Dihamili Kembaran Suami

Dihamili Kembaran Suami
DKS ^ Bab 59


__ADS_3

Tinggal di desa yang asri, dengan pemandangan sawah dan air terjun yang jatuh dari tebing tinggi, benar-benar membangkitkan semangat hidup Aize. Dia bersama ibu mertuanya dan Arka saat ini sedang berjalan di tengah-tengah persawahan yang tak jauh dari rumah.


“Kalau Arka nggak sekolah, Mama pasti ajak kamu tinggal di sini, Aiz!” ucap ibu mertua ketika melihat wajah berbinar menantunya yang tampak bahagia di tengah-tengah masa berkabungnya.


“Iya, Ma. Di sini enak banget ya. Mama bisa garap sawah?” tanya Aize begitu penasaran.


Wanita yang telah melahirkan Cakra dan Birru itu tertawa mendengar pertanyaan menantunya. Dulu, mereka membeli sepetak tanah untuk investasi. Lalu, dia dan suaminya mulai membangun rumah di tanah yang mereka beli itu. Sampai akhirnya, mereka juga mendapat sawah dengan harga yang cukup murah.


Awalnya mereka hanya membeli tanpa tahu akan digunakan untuk apa. Mereka menyewakan sawah itu kepada warga yang bersedia menggarapnya tanpa memikirkan hasil panen. Bahkan, orang tua Cakra dan Birru itu sempat melupakan investasi jangka panjang yang mereka punya di desa itu. Hingga pada saat mereka mendapat musibah tertipu, mereka baru mengingat aset di kampung, dan memutuskan untuk melanjutkan hidup di sana.


“Mama cuma nikmati hasilnya, yang kerjain semua ya orang-orang sini, Aiz!”


Sementara Aize dan ibu mertuanya berada di sawah, Birru memperhatikan mereka dari jarak jauh. Laki-laki itu memandangi Aize dan Arka yang terlihat bahagia di tengah udara yang sangat dingin ini.

__ADS_1


Melihat putranya yang sedang memandangi sang ipar sambil senyum-senyum tanpa sadar, ayah Birru menepuk pundaknya dengan pelan. “Aize itu sangat mencintai Cakra. Mereka sudah bersama sejak lama, jadi pasti sangat sulit untuk Aize menggantikannya dengan siapa pun,” kata laki-laki tua itu.


Birru menoleh dan melihat sang ayah yang baru saja membuat kopi di dapur. Rupanya, laki-laki tua itu juga memberikan secangkir kopi untuknya.


“Tanah makam Cakra juga masih merah, masih basah. Biarkan Aize menjalani hidupnya dengan kondisi sekarang. Kamu tetap berbuat baik saja, siapa tahu, setahun atau dua tahun lagi dia bisa menerimamu sebagai Birru, bukan Cakra!”


Birru mengerti dan mulai paham. Yang Aize butuhkan saat ini hanyalah dukungan. Dia perlu beradaptasi dengan status barunya, dan akan lebih baik kalau Birru tidak membahas tentang cintanya pada Aize saat ini.


**


**


“Kamu suka mancing juga, Bi?” tanya sang ayah saat menyesuri jalan menuju sungai.

__ADS_1


Birru berjalan di belakang, sedangkan papanya berjalan lebih dulu untuk memberi tahu jalan yang benar.


“Ya, kadang-kadang. Kalau di sungai arus deras gini belum pernah sih!” jawab Birru.


“Jangan salah, di sini ikannya lumayan banyak kok! Papa sering mancing di sini juga. Kalau Cakra itu nggak suka mancing.”


Tanpa disadari, ucapan sang ayah terdengar seperti sedang membandingkan kedua putranya. Laki-laki itu berhenti sejenak dan menatap putranya yang juga terpaksa berhenti.


“Maafkan papa, Bi. Papa nggak bermaksud ... Papa banyak salah sama kamu dan Cakra. Terutama kamu. Papa nggak tau kehidupan kamu akan seberat ini. Papa emang papa terburuk yang pernah ada, Bi!”


Birru menghela napas dengan berat setelah mendengar permintaan maaf yang keluar dari mulut sang ayah. Laki-laki itu lalu menelan ludah dengan kasar sebelum akhirnya berkata, “Udahlah lupain aja! Aku juga udah maafin Papa. Benar kata Aize, nggak ada orang yang benar-benar suci tanpa kesalahan di dunia ini. Dan dendam juga nggak bisa bikin aku bahagia!”


***

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa, kemarin gak up gak dicariin yak wkkk


__ADS_2