
Gundukan tanah merah menjadi penutup yang sempurna untuk menyelimuti tubuh Cakra yang kini telah kembali ke tanah. Beberapa pelayat yang datang satu per satu telah meninggalkan pemakaman yang menjadi rumah terakhir Cakra.
“Mas, nanti malam kamu pasti kesepian! Aku nggak bisa temani kamu lagi, Mas!” ucap Aize yang masih berharap semua ini hanya mimpi.
“Aize, biarkan Cakra pergi dengan tenang. Kita harus lanjutkan hidup kita!” sahut ayah Cakra yang tentu juga merasa sangat kehilangan dengan kematian Cakra.
“Aize, kamu masih ada Arka yang butuh kamu. Kamu harus kuat!” timpal ibunda Cakra yang juga sedang berusaha mengikhlaskan anaknya demi jalan terang yang akan dilalui Cakra untuk kehidupan selanjutnya.
“Aize ayo kita pulang!” ajak Birru membantu Aize bangun dari makam.
Sejak Cakra dinyatakan meninggal, dialah yang selalu siaga menjaga Aize. Sementara tugas menjaga Arka untuk saat ini diserahkan pada Roy.
Aize sangat berat meninggalkan tempat Cakra, tapi dia harus melakukannya karena hidup harus terus berlanjut. Wanita itu berjalan pelan menuju mobil. Sesekali dia menoleh ke belakang dan berharap Cakra hidup kembali, sayangnya itu hal yang mustahil.
‘Mas Cakra, selamat jalan! Dunia kita memang sudah berbeda. Tapi cinta kita akan tetap abadi selamanya ‘kan, Mas? Semoga kamu tenang di sana, Mas. Sampai ketemu di keabadian nanti!’ batin Aize yang masih merasakan sesak di dadanya.
**
**
__ADS_1
**
Seminggu setelah Cakra meninggal, Aize masih suka mengurung diri di kamar. Dia masih berkabung dan merasa sangat kehilangan suami tercinta. Mungkin memang mudah mengatakan untuk berusaha melepaskan, tapi nyatanya itu adalah hal yang sangat sulit untuk Aize.
Di rumah yang telah dia tinggali bersama Cakra sejak Arka masih bayi itu, semua sudutnya memiliki kenangan yang indah tentang Cakra. Apalagi di kamar yang telah menjadi saksi semua cinta mereka, Aize masih bisa merasakan kehadiran suaminya itu.
“Mama, ayo kita makan!” ajak Arka yang sudah masuk ke kamar Aize tanpa wanita itu sadari.
“Arka! Kamu makan dulu sama Kakek sama Nenek ya, Sayang!” balas Aize dengan lembut.
Sudah beberapa kali Aize tidak makan dengan teratur. Tentu saja hal itu mengundang keprihatinan dari semua orang, termasuk orang tua Cakra yang masih menemaninya hingga seminggu ini.
“Arka, mama bilang kamu makan dulu. Nanti kalau Mama lapar, mama pasti akan makan!”
Saat Arka masih berusaha membujuk Aize agar mau makan, Birru datang untuk menemui Arka dan sekaligus menengok keadaan Aize. Laki-laki itu merasa bertanggung jawab pada Aize dan Arka karena pesan terakhir yang disampaikan oleh Cakra.
“Birru!” sapa ayah kandung Birru saat membuka pintu.
“Aku ke sini mau ketemu Arka!” kata Birru dengan wajah datar. Dia sama sekali tidak tertarik untuk berbasa-basi dengan ayahnya itu.
__ADS_1
“Arka di dalam. Dia lagi bujuk Aize untuk makan. Kamu masuk saja, mungkin kamu bisa bujuk Aize, dari pagi nggak makan apa-apa soalnya!”
Seketika itu Birru langsung masuk ke rumah Aize dengan langkah cepat. Dia menuju kamar Aize dengan terburu-buru, sampai-sampai mengabaikan sang ibu yang menyapanya.
“Ayolah, Mama! Apa Mama mau Arka suapi?” tanya Arka yang belum menyerah membujuk Aize agar mau keluar kamar dan makan.
“Mama belum lapar, Arka!”
“Aize!” Birru berjalan mendekati Aize yang duduk di ujung ranjang, sedangkan Arka di sampingnya tampak sedang mengkhawatirkan ibunya itu. “Aize kalau kamu sakit, bukan Cuma tubuh kamu yang rugi. Tapi, kamu juga akan merugikan Arka!”
Aize menoleh pada Birru yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya. Dia melihat wajah itu dan kembali menangis. Jelas saja Aize teringat kembali dengan Cakra yang memiliki wajah persis dengan Birru.
“Kenapa kamu ke sini? Katanya kamu mau ke Amerika. Aku nggak suka lihat wajah kamu. Kamu malah bikin aku sulit ngelupain Mas Cakra tahu nggak! Kamu bohong soal pacar kamu itu, ‘kan? Sebenarnya kamu senang kalau Mas Cakra meninggal, ‘kan?”
Aize malah menumpahkan emosinya yang selama ini tidak bisa dia lampiaskan pada siapa pun. Walaupun Birru bukanlah penyebab Cakra meninggal, tapi luka yang ditorehkan laki-laki itu tidak mudah disembuhkan. Apalagi, Birru memiliki semua perwujudan dari suaminya yang telah pergi.
“Aku nggak akan pernah mau nikah sama kamu! Jadi kamu pergi saja!”
***
__ADS_1
Kalau ada typo, atau salah nama jangan ragu buat komen ya Gaess 🥰🥰