Dihamili Kembaran Suami

Dihamili Kembaran Suami
DKS ^ Bab 58


__ADS_3

Rencana kedua orang tua Birru untuk membuat laki-laki itu mengantar mereka pulang ternyata berhasil. Birru bersedia mengantar kedua orang tuanya itu asal Arka dan Aize ikut.


Lokasi kampung yang tak begitu jauh, membuat mereka sepakat untuk pergi dengan mobil. Namun, sebelum meninggalkan kota, mama Birru memintanya untuk mampir di makam Cakra. Wanita itu ingin mengucapkan selamat tinggal pada sang putra yang telah membuatnya bahagia selama lebih dari tiga puluh tahun.


Keluarga itu sama-sama mengunjungi makam Cakra yang masih merah. Rasanya, rindu mereka sedikit terobati sejak tiba.


Bunga-bunga yang mengiasi tanah di atasnya sudah layu dan kering. Aize pun menggantinya dengan bunga baru agar makam suaminya itu bisa tetap harum. Tak lupa, wanita itu juga membawa buket bunga cantik yang biasa Cakra hadiahkan untuknya.


‘Mas Cakra. Aku datang! Apa kamu di sana bahagia, Mas? Sekarang aku juga sudah mulai melanjutkan hidup. Aku ingin meneruskan perjuanganmu, Mas! Kamu suami yang baik, yang nggak pernah berbuat salah padaku. Bahkan, mungkin selamanya aku tidak akan menemukan suami sepertimu!’


Aize terlihat melamun. Kali ini dia sudah lebih tegar. Air matanya tidak menetes, tapi senyum tipis menghias wajahnya. Aize sudah berjanji untuk melanjutkan hidup dengan bahagia saat bertemu Cakra di alam mimpi.


Wanita itu lalu memekamkan mata dan memanjatkan doa untuk ketenangan suaminya. Dia juga berdoa agar kelak dipertemukan lagi dengan Cakra yang sangat dicintainya.


“Mama, Mama hebat. Mama nggak nangis!” ucap Arka sembari menggandeng tangan ibunya meninggalkan makam Cakra.

__ADS_1


Aize tersenyum pada sang putra, lalu dia menoleh ke belakang dan mengucapkan selamat tinggal pada kekasih hatinya. “Mas Cakra, aku pulang! Lain kali aku akan datang lagi!”


**


**


Birru menyetir mobil sendiri karena Roy harus menggantikan pekerjaannya juga mengurus restoran Aize. Laki-laki itu tidak mau duduk di depan bersama ayah atau ibunya, karena itulah Arka yang duduk di depan.


Perjalanan selama hampir tujuh jam, rupanya membuat Arka mengantuk meski belum sampai setengah perjalanan. Akhirnya, Aize pun terpaksa menggantikan putranya itu karena persyaratan Birru sejak awal.


“Kalau kamu butuh waktu buat nerima kepergian Cakra, kurang lebih juga sama kayak gitu. Butuh waktu buat mengobati rasa sakitnya, Aize!”


Mungkin memang Birru masih butuh waktu untuk menerima dan memaafkan kedua orang tuanya. Pasalnya, rasa sakit yang dia rasakan dulu masih sangat terasa di hatinya.


Aize pun tak bisa memberi komentar lagi karena dia sendiri tidak mengerti sedalam apa luka hati Birru di masa lalu.

__ADS_1


Perjalanan panjang itu pun akhirnya usai. Mobil yang dikendarai Birru berhenti di halaman depan rumah orang tuanya. Begitu keluar dari mobil, udara dingin menyambut mereka di sore yang hampir hilang.


“Wah, di sini sejuk! Apa di sana itu air terjun?” Aize menunjuk air terjun yang tak jauh dari pekarangan rumah mertuanya.


Suasananya begitu asri dan masih alami. Di tempat inilah, Cakra dulu dibesarkan.


“Cuma rumah ini yang tersisa, Aize. Semoga kamu, Arka, dan juga Birru mau tinggal sebentar untuk menikmati keindahan alam di sini!” kata papa Birru yang sekarang terlihat lebih menikmati kehidupan sederhananya.


Melihat wajah tua sang ayah yang tampak bahagia, hati Birru terasa sedikit hangat. Dia pikir dengan membuat orang tuanya bangkrut, kehidupan mereka akan menderita, tapi rupanya Birru salah. Mereka justru semakin menyadari kesalahan dan mulai menerima takdir dan menjalaninya.


“Apa Papa ingin mulai usaha lagi? Aku bisa kasih modal!”


***


Aku, aku, aku. Aku butuh modal juga Bi 🥲🥲 Modal mencintaimu❤️

__ADS_1


__ADS_2