Dihamili Kembaran Suami

Dihamili Kembaran Suami
DKS ^ Bab 45


__ADS_3

Suara Arka yang terdengar panik, membuat Birru merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dia langsung memberi kode pada Roy untuk kembali secepatnya.


“Arka ada apa? Bicara yang jelas biar papa mengerti!” kata Birru pada sang putra yang masih berkomunikasi dengannya melalui panggilan telepon.


“Mama, Pa. Mama dapat telfon terus nangis, Papa Cakra tadi juga sempat muntah ada darahnya. Papa cepat ke sini, Arka takut!”


“Kamu tenang dulu ya, Sayang! Papa sebentar lagi datang! Kamu temani Mama terus pokoknya!”


Setelah mendapat kabar yang membuatnya khawatir, Birru dan Roy segera meluncur ke rumah sakit. Yang paling penting saat ini adalah keselamatan Arka, Aize, dan juga Cakra.


Sesampainya di rumah sakit, Birru melihat Arka dan Aize yang tampak sedang berpelukan. Sementara di dalam ruangan Cakra ada kedua orang tua Cakra dan Birru yang juga terlihat sangat sedih.


“Arka!” panggil Birru yang membuat Aize ikut menoleh padanya.


Bocah itu berlari menghampiri sang ayah yang baru datang. Meski tampak lelah, Birru tetap menggendong sang putra, lalu membawanya kembali duduk di dekat Aize.


“Aize ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Cakra?” tanya Birru pada istri kembaran itu.


Aize menggeleng lemah. Bukan hanya keadaan Cakra yang sekarang mengganggu pikirannya, tapi masalah usaha dan juga tuntutan dari beberapa pegawai yang ingin mengundurkan diri. Aize tidak pernah ikut campur dengan masalah usaha mereka sejak memiliki Arka, karena Cakra sendiri yang ingin dia bisa fokus mengurus anak. Lalu, sekarang saat suaminya sakit dan dihadapkan masalah, bukankah Aize yang harus mengambil alih tanggung jawabnya?

__ADS_1


“Aku nggak tahu kenapa masalah datang bertubi-tubi menimpa kami. Apa kesalahan kami sebenarnya?”


Birru menggendong Arka dan memasuki ruangan Cakra untuk mengambil tisu. Dia melihat saudara kembarnya itu sedang beristirahat. Dia sempat melirik orang tuanya yang menunggu Cakra dengan cemas. Namun, dia mengabaikannya tanpa mau menyapa atau berbasa-basi.


Tangan Birru terulur memberikan tisu pada Aize. “Jangan menangis, Aize. Aku akan mengurus semuanya! Sekarang fokuslah pada kesembuhan Cakra.”


Aize menatap laki-laki yang telah menghamilinya itu dan berusaha mencari ketulusan lewat matanya. Selama ini, sikap Birru sudah membuatnya curiga dan tidak bisa mempercayainya, tapi untuk saat ini memang tidak ada yang bisa Aize andalkan.


Melihat Aize diam dan hanya menatapnya, Birru sadar diri bahwa sulit bagi wanita itu mempercayainya setelah semua yang terjadi. Dia berinisiatif untuk mencari tahu apa yang terjadi pada usaha Cakra, tapi suara mamanya yang memanggil Cakra membuat niatnya tertunda.


Aize dan Birru yang tengah menggendong Arka sama-sama memasuki ruangan Cakra. Aize terlihat menghapus air matanya dan berusaha tersenyum di hadapan sang suami.


“Iya, Mas. Kamu butuh sesuatu?” tanya Aize sembari mendekatkan wajahnya pada sang suami.


“Maafkan aku, Aize! Aku belum menjadi suami yang sempurna buat kamu!” jawab Cakra dengan suara lirih dan hanya bisa didengar oleh Aize.


Aize berusaha menahan air mata yang menyeruak ingin keluar. “Kamu tetap suamiku yang paling sempurna, Mas. Nggak akan ada yang bisa gantikan kamu. Kamu yang terbaik!” Aize mendaratkan kecupan di kening Cakra, dan segera menghapus air mata yang terlanjur keluar dari pelupuk matanya.


“Kalau aku pergi, kamu mau hidup sama Birru, ‘kan? Cuma dia yang bisa aku percaya, Aize!”

__ADS_1


“Nggak, Mas! Kamu harus bertahan, kamu nggak boleh pergi!”


“Birru!” panggil Cakra yang membuat Aize semakin berlinang air mata.


Aize melirik Birru dan membiarkan laki-laki itu mendekati Cakra. Hatinya begitu rapuh hingga tidak sanggup menahan rasa sesak di dada melihat keadaan Cakra yang sudah sangat mengkhawatirkan.


“Kalau aku pergi, kamu boleh menikahi Aize. Tapi, di kehidupan selanjutnya, kembalikan dia sama aku!”


Meski sangat lirih, Aize bisa mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Demi apa pun, dia tidak pernah berpikir untuk menggantikan Cakra dengan yang lain, sekalipun suaminya itu pergi untuk selamanya.


Birru menatap Aize. Dia tahu betapa hancurnya hati Aize mendengar ucapan Cakra, dan itu membuat Birru menolak ucapan saudara kembarnya itu.


“Aize cuma punya kamu, Cakra. Kamu jangan bicara sembarangan! Aku sedang cari rumah sakit terbaik buat kamu! Jangan menyerah!” seru Birru menyemangati kembarannya.


“Aku nggak yakin bisa bertahan terlalu lama! Kamu harus janji, Birru. Di kehidupan selanjutnya Aize tetap milikku!”


***


Hu.. aku deg degan 🙈🙈

__ADS_1


__ADS_2