Dihamili Kembaran Suami

Dihamili Kembaran Suami
DKS ^ Bab 48


__ADS_3

Mario tidak bisa kabur dari Birru. Dia tahu Birru sedang tidak main-main dengan ancamannya. Jika email itu benar-benar dikirim, semua aibnya ada di sana dan semua pasti akan hancur. Akan ada banyak nama yang ikut terseret nantinya.


“Aku mau lihat dulu email terjadwal yang kamu maksud itu!” kata Mario setelah berpikir cukup lama.


Dalam hitungan lima detik, Birru memperlihatkan email yang memang masih dijadwalkan itu. Tubuh Mario langsung lemas saat melihat langsung isi email itu meskipun hanya beberapa detik.


“Baiklah. Aku ikuti maumu!” ucap Mario dengan pasrah.


Birru tersenyum sinis. “Aku akan batalkan emailnya setelah kamu lakukan semua perintahku. Waktumu hanya tersisa kurang dari dua puluh empat jam. Jadi, jangan sia-siakan waktumu, Tuan Mario!”


Birru sempat menepuk pundak Mario sebelum meninggalkan ruangan Mario. Dia sudah membereskan semua masalah Cakra, setelah ini Birru berharap kembarannya itu bisa lebih semangat untuk sembuh kembali.


**


**


Di rumah sakit, Cakra terus membujuk Aize untuk menerima Birru jika dia pergi. Namun, Aize terus bersikeras untuk menikah hanya sekali.


“Aku yakin kamu bisa sembuh, Mas. Kamu mau lihat Arka tumbuh dewasa, ‘kan?” tanya Aize yang terus memberikan semangat dan motivasi untuk sang suami tercinta.

__ADS_1


Cakra sebenarnya sangat ingin bertahan dan sembuh, tapi tubuhnya terasa sudah sangat lemah. Dia tidak tahu apakah jiwanya bisa bertahan lebih lama, tapi yang jelas Cakra ingin memastikan Aize dan Arka bahagia dan aman sebelum dia meninggalkan mereka.


“Birru orang yang baik, Aize. Dia juga ayah yang baik untuk Arka. Kepalaku semakin terasa sakit, dan rasanya aku tidak bisa bertahan lebih lama!” ucap Cakra dengan suara yang sangat lirih.


Bulir-bulir di mata Aize sudah tidak bisa terbendung lagi. Tiap kali Cakra mengatakan pesan-pesannya, rasanya hatinya semakin takut kehilangan.


“Nggak, Mas. Sebaik apa pun dia, kalau bukan kamu aku nggak bisa terima!” balas Aize. Tumpah sudah semua kesedihannya. Wanita itu memeluk tubuh Cakra dan berharap itu bisa menahannya pergi.


Birru telah menyelesaikan urusan Cakra dengan baik. Beberapa waktu yang lalu polisi sudah mengidentifikasi jasad Rose. Lalu, Mario juga sudah membuat pernyataan tentang restoran Cakra dan meminta maaf.


Saudara kembar Cakra itu kembali mengunjungi rumah sakit untuk menyampaikan langsung kabar bahagia ini pada Cakra. Sekaligus menunggu kedatangan Mario untuk meminta maaf pada Cakra secara langsung sebelum nantinya menyerahkan diri pada hukum atas kasus tabrakan maut yang dia lakukan, tapi malah membuatnya bebas dari tuntutan.


“Cakra! Aku bawa informasi penting!” ucap Birru yang membuat Arka terbangun dari tubuh Cakra dan langsung memeluknya.


“Papa!”


Arka tahu waktu Cakra tinggal sebentar lagi, dan dia merasa sangat sedih dengan keadaan papanya itu.


“Sebentar ya, Sayang. Arka sama Om Roy dulu!” kata Birru sebelum akhirnya menggendong putranya itu dan menyerahkannya pada Roy.

__ADS_1


“Rose sudah meninggal! Dan masalah di kafe sama restoran sudah beres. Sekarang sebagai ucapan terima kasih karena aku sudah membantumu, aku mau kamu sembuh, Cakra!” ucap Birru bersungguh-sungguh.


Napas Cakra tersengal-sengal dan sorot matanya tampak berbeda. Laki-laki itu terlihat lebih bersinar dari biasanya dan Birru jadi bingung melihatnya.


“Terima kasih, Birru. Maaf, aku hanya bisa buat kamu susah. Tapi, aku nggak bisa membalas kebaikanmu. Aku ... aku sudah tidak tahan lagi. Aize, aku mencintaimu!”


Beberapa saat setelah mengatakan itu. Cakra terdiam. Wajahnya terlihat tenang dan tidak lama dia pun menutup mata.


Aize menangis histeris memanggil suaminya. Dia berusaha membangunkan Cakra tapi laki-laki itu tidak juga merespons.


“Mas Cakra! Mas Cakra bangun!” teriak Aize yang saat ini belum bisa menerima takdir.


Dokter dan perawat berdatangan untuk memeriksa keadaan Cakra, dan itu memaksa Aize untuk mundur.


Birru terpaksa memeluk Aize dari belakang karena wanita itu terus berontak. Dia tidak percaya dokter bisa membangunkan suaminya karena Cakra pasti lebih mendengar suaranya.


“Mas Cakra! Aku mohon jangan pergi!” Aize terus menjerit, tapi itu sama sekali tidak berguna karena Cakra telah pergi meninggalkannya.


***

__ADS_1


Jangan nangis gess, Cakra udah gak kesakitan lagi. Apa kalian berharap ini prank 🤣


__ADS_2