Dihamili Kembaran Suami

Dihamili Kembaran Suami
DKS ^ Bab 55


__ADS_3

Pertanyaan spontan yang keluar dari mulut Arka nyatanya membuat Birru tak bisa menjawab dengan jujur. Dia tidak mungkin bercerita pada putranya itu bahwa dirinya sengaja menodai Aize karena kebenciannya pada mendiang Cakra.


Merasa tidak sanggup menjawab, Birru pun melirik Aize yang kini juga termangu karena bingung harus menjawab apa. Kedua orang dewasa itu akhirnya hanya bisa saling melirik dan menggelengkan kepala karena tidak ada jawaban di kepala mereka.


“Papa sama Mama nggak bisa jawab, ‘kan? Kalau gitu ayo kita tidur bertiga! Di kamar Mama lebih besar kasurnya. Mama sama Papa mau ‘kan tidur sama Arka?”


Birru langsung mengangguk. Pertanyaan kali ini lebih mudah dijawab daripada harus menjelaskan pertanyaan sebelumnya yang lebih sulit dari ujian matematika.


Sementara itu, Aize juga tampak pasrah dengan keinginan Arka. Wanita itu menghela napas kasar dan akhirnya mengangguk. “Iya, deh!”


Arka bersorak bahagia dan memeluk kedua orang tuanya. Sudah cukup lama bocah itu tidur sendiri dan karena kematian Cakra, dia tidak bisa lagi merasakan tidur bersama kedua orang tuanya.


“Mama, Papa. Aku bersyukur masih punya Mama sama Papa. Walaupun Papa Cakra udah nggak ada, dan sebentar lagi Papa Birru juga ke luar negeri, tapi aku senang karena kita bisa tidur bareng-bareng seperti ini. Kalau nanti Papa kembali, pasti aku udah gede dan nggak mau tidur sama Mama sama Papa!”


Ocehan polos Arka memang ada benarnya. Saat bermain futsal tadi, Birru sudah menjelaskan bahwa laki-laki itu tidak akan kembali ke negeri ini sebelum Arka berusia tujuh tahun. Dalam waktu yang cukup lama itulah, Arka tidak bisa lagi merasakan hangatnya sebuah keluarga utuh yang kini juga hilang semenjak kematian Cakra.


“Arka sedih ditinggal Papa?” tanya Aize sembari melirik Birru yang tidur di sebelah Arka.

__ADS_1


“Sedih banget, Ma. Papa Cakra udah pergi. Papa Birru juga pergi. Nanti, Arka harus main sendiri karena Arka nggak punya Papa lagi!”


Jawaban Arka membuat hati Aize tersayat. Egoiskah dirinya mengusir Birru dan memisahkannya dengan Arka yang juga sangat kehilangan Cakra?


“Jangan sedih dong, Sayang! Papa ‘kan masih bisa telfon kamu! Nanti kalau kamu liburan, Om Roy juga akan jemput kamu buat liburan sama Papa di Amerika,” sahut Birru sambil membelai rambut putranya.


Arka yang sejak tadi berusaha menahan kesedihan, akhirnya tidak tahan juga. Bocah itu memeluk sang ayah dengan sangat erat dan mulai menangis.


Aize melirik Arka dan Birru yang tengah berpelukan. Hati dan pikirannya mulai berperang. Antara menahan Birru demi Arka, atau justru membiarkannya pergi demi perasaannya sendiri.


**


**


Tengah malam tiba, Aize yang bermimpi bertemu dengan Cakra tiba-tiba bangun dan berteriak, “Mas Cakra!” Menyadari itu hanya mimpi, wanita itu pun menangis sambil menutup wajahnya.


Birru yang masih terjaga, berinisiatif untuk mendekati Aize untuk menenangkannya. “Kamu mimpi ketemu Cakra ya?” tanya Birru sembari menyingkirkan rambut panjang Aize yang menghalangi wajahnya.

__ADS_1


Aize mengangkat wajah dan mengangguk dengan air mata yang membasahi wajahnya. Hal itu membuat Birru tak tahan dan langsung memeluknya.


“Nggak apa-apa, Aize. Itu karena kamu merindukannya!” ucap Birru sambil memeluk dan mengusap punggung Aize.


Aize menenggelamkan wajahnya di dada bidang Birru yang hangat, sehangat pelukan Cakra padanya. Kedua tangan Aize juga bergerak memeluk pinggang laki-laki itu. Dia menumpahkan kesedihan dan rasa rindunya pada Cakra di pelukan Birru.


Sangat lama keduanya berpelukan, sampai akhirnya Aize bisa sedikit tenang dan melepaskan pelukan mereka. Dia menatap Birru dan mengatur napas karena isak tangis. Lalu, dengan sigap Birru pun menghapus air mata itu.


“Bisakah kamu jangan pergi? Bisakah kamu tinggal di sini demi Arka?” tanya Aize dengan hidung kembang kempis.


Birru sangat gemas sekali dengan wajah Aize saat ini. Dari banyaknya wanita yang pernah dia layani, tidak ada yang memiliki sorot mata ketulusan seperti Aize. Jika dia tidak ingat Cakra dan kebencian Aize padanya, rasanya Birru akan melahap bibir tipis yang sedikit terbuka itu.


“Jangan pergi, Birru!”


**


Maap mbak Aize ya, tikett pesawatnya mahal loh, masa iya batal lagi 😒😒

__ADS_1


__ADS_2