Dihamili Kembaran Suami

Dihamili Kembaran Suami
DKS ^ Bab 67


__ADS_3

Birru dan Aize telah berhasil melewati malam pertama sebagai suami istri dengan sangat indah. Keduanya tampak sama-sama kelelahan usai beradu keahlian di atas kasur.


Kini, baik Aize maupun Birru sudah sama-sama lelah dan terbaring di kasur setelah membersihkan diri.


Birru sangat bahagia menikmati sisa-sisa sensasi melayang yang dia dapatkan. Ini adalah impian terindah yang menjadi kenyataan untuk Birru. Ditambah lagi, tidak hanya sekali saja dia menghangatkan rahim Aize malam ini.


“Aku benar-benar puas. Makasih ya ... Sayang!” ucap Birru yang masih merasa malu-malu untuk memanggil sang istri dengan sapaan mesra itu.


Dia begitu bersyukur Aize mau melayaninya di malam pertama pernikahan. Padahal, sebelumnya Birru pikir sang istri akan butuh banyak waktu untuk memberikan izin menyentuh tubuhnya.


“Sama-sama, Mas. Aku senang kalau kamu puas,” jawab Aize usai melingkarkan tangannya pada perut sang suami.


Birru bergerak membalas pelukan Aize. Dia mengecup tubuh wanita yang masih mengenakan bathrobe sebagai penutup tubuhnya. Tatapan mata Aize padanya membuat Birru merasakan kehangatan dalam dirinya.


“Tidurlah, kamu pasti lelah!” kata Birru sebelum mendaratkan kecupan di kening Aize.


Wanita itu memejamkan mata dan membiarkan alam bawah sadar mengusai dirinya. Sementara Birru masih ingin mengagumi wajah cantik yang kini telah menjadi miliknya sepenuhnya.


**

__ADS_1


**


Beberapa bulan sejak menikah, Birru dan Aize benar-benar membuka kehidupan baru dan juga menikmatinya. Bersama Arka dan juga calon buah hati yang kini bersemayam di rahim Aize.


“Selamat pagi, anaknya papa. Kamu udah bangun belum, Sayang!” sapa Birru pada buah hatinya yang masih berkembang di perut Aize.


Aize yang baru membuka mata sudah disambut sikap lembut Birru yang mulai timbul sejak ia dinyatakan hamil beberapa minggu lalu.


“Mas, kamu kok udah bangun sih?” tanya Aize sembari mengucek mata. Rasa kantuk masih melekat di matanya.


“Hari ini kan mau USG. Aku pengen selalu ada di tiap momen kehamilan kamu, Sayang!”


Aize merasa tersanjung karena perhatian Birru padanya. Wanita itu tersenyum manja dan meraih tubuh Birru agar memeluknya.


Aize telah menerima Birru sepenuhnya. Hatinya sudah menilai Birru sebagai suami idaman. Meskipun dia berbeda dengan Cakra, tapi Aize tak pernah membandingkan keduanya.


“Kamu semakin manja, Sayang. Tiap hari minta digendong.” Birru memposisikan tubuh Aize agar nyaman saat menggendongnya. Otot-ototnya mengeras saat mengangkat tubuh wanita yang telah menjadi istrinya itu.


Aize tampak senang karena Birru menuruti kemauannya. Wanita itu bahkan menghadiahi suaminya dengan kecupan mesra di pipi. “Yang penting kamu masih kuat gendong aku kan, Mas? Nanti kalau bayinya udah lahir juga aku nggak mau digendong-gendong lagi,” balasnya.

__ADS_1


“Asal ada upahnya ya. Nanti sore, dandan yang cantik, aku jemput terus kita jalan-jalan berdua aja!”


Birru tak memiliki banyak momen manis bersama Aize. Laki-laki itu terus berusaha menciptakannya dengan sesekali pergi berdua saja. Tanpa Arka, dan tentunya tanpa Roi.


“Kamu mau ajak aku ke mana, Mas?” tanya Aize dengan mata berbinar-binar. Wanita itu sangat suka jalan-jalan, apalagi kalau berdua saja.


Tidak bisa dipungkiri, bahwa mereka berdua memang butuh banyak waktu berdua saja. Aize perlu mengenal Birru lebih dalam, dan Birru juga ingin menunjukkan sisi terbaik dirinya untuk menghapuskan coretan kelam masa lalu.


“Rahasia! Sekarang mandi ya, cantikku!”


Aize tersenyum geli karena kini Birru membantunya melepaskan pakaian. Mereka tidak melakukan penyatuan seperti dalam pikiran pembaca. Justru, mereka saling menyabuni dan bermain busa di kamar mandi yang luas itu.


Dengan cara sederhana ini, mereka sudah terlihat sangat bahagia. Karena cinta tidak hanya soal naafsu saja, tapi cinta adalah pengorbanan dan kasih sayang yang sesungguhnya.


Sementara itu, Arka berlari menuruni anak tangga untuk mencari ibunya. Bocah itu tak ingin keduluan sang ayah untuk menyapa adiknya.


Dengan napas tersengal-sengal, bocah itu mengetuk kamar Aize dan Birru beberapa kali. Namun, tidak ada satu pun yang menjawab. Sampai akhirnya, samar-samar dia mendengar suara tawa ibunya dari dalam sana.


“Yah, keduluan Papa lagi!”

__ADS_1


***


Hello, sory telat ya. Weekend lagi sibuk 🤭


__ADS_2