Dihamili Kembaran Suami

Dihamili Kembaran Suami
DKS ^ Bab 40


__ADS_3

Aize masih sangat yakin bahwa yang mencelakakan suaminya adalah Birru. Laki-laki itu yang membawa suaminya ke rumah sakit, banyak noda darah di pakaiannya dan fakta bahwa Birru memiliki dendam pada Cakra, sudah sangat meyakinkan bahwa dialah pelaku yang membuat Cakra celaka.


Sementara Birru yang merasa tidak melakukan kesalahan apa pun akhirnya memutuskan untuk mencari bukti agar Aize mempercayainya. Dia memang berada di tempat kejadian saat mobil Cakra ditabrak dengan keras dan sepertinya memang disengaja, tapi bukan dia pelakunya.


Ayah biologis Arka itu juga sudah mengetahui sopir truk yang membuat Cakra celaka. Akan tetapi, Birru belum mengetahui apa yang menjadi penyebab sang sopir mencelakai saudara kembarnya.


“Aku akan cari tahu semuanya, dan buktikan kalau aku nggak bersalah.” Sorot mata Birru sudah diselimuti amarah. Ia tidak menyalahkan rasa curiga Aize padanya, hanya saja karena para pelaku itu, dirinya yang jadi disalahkan.


Aize mengabaikan Birru. Dia enggan bicara dengan laki-laki yang dia yakini sebagai penyebab suaminya mengalami musibah. Bagi Aize, sekarang yang lebih penting adalah mendoakan suaminya agar operasinya berhasil dan bisa melewati masa kritis. Besar harapannya agar Cakra bisa kembali ke pelukannya lagi.


Birru sibuk menelepon beberapa orang. Tak lama polisi juga datang untuk menggali keterangan Birru yang sampai saat ini masih berstatus sebagai saksi.


Sampai akhirnya, operasi Cakra selesai. Dokter menjelaskan bahwa operasinya berjalan lancar dan berhasil, tapi saat ini suami Aize itu masih harus melewati masa kritis. Dan Cakra pun dipindahkan ke ruang ICU sampai berhasil melewati masa kritis.


Aize menemui Cakra yang terbaring tidak sadarkan diri setelah menjalani operasi. Wanita itu berusaha kuat dan tidak menangis.

__ADS_1


“Mas, apa pun yang terjadi? Kamu harus bertahan, jangan tinggalkan aku, Mas!” Aize tidak bisa menahan air matanya. Rasa sakit di hati membuat pertahanannya melemah.


Aize terisak dengan dada yang terasa sakit. Melihat suaminya dipenuhi peralatan yang memantau kehidupannya, wanita itu tak bisa bersikap tegar seperti yang dia katakan pada diri sendiri sebelum memasuki ruangan itu.


“Kamu harus bangun karena kamu janji sama Arka buat kasih dia adik. Kamu harus bangun karena kamu sudah janji untuk nggak ninggalin aku dan Arka sendirian. Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu dan Arka, Mas. Kamu nggak kasihan sama aku?”


Aize terus menangis menumpahkan kesedihan di hatinya. Sampai akhirnya perawat memintanya keluar karena kondisi Cakra yang tidak bisa dibesuk terlalu lama, apalagi ini sudah sangat malam.


Wanita itu keluar dari ruangan Cakra dengan perasaan hancur. Mengingat luka Cakra yang terbilang parah, dokter terus memintanya untuk banyak-banyak berdoa dan itu membuat harapan Aize untuk melihat Cakra bangun semakin tipis.


Sakit. Benar-benar sakit rasanya melihat Cakra yang segar bugar, harus menerima banyak perban di beberapa bagian tubuh terutama kepala, kaki, dan tangan. Sementara alat-alat medis yang berbunyi keras juga terpasang di tubuhnya membuat Aize semakin takut.


Birru melihat apa yang terjadi pada Aize. Jika saja dia bisa, rasanya ingin sekali memeluk wanita yang masih menempati hatinya itu. Namun, Birru sadar tidak bisa melakukan semua itu karena Aize pasti akan semakin membencinya.


Perlahan, Birru mendekati Aize dan melepaskan jaket miliknya yang dia ambil dari mobil. “Aize ini sudah malam. Aku antar kamu pulang ya!”

__ADS_1


Aize mendongak untuk melihat wajah Birru. Laki-laki itu sangat mirip dengan Cakra, sampai-sampai rasanya yang saat ini Aize lihat adalah Cakra. Namun, itu tidak bertahan lama karena dia langsung teringat bahwa semua musibah ini penyebabnya adalah Birru.


“Nggak usah! Aku bisa naik taksi!” jawab Aize dengan ketus.


Aize berjalan keluar dari rumah sakit untuk mencari taksi. Dia merasa kedinginan karena saat mendapat kabar bahwa Cakra kecelakaan, wanita itu langsung pergi tanpa membawa perlengkapan.


Birru mengikuti Aize dari jarak yang cukup aman. Bisa dia lihat bahwa wanita itu beberapa kali menyeka air mata, dan itu membuat hati Birru terasa sakit juga.


Wanita itu berdiri di dekat pintu keluar dan menunggu taksi yang mungkin lewat. Sayangnya, setelah menunggu beberapa saat, dia tak juga mendapatkan kendaraan umum itu.


Hal itu membuat Birru tidak bisa bersabar lagi. Dia segera mengambil mobil dan menghampiri Aize. Dia keluar dengan masih membawa jaketnya.


“Sebelum tidak sadarkan diri. Cakra sempat menitipkan kamu dan Arka. Demi tanggung jawab itu, tolong ikut aku pulang, Aize!” Birru terpaksa memakaikan jaket di tubuh Aize untuk menghalau udara dingin yang menerpa malam ini.


***

__ADS_1


Udah bikin nyess belum sih 🤣🤣🤣


__ADS_2