
Pertanyaan Birru membuat Aize jadi salah tingkah. Mereka memang orang tua kandung Arka, tetapi keduanya tidak terikat dalam pernikahan sehingga tidak mungkin bisa memberikan adik untuk putra sematawayang mereka itu.
Namun, Aize tidak ingin terus terjebak dalam situasi yang sangat canggung ini. Wanita itu tersenyum mengejek biru yang masih ada di hadapannya, untuk sekedar mencairkan suasana.
“Kalau Arka mau adik sebagai hadiah, kenapa kamu nggak menikah saja? Bukankah umur kamu juga sudah cukup matang untuk menjadi seorang kepala rumah tangga?”
Pertanyaan yang dilontarkan Aize membuat Birru menatapnya dengan serius. Sorot mata itu tidak berubah sama sekali meksipun sekarang mereka jarang bertemu.
“Bukankah aku sudah bilang, kalau aku tidak akan menikah kecuali sama kamu?” tanya laki-laki itu.
Jantung Aize berdetak tidak karuan mendengar pertanyaan yang kini seakan mengintimidasinya. Dia yang membuat pertanyaan untuk mengobrak-abrik hati Birru, tapi kini Aize sendiri yang porak-poranda.
“Aize, aku nggak tahu tujuan pernikahan itu apa? Kalau untuk kepuasan, kamu sendiri tahu aku sudah pernah menjadi giigolo dan itu bukan hal yang memuaskan menurutku, kecuali saat sama kamu.”
Nada bicara Birru mulai melemah saat membahas hubungannya dengan Aize. Laki-laki itu masih berhati-hati menjaga perasaan ibu dari anaknya, seperti yang diamanatkan Cakra padanya.
__ADS_1
Aize semakin membeku. Dia merasa gugup saat ini, bahkan untuk menelan ludah saja rasanya sulit.
“Dalam bayanganku, menikah itu artinya aku punya teman hidup. Bisa ketawa bareng, sedih bareng, makan bareng, tidur bareng. Semuanya nggak dilakuin sendiri,” sambung laki-laki itu sembari menundukkan kepala.
Pikiran Birru sebenarnya sangat sederhana. Pernikahan baginya adalah sebuah pencapaian luar biasa yang menjadi puncak kebahagiaan dalam hidupnya. Namun, itu hanya berlaku jika Aize yang menjadi istrinya.
“Kamu masih berharap sama aku?” tanya Aize yang cukup tersentuh mendengar pengakuan sederhana dari Birru.
Laki-laki di hadapannya itu sudah banyak berubah. Birru bukan lagi laki-laki kasar yang egois seperti dulu. Birru mulai menunjukkan kebaikan dan kelembutan hatinya sejak kematian Cakra.
Birru hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Aize. Tanpa dijawab pun harusnya wanita itu tahu.
Ayah Arka itu mengangkat sedikit kepalanya yang tadi tertunduk. Dia menatap Aize lewat surat mata yang terlihat begitu tulus.
“Aize apa kamu nggak mengerti perasaanku? Selama ini aku menghindar karena aku nggak mau kamu keinget Cakra terus. Sekarang kamu di hadapanku juga mungkin kamu pikir aku ini Cakra!”
__ADS_1
Birru menahan rasa kesal dan kecewanya dengan menundukkan kepala. Setidaknya dia masih sadar posisi. Ia tidak akan bisa menggantikan Cakra di hati wanita itu, sampai kapan pun.
Aize menghela napas panjang. Rasanya sulit memulai hubungan baru. Akan tetapi, dia bukan wanita egois. Arka dan Cakra menginginkannya bersatu dengan Birru. Birru juga berhak bahagia berkat pengorbanannya selama ini.
“Aku mungkin nggak akan bisa gantikan Mas Cakra dengan kamu. Mas Cakra selalu punya tempat di hatiku sampai kapan pun itu, Birru. Tapi, kalau kamu memang mau masuk ke hatiku, aku akan membuka pintu, asal kamu nggak mengusir Mas Cakra keluar! Mungkin kalian bisa menempati ruang kecil di hati aku sama-sama,” kata Aize yang sangat berdebar saat mengungkapkan perasaannya.
Birru menatap wanita itu lagi. Kali ini dia mengunci pandangan mereka untuk menggali apa yang ada di dalam pikiran Aize.
“Kamu serius? Mau belajar terima aku, sebagai Birru. Sebagai orang yang pernah menyakitimu?” tanya Birru dengan ragu.
Aize mengangguk dengan senyum. “Semua orang punya kesempatan untuk berubah, ‘kan? Aku tahu kamu banyak menderita, dan aku juga butuh sandaran seperti kamu. Lagipula, udah ada Arka di antara kita! Kalau kamu mau ....”
“Aku mau!”
“Hah? Aku belum selesai!”
__ADS_1
***
Mas Bibi gak sabaran emang udah kebelet 🙃🙃 pipis