
Setelah bertemu dengan ibunya, Arka bisa tertawa lepas sekarang. Bocah tampan berusia empat tahun itu tampak menikmati segala permainan di tempat hiburan itu.
Birru sangat pintar mengambil hati Arka. Mereka terlihat kompak saat bermain berpetualang menembak dinosaurus. Birru juga antusias membantu Arka saat memainkan permainan memancing di arena bermain itu.
“Papa bantu tarik, ikannya mau lepas!” teriak Arka dengan heboh.
Aize turut menatap layar yang menampilkan gambar kolam lengkap dengan ikan besar yang ditangkap Arka. Dengan sigap Birru membantu putranya itu menarik senar pancing agar ikannya bisa ditangkap dengan mudah.
“Hampir kena, Papa! Papa tarik terus! Yes, Papa hebat! Papa keren!” Bocah itu dengan lantang memuji Arka.
Tentu dalam hati Aize ingin berontak dan menjelaskan pada Arka bahwa laki-laki di hadapannya bukanlah sang ayah. Melainkan orang lain yang memiliki fisik sama persis dengan Cakra. Namun, Aize tak bisa melakukan itu karena aturan yang Birru buat.
“Iya dong! Papanya Arka!” balas Birru sembari mengecup kening Arka dan kembali melanjutkan permainan.
Setelah dari pusat permainan di mal itu, Arka merasa lapar dan akhirnya Aize dan Birru menemani putra mereka untuk mencari makan. Arka tampak bahagia dengan menggandeng tangan Birru dan Aize. Hal itu mengingatkan Aize pada sosok suami yang selama ini selalu melindungi dan menyayangi keluarganya.
“Papa kita makan ayam goreng ya!” usul Arka saat mereka masih menuruni eskalator untuk mencari tempat makan yang pas.
__ADS_1
“Oke! Mau makan di sana?” Birru menunjuk sebuah restoran cepat saji yang cukup terkenal. Dia tahu, anak seusia Arka pasti akan menyukai ayam goreng di restoran itu.
“Mau, Pa! Mau!” jawab Arka antusias.
Lagi-lagi Birru tersenyum penuh kemenangan. Dia bisa membuktikan pada Aize bahwa dirinya mampu membesarkan Arka dengan baik.
Aize hanya diam dan lebih fokus dengan Arka karena ini adalah kesempatan baginya untuk bersama putranya itu. Belum tentu besok Birru mengizinkannya bertemu dengan Arka lagi.
Birru memesan tiga porsi makanan. Sementara Aize menemani Arka di meja.
“Mama, apa Mama lagi marahan sama Papa?” tanya Arka yang kini hanya berdua dengan Birru. Akan tetapi, di meja lain ada suster Arka dan beberapa pengawal yang mengawasi gerak-gerik Aize dan Arka.
“Kok Arka tanya gitu? Mama sama Papa baik-baik aja kok.” Aize tersenyum dan mengusap rambut putranya. Dia berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya di hadapan Arka karena tidak ingin mengganggu mental putranya itu.
“Mama kenapa cemberut sama Papa? Mama marah sama Papa ya?”
Pertanyaan Arka memang terdengar polos, tapi bocah itu begitu peka dengan apa yang terjadi pada orang tuanya. Meski dia tidak paham bahwa papanya sekarang bersamanya bukanlah Papa Cakra yang dia kenal.
__ADS_1
Aize melirik Birru yang saat ini tengah menunggu pesanan makanan. Jelas saja dia tidak bisa bersikap ramah pada laki-laki itu karena Birru sudah menghancurkan kehidupannya yang bahagia.
“Mama … Mama cuma lagi banyak pikiran, Sayang. Mama lagi ada masalah kamu tahu itu, ‘kan?” Aize terpaksa berbohong pada putranya agar Arka tidak menaruh curiga.
“Masalah Mama kapan selesai? Arka nggak bisa bobok tanpa Mama!”
Tepat saat Arka menanyakan hal itu, Birru muncul dengan membawa nampan berisi nasi, ayam goreng, dan juga minuman serta sambal. Dia mengintimidasi Aize lewat tatapan matanya yang melotot.
Dengan sangat terpaksa dan penuh tekanan, Aize akhirnya kembali berbohong. “Maaf ya, Sayang. Mama belum tahu. Arka doakan Mama ya. Nanti kalau masalah Mama sudah selesai, Mama akan temani Arka lagi.” Sekali lagi Aize melirik Birru yang masih mematung mengawasinya. “Sementara ini, Arka sama Papa dulu ya!”
Rasanya hati Aize benar-benar hancur. Dia tidak ingin Arka bersama Birru, tapi kondisinya saat ini benar-benar tidak memungkinkan untuk menjelaskan semuanya pada Arka.
‘Mas Cakra, maafkan aku!’
***
Birru, mending sama othor aja. Nanti kita bikin dedeknya Arka yang lebih lucu 😘😘
__ADS_1
Mampir juga ke nupel barunya Bunda Lunoxs ya gaess, yang udah mampir, timaacih 😘😘😘