
Cakra memeriksa CCTV untuk mencari tahu ke mana Birru pergi. Namun, rupanya saudara kembarnya itu tidak mendapat jemputan seperti yang Cakra duga sebelumnya. Dia meninju udara karena gagal mendapat petunjuk tentang keberadaan Birru dan Arka saat ini.
Di tengah-tengah keputusasaan yang saat ini dirasakan oleh Cakra, tiba-tiba saja Aize datang dan menyampaikan apa yang dilihatnya saat terakhir melihat Arka. “Mas, aku tahu plat nomor mobilnya!”
Seperti memiliki harapan baru, Cakra segera mencari tahu informasi mengenai pelat nomor mobil yang disebutkan oleh Aize. Dalam sekejap, ia berhasil mendapatkan alamat rumah yang terdaftar untuk nomor mobil itu dan diduga kuat itu adalah tempat tinggal Arka saat ini.
“Mas, kalau kita salah gimana? Itu akan buang-buang waktu!” Aize merasa ragu karena bisa saja Birru sengaja menggunakan alamat palsu untuk mendaftarkan kendaraan roda empat miliknya itu.
“Aize, kita nggak akan tahu kalau belum mencoba. Lagi pula, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga!” Cakra sangat yakin bahwa kali ini pasti dia akan menemukan tempat persembunyian Birru.
Sementara itu di sisi lain, Birru saat ini sudah sampai di rumahnya, Dia langsung memerintahkan pelayan dan juga kaki tangannya untuk mengurus kepergian mereka ke luar negeri. Kebetulan semua dokumen Arka juga sudah siap dengan memalsukan datanya.
“Papa! Papa kenapa wajahnya?” tanya Arka saat menghampiri sang ayah yang tengah mengobati lukanya sendiri.
Birru menatap Arka yang cukup membuatnya terkejut karena datang ke ruang kerjanya. Entah ke mana suster yang ditugaskan untuk menjaga bocah itu.
“Papa ... Papa tadi ketemu penjahat, terus kita berantem! Tapi, Arka jangan tiru Papa ya. Ini enggak baik, Mama pasti enggak suka!” Birru berusaha menjelaskan alasan yang bisa diterima akal anak seusia Arka. Meski tubuhnya terasa remuk dan sakit, tapi Birru tetap mengangkat tubuh Arka dan memangkunya.
__ADS_1
Arka mengangguk, mengerti apa yang dijelaskan oleh ayahnya itu. “Suster lagi kemas-kemas barang. Apa kita akan pulang, Pa?”
“Kita akan pergi ke tempat yang jauh. Karena di sini banyak yang ingin pisahkan Arka sama Papa.”
Arka menatap Birru dan merasa sedih dengan luka yang diderita ayahnya itu. Dia juga melihat tanda lahir yang dimiliki Birru, membuatnya yakin ada sesuatu yang berbeda dengan ayahnya.
“Apa Papa ingin memisahkan aku sama Mama dan Papa Cakra?” tanya Arka yang sepertinya mulai menyadari bahwa Birru dan Cakra adalah orang yang berbeda.
Pertanyaan Arka itu membuat mata Birru melotot seketika. Dia tidak menyangka jika Arka akan mengetahui fakta tentang dirinya secepat ini.
“Papa Birru bukan suaminya Mama aku. Suaminya Mama itu Papa Cakra. Tapi, aku juga suka sama Papa Birru!”
“Aku akan ikut Papa, tapi tolong jangan sakiti Mama! Aku lihat Mama tadi diam-diam mengusap air mata. Mama pasti sangat sedih.”
Bocah yang berusia empat tahun itu benar-benar luar biasa. Birru tidak pernah menduga jika Arka memiliki kecerdasan yang tinggi. Sekarang, hatinya jadi ketar-ketir dan merasa tidak bersalah telah memisahkannya dengan Aize.
“Kamu beneran mau ikut papa?” tanya Birru dengan bimbang.
__ADS_1
Arka mengangguk setuju meski wajahnya tampak sangat sedih. “Asal Papa jangan sakiti Mama dan Papa Cakra!”
Saat Birru dan Arka masih dalam suasana tegang, tiba-tiba suara Cakra terdengar memanggil Arka berulang-ulang.
“Arka kamu di sini jangan keluar!” perintah Birru saat menyadari bahwa Cakra berhasil menerobos keamanan rumahnya.
Benar saja, saat Birru keluar dari ruang kerjanya, rupanya Cakra dan Aize ada di sana. “Dewa!” teriak Birru memanggil orang kepercayaannya.
“Arka mana?”
Belum sempat Birru menjawab pertanyaan Aize itu, dua pelayan turun membawa dua koper yang telah mereka siapkan untuk kepergian Birru dan Arka. Para pelayan itu tampak syok saat melihat Birru ada dua orang. Kalau bukan karena baju yang berbeda, mereka pasti tidak bisa mengenali yang mana yang Birru dan yang mana yang bukan Birru.
Birru memberi kode pada suster Arka untuk mengamankan Arka yang saat ini berada di ruang kerjanya. Lalu, tanpa segan dia mengeluarkan pisstol dari laci di sebelahnya dan mengarahkannya pada Cakra.
“Jangan menghalangiku atau aku tidak segan-segan untuk menembakmu!” ancam Birru yang saat ini hanya memikirkan cara untuk membawa Arka pergi.
Aize langsung maju ke arah Birru yang tengah mengacungkan senjatanya itu. “Aku yang akan menghalangimu. Tembak saja! Tembak aku, Birru! Saat kamu membawa putraku pergi, saat itu juga kamu membawa separuh nyawaku. Dan jika aku kehilangan Mas Cakra juga, maka setengah nyawaku yang lain ikut pergi. Sekarang, tembak saja aku, biar kamu bisa merasa puas dengan dendammu itu!”
__ADS_1
***
Ramaikan komennya gaess 😘😘😘