
Arka memeluk Birru dengan erat. Bocah itu sangat menyayangi Birru karena ikatan batin yang cukup kuat di antara keduanya.
Birru memberikan sebuah tablet untuk putranya itu agar mereka bisa berkomunikasi. Birru juga membiarkan Aize membawa pulang putra mereka tanpa mengatakan apa pun tentang kebenaran yang banyak dia tahu.
Sementara itu, Cakra berjanji akan mengizinkan Birru untuk bermain dengan Arka tanpa menghalang-halangi hubungan mereka. Walau sebenarnya dia juga merasa sakit untuk mengakui bahwa Arka adalah anak Birru.
“Terima kasih Birru. Kamu sudah mau berbesar hati. Aku nggak akan menghalangi kamu kalau mau ketemu Arka!”
Birru hanya mengangguk dan mengantarkan Arka pergi dengan kedua orang tuanya. Dia memang bersedia melepaskan seluruh dendam dan kebenciannya pada Cakra karena Arka, tapi hal itu tidak akan berlaku untuk kedua orang tuanya. Dia masih menyimpan sakit hati yang mendalam, apalagi mengingat bahwa dirinya seakan dianggap mati. Padahal kehidupannya benar-benar menyedihkan.
Saat ini, Arka sudah berada di perjalanan menuju rumah Cakra. Dia tampak sedih harus berpisah dengan Birru, tapi di sisi lain bocah tampan itu juga tengah bahagia bisa kembali dengan keluarganya.
“Arka, kangen sama Papa nggak?” tanya Cakra yang kini tengah mengemudikan mobil sembari sesekali melirik Arka yang tengah dipangku Aize di kursi penumpang sebelahnya.
__ADS_1
Bocah itu balas menatap Cakra dan tersenyum. “Aku kangen banget sama Papa. Wajah Papa Cakra sama Papa Birru beneran sama. Aku sampai bingung,” jawab Arka dengan jujur.
Aize yang tengah memangku Arka pun kini membelai lembut kepalanya dan memeluk dengan erat. “Tapi Papa Birru nggak nyakitin kamu, ‘kan? Kamu tahu dari mana Sayang kalau dia bukan Papa Cakra?”
Arka lalu menjelaskan pada Aize dan Cakra bahwa dia sempat mendengar percakapan Birru dengan seseorang yang membuat bocah itu menyadari bahwa yang membawanya pergi bukanlah Cakra. Dia juga ingat saat Birru membawanya dalam keadaan sakit, bocah itu melihat ibunya tertidur di sofa dan tidak bergerak meski dia berkali-kali memanggilnya.
Arka juga menjelaskan bagaimana Birru merawatnya saat sakit dan memberikan perhatian lebih saat dia sembuh. Dari cerita Arka itulah, Cakra dan Aize merasa bersyukur karena Birru bersikap baik pada Arka meski laki-laki itu menyakiti mereka.
Sesampainya di rumah, Arka disambut bahagia oleh kakek neneknya. Mereka tidak peduli Arka mau anak Cakra atau Birru, yang jelas bocah itu tetaplah cucu mereka.
**
**
__ADS_1
“Kamu mau tidur di kamar Arka lagi?” tanya Cakra saat melihat Aize selesai berganti pakaian tidur dan bersiap untuk ke kamar putra mereka.
“A-aku ... aku masih kangen Arka, Mas. Nggak apa-apa, ‘kan?”
Cakra melirik istrinya yang terlihat gugup. Ia lalu menghampiri Aize dan menyentuh pundaknya. “Arka pasti udah tidur. Kamu mau menghindari aku, ‘kan? Kenapa Aize? Apa karena Birru?”
Aize mendongak dan menatap suaminya yang jauh lebih tinggi darinya. “Aku masih merasa bersalah sama kamu, Mas. Rasanya aku nggak pantas melayani kamu karena aku nggak bisa jaga diri! Kamu pasti juga merasa jijik sama aku, ‘kan?”
Cakra menyentuh wajah Aize dan menatap mata istrinya dalam-dalam. “Kemarin-kemarin sebelum aku tahu, kamu masih mau melayani aku, Aize. Empat tahun itu bukan waktu yang sebentar. Kenapa sekarang kamu jadi merasa insecure?”
“Karena sekarang kamu tahu, Mas! Selama ini aku juga merasa nggak pantes buat kamu, tapi aku nggak mau kehilangan kamu. Makanya, aku merasa berat banget buat mengakui semuanya. Apalagi, sekarang kamu juga nggak pernah panggil aku “Sayang” lagi, Mas.” Air bening mengalir deras dari mata Aize. Dia benar-benar dilanda krisis kepercayaan diri karena merasa hina.
***
__ADS_1
Ramaikan komennya yuk 💋💋💋