
Arka dan Birru turun dari lantai dua sembari bernyanyi dengan nada keras. Bocah dalam gendongan ayahnya itu tampak bahagia karena dia baru tahu bahwa Birru tidak jadi pergi ke Amerika.
Kedua orang tua Birru yang hari ini akan pulang ke kampung, juga ikut bahagia melihat keceriaan Arka. Hal itu tentu saja menarik perhatian Aize yang saat ini sedang menyiapkan sarapan untuk mereka semua.
“Arka, kayaknya kamu lagi happy banget ya!” kata mama Birru saat cucunya sudah sampai di anak tangga terakhir.
Birru menurunkan Arka dan bocah itu langsung menghampiri kakek neneknya yang tengah bersiap akan pulang ke kampung. “Iya, dong, Nek! Papaku nggak jadi ke Amerika,” balas Arka yang sejak tadi terus mengenbangkan senyum.
Aize merasa lega mendengar penuturan Arka. Tidak sia-sia dirinya menangis semalaman dan meminta Birru untuk tetap tinggal walau pikirannya menolak itu.
Kalau saja tadi malam Cakra tidak hadir di mimpinya, dan Arka tidak menangis karena akan kehilangan kasih sayang ayah lagi, mungkin Aize tidak akan menahan Birru pergi. Mungkin juga dirinya akan bersemangat mengusir kembaran suaminya itu.
Melihat Aize yang diam-diam ikut bahagia karena Arka, Birru menghampiri wanita itu dan menawarkan bantuan. Namun, Aize jadi teringat sesuatu yang selama ini menjadi alasan Birru pergi ke Amerika.
__ADS_1
“Kamu nggak apa-apa kalau nggak jadi pergi? Pacar kamu gimana?” tanya Aize.
Sejak awal sebenarnya Aize sudah yakin kalau pacar yang Birru maksud itu hanya akal-akalan saja untuk membesarkan hati Cakra. Namun, demi menggali kejujuran hati Birru, dia sengaja menanyakannya.
Birru terdiam sejenak saat mendapat pertanyaan tak terduga dari Aize. Dia pikir, Aize memahami alasannya itu dan melupakannya, tapi ternyata tidak.
Tanpa berani menatap Aize, Birru menghela napas berat dan akhirnya menjawab jujur, “Sebenarnya, aku nggak punya pacar!” Kepala Birru bergerak dan matanya mulai berani menatap Aize untuk melihat reaksi wanita itu atas kejujurannya. “Aku ... aku sengaja bohong karena berharap Cakra melupakan wasiatnya dan bisa lebih semangat untuk sembuh, tapi ternyata Tuhan tetap memanggilnya pulang!”
Aize menghargai pengakuan jujur Birru. Dia jadi semakin yakin bahwa Birru sebenarnya baik, hanya mungkin nasib malang yang menanamkan kebencian dan kekejian di hatinya.
Aize tidak menyangka kalau Birru memang mencintainya sedalam itu. Meski Cakra sudah mengatakannya dulu, tapi tetap saja mendengar pengakuan Birru secara langsung membuatnya terkejut.
“Kamu tahu yang aku cintai cuma Mas Cakra. Walaupun dia udah nggak ada, tapi dia tetap ada di hatiku, sampai kapan pun itu. Birru kamu nggak bisa hidup sebagai bayangan Mas Cakra. Jadi, aku harap kamu bisa melupakan perasaanmu dan mencintai wanita lain. Kita masih bisa membesarkan Arka bersama-sama selayaknya orang tua yang memutuskan berpisah.”
__ADS_1
Penjelasan panjang lebar yang diucapkan Aize membuat harapan Birru kembali dipatahkan. Dia merasa seperti seorang laki-laki yang diceraikan tanpa adanya pernikahan. Namun, apa bisa dia menyerah seperti keinginan Aize?
Tidak, sama seperti Aize yang hanya mencintai Cakra, Birru juga merasakan hal yang sama. “Sama seperti kamu mengunci Cakra di hatimu sampai aku nggak bisa memasukinya, aku juga mengunci kamu di hatiku dan nggak akan ada yang bisa mengeluarkannya, Aize!”
Aize kehabisan kata-kata untuk menghasut pikiran dan hati Birru. Entah siapa yang akan kalah dan menyerah, mereka sama-sama mengeraskan hati.
Saat keduanya sama-sama terdiam, Arka yang sejak tadi bersama kedua kakek neneknya, kini menghampiri Aize dan Birru.
“Mama, Papa! Nenek sama Kakek mau pulang, kita bisa antar sampai kampung, ‘kan?” tanya bocah itu dengan wajah polos.
Sepertinya kedua kakek nenek itu sudah mempengaruhi Arka untuk bisa membujuk orang tuanya. Suasana kampung yang asri, akan sangat cocok untuk Aize dan Birru yang pasti sedang banyak pikiran.
Birru melirik kedua orang tuanya. Hatinya masih belum melunak untuk memaafkan mereka, tapi bisakah dia menolak keinginan sederhana Arka?
__ADS_1
***
Terus tiket pesawatnya diganti tiket ke kampung gitu😭😭 masih sisa nggak ya?