Dihamili Kembaran Suami

Dihamili Kembaran Suami
DKS ^ Bab 7


__ADS_3

Setelah kepergian Birru, Aize terus memikirkan kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki yang mengaku telah menghamilinya itu. Dia merasa bimbang, di satu sisi tidak bisa menerima fakta bahwa yang menghamilinya bukanlah suaminya, tapi di sisi lain apa yang dikatakan Birru itu terdengar sangat-sangat menyakinkan. Apalagi, sebelum dinyatakan hamil juga Cakra sempat didiagnosa memiliki masalah kesuburan.


Saat Aize masih larut dalam pikirannya, Cakra muncul karena mereka memang sudah janjian untuk pergi ke dokter bersama-sama. Melihat istrinya melamun, Cakra pun segera menghampiri istrinya itu.


“Sayang, kamu ngapain bengong di sini?” tanya Cakra yang seketika membuat Aize terlonjak kaget.


“Ma-Mas Cakra!” Wajah Aize seketika pucat dengan detak jantung yang berdetak dengan sangat cepat. Dia mengawasi wajah Cakra dan memastikan bahwa laki-laki yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Cakra, suaminya.


Cakra hanya tersenyum menanggapi keterkejutan Aize. Dia mengusap lembut kepala istrinya itu dan memberikan sebuah pelukan.


Aize berusaha menetralkan diri dalam pelukan Cakra. Wanita itu pun akhirnya merasa nyaman dan aman dalam dekapan Cakra.

__ADS_1


Setelah selesai melalukan pemeriksaan pada kehamilan Aize, mereka pun memutuskan untuk pulang agar Aize bisa langsung beristirahat. Dalam perjalanan pulang itulah, hati Aize kembali dilanda keraguan. Dia sangat penasaran dengan perkataan Birru yang mengaku telah memghamilinya, tapi dia juga takut kalau sampai Cakra menuduhnya yang tidak-tidak.


“Kamu kenapa sih, Sayang? Aku perhatikan kamu terus melamun! Ada apa sih?” tanya Cakra yang sejak tadi terus mengawasi ekpresi wajah istrinya.


Aize coba menyusun kalimat yang tepat pada Cakra, agar suaminya itu tidak salah paham dengan pertanyaannya.


“Em, aku pernah lihat Mas Cakra pulang lagi pas mau pergi ke luar kota waktu itu. Kata Mas Cakra, pesawatnya tertunda jadi Mas Cakra pilih tunggu di rumah. Aku nggak tahu itu mimpi atau nyata ya!” jawab Aize dengan lirih.


Cakra mengerutkan kening, lalu detik berikutnya dia tertawa. “Mungkin itu cuma halusinasi kamu, Sayang. Seumur-umur aku belum pernah mengalami keterlambatan pesawat.”


Wanita itu masih berusaha tenang supaya Cakra tak mencurigainya. Dia pun berusaha tertawa lirih mengimbangi suara tawa Cakra.

__ADS_1


“Kayaknya iya, deh. Akhir-akhir ini aku sering berhalusinasi,” balas Aize yang kemudian menatap Cakra di sebelahnya. “Aku bahkan pernah berhalusinasi kamu punya kembaran, Mas. Padahal kamu kan anak tunggal ya!”


Cakra menghentikan suara tawanya. Dia lalu menghentikan mobil sejenak dan menatap istrinya dengan wajah sedih. “Sebenarnya, aku memang punya saudara kembar.”


Dada Aize berdetak semakin cepat mendengar jawaban Cakra itu. Namun, sepertinya Cakra belum selesai bercerita.


“Kata Mama sama Papa, kembaran aku meninggal saat lahir. Mungkin, kalau dia masih hidup, kamu nggak berhalusinasi, Sayang. Tapi, kenyataannya lagi-lagi memang kamu berhalusinasi!” kata Cakra yang kemudian mengusap lembut rambut Aize.


Aize tak tahan lagi. Dia memeluk tubuh sang suami untuk menumpahkan kegundahan hatinya. Kalau Cakra dan keluarganya mengira kembaran Cakra sudah meninggal, lalu kenapa Birru muncul dan mengaku telah menghamilinya?


“Bagaimana kalau bayi dalam kandunganku ini benar-benar anak Birru, bukan anak Mas Cakra? Apa yang harus aku lakukan?”

__ADS_1


***


Ramaikan kolom komennya 💋 Carol belum aku update sampai kondisiku benar-benar fit ya man teman, maafkan aku 🙏


__ADS_2