
Jika takdir bisa dipilih, rasanya Aize ingin semua yang terjadi saat ini hanyalah mimpi buruknya. Dia ingin bangun dan melanjutkan hidup bahagia dengan Cakra yang sangat dia cintai. Namun, sayangnya itu tidak bisa terjadi.
Cakra dinyatakan sudah meninggal dan seketika itu dunia Aize terasa hancur. Setengah jiwanya terasa melayang mengiringi kepergian suami yang telah hidup bersamanya selama delapan tahun ini.
Arka yang saat ini digendong oleh Roy pun tak bisa menahan rasa dukanya. Dia berteriak histeris memanggil nama sang ayah yang kini telah pergi untuk selamanya.
Sementara itu, Aize yang paling terluka dengan kepergian Cakra, terus saja menangis sambil memeluk suaminya. Mulutnya sudah tidak bisa mengucapkan apa-apa. Rasanya kelu dan yang tersisa hanya rasa sesak di dada.
“Aize, Cakra udah nggak sakit lagi sekarang! Ikhlaskan dia biar bisa pergi dengan tenang.” Birru hanya bisa memegangi pundak Aize yang pasti sangat rapuh. Dia takut jika wanita itu akan pingsan setelah ini.
“Aku nggak bisa, Birru! Gimana aku bisa biarkan dia pergi kalau aku aja nggak tau bisa hidup apa nggak tanpa dia!” balas Aize yang tak sanggup melepaskan pelukannya dari jasad sang suami.
Birru memerintahkan Roy untuk membawa pulang Arka. Dia berencana menemani Aize dan membawa jenazah Cakra dengan ambulans. Kedua orang tua Cakra yang saat ini sedang pulang ke rumah Cakra untuk istirahat juga sudah dikabari bahwa putra mereka telah meninggal.
__ADS_1
“Aize, ini juga pasti berat untuk Cakra. Tapi, kita nggak bisa mengubah takdir apalagi kematian, Aize!” kata Birru dengan lembut. “Aku urus administrasi dulu, Aize. Kamu harus tenang ya!”
**
**
**
Aize menatap kosong tubuh kaku Cakra yang kini sudah berada di mobil jenazah. Kepingan memori yang telah dia lewati bersama Cakra kembali muncul di kepala ibu satu anak itu. Hal itu membuat air matanya kembali meluncur deras.
“Kita semua kehilangan Cakra. Bahkan, aku baru beberapa saat menjalin hubungan baik dengannya, Aize. Kamu masih lebih beruntung dari aku!”
Mau seperti apa pun Birru menasihati Aize, wanita itu seolah tuli karena larut dalam kesedihannya sendiri. Dia hanya menangis dan terus menangis. Sampai akhirnya, mereka sampai di rumah Cakra dan disambut beberapa pelayat yang telah menunggu dengan pakaian yang didominasi warna hitam.
__ADS_1
Ini adalah hari berkabung untuk Aize. Begitu jenazah diturunkan dari mobil ambulans, pandangan matanya langsung gelap seketika.
Birru yang kebetulan ada di sebelahnya, langsung menggendong iparnya itu masuk. Sementara orang-orang yang tidak tahu Cakra memiliki kembaran, tentu saja menatap mereka dengan ekspresi bingung. Namun, Roy dengan sigap menjelaskan bahwa Birru adalah saudara kembar Cakra yang baru kembali dari luar negeri.
Ibu si kembar langsung menangis histeris begitu jenazah Cakra disemayamkan di rumah duka. Putra yang selama ini dibesarkan dengan segenap kasih sayang, kini diambil kembali dari mereka. Rasanya memang tidak ada yang lebih menyakitkan daripada berpisah alam.
Akhirnya, waktu pemakaman tiba. Aize yang baru puih dari pingsan, bertekad ingin mengantarkan suaminya ke tempat peristirahatan terakhir. Bersama sang putra, wanita itu melihat langsung saat tubuh sang suami dimasukkan ke liang lahad.
Birru dan juga ayahnya, ikut masuk untuk mengantarkan Cakra ke tempat tidur panjangnya. Mereka semua kehilangan, begitu pun Birru yang berusaha kuat menahan rasa bersalah, rasa tidak sanggup kehilangannya sendiri.
‘Cakra, andai waktu bisa aku putar lagi. Aku tidak akan menyakitimu. Aku merasa kematianmu adalah hukuman untukku yang nggak pernah dapat kesempatan untuk menjadi saudara yang baik buatmu. Selamat jalan!’
***
__ADS_1
RIP 🤍 Mas Cakra 🤍