istri ke dokter, karena saat dinyatakan hamil kemarin Aize pergi sendirian.
“Kamu udah nggak sabar mau lihat dia ya, Mas?” tanya Aize kala melihat kecemasan di mata sang suami.
__ADS_1
Birru membuang napas dan berusaha terlihat tenang dengan senyum tipis yang menghias wajahnya. Memang sebenarnya dia cukup tegang karena saat kehamilan Arka dia tak merasakan momen ini. Ini adalah yang pertama untuknya.
“Aku ... aku cuma belum kebayang apa yang terjadi di dalam sana nanti,” jawab Birru.
Beberapa pasangan lain juga menunggu antrian di ruangan yang sama. Tampaknya akan ada banyak kehidupan baru yang kini sedang dinanti-nanti para orang tua.
Birru jadi teringat statusnya yang kini sudah menjadi suami dan calon ayah dari dua anak. Kalau dipikir-pikir, dia jadi merasa hebat karena sekarang impiannya telah menjadi kenyataan, terutama mimpi tentang Aize.
“Kenapa senyum-senyum?”
Birru belum sempat menjelaskan apa yang sekarang ada dalam pikirannya, tiba-tiba nama Aize dipanggil. Makin berdebar saja rasanya jantung Birru karena untuk pertama kalinya akan melihat langsung kehidupan baru yang bersemayam di rahim Aize.
Dokter menyapa, lalu berbasa-basi dan menanyakan keluhan yang mungkin dialami Aize. Sampai akhirnya, waktu USG pun tiba. Birru memperhatikan apa pun yang dilakukan oleh dokter.
Mulut Birru sedikit terbuka dan matanya tak berkedip saat melihat layar besar yang ditampilkan. Dia benar-benar takjub saat mendengar suara detak jantung calon anaknya yang baru berusia 12 minggu.
“Aize, lihat! Itu anakku!”
Raut bahagia terpancar jelas di wajah Birru yang benar-benar takjub melihat gambaran sebuah kehidupan di hadapannya.
“Anakku juga, Mas!”
__ADS_1
“Anak kita!” kata Birru yang kemudian mendaratkan kecupan di pipi Aize.
Tentu saja hal itu mampu membuat Aize merasa malu. Secara terang-terangan di depan dokter kandungan, bisa-bisanya laki-laki itu mengekspresikan kebahagiaan dan rasa cintanya lewat ciuman.
Melihat kebahagiaan kedua orang tua yang tengah menyambut anak kedua mereka itu, sang dokter pun ikut bahagia. Dokter itu juga menjelaskan bahwa semuanya sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Maka, makin bahagialah Birru dan Aize siang ini.
Usai dari ruang dokter kandungan, Birru menggandeng tangan Aize dan mengajaknya ke suatu tempat di rumah sakit itu. Aize tampaknya sedikit lupa, tapi Birru tak pernah melupakannya.
Laki-laki itu mengajak Aize duduk di sebuah bangku di ruang tunggu. “Kamu ingat tempat ini, Sayang?”
***
Udah gak sabar ya buat end 😂
Oiya mo inpoin nupel barunya Ratu Anu yak, jangan lupa kepoin
Karena sebuah tragedi penggrebekan, mereka terpaksa menikah dan menjalani rumah tangga tanpa cinta. Apalagi status sebagai guru dan murid, membuat mereka menyembunyikan ikatan suci itu di depan orang lain.
Lantas bagaimana bahtera rumah tangga mereka akan berjalan? Sementara sang pemegang kendali hanyalah seorang pemuda SMA yang dikenal brutal dan nakal.
__ADS_1
Jangan lupa kirim kembangnya buat Mas Bibi💋💋