
"Tunggu..!" Panggil kedua orang gadis yang sejak tadi memperhatikan keempat wanita itu. Dhea dan yang lainnya pun serentak menoleh ke belakang, saat ini mereka bisa melihat dengan jelas jika kedua gadis itu berjalan dengan tubuh bergetar mendekati keempatnya.
"Bisakah kalian membawa kami ikut?" tanya salah seorang dari mereka.
"Kenapa? Bukankah kalian masih memiliki keluarga? saat ini, orang yang sudah membuat kalian menderita telah mati. Lalu apalagi yang harus kalian fikirkan? kembalilah ke rumah dan pada keluarga kalian!" ucap Dhea sok bijak.
Ketiga kawannya hampir saja muntah darah, mendengar ucapan Dhea, dia yang biasanya selalu mengucapkan kata-kata yang frontal dan terkenal paling koplak, Akhirnya bisa berbicara dengan bijak.
"Kami tidak ingin kembali ke rumah." ucap keduanya serempak.
"Kenapa?" tanya Rima. Matanya menatap tajam pada kedua orang gadis itu.
"Aku telah dijual oleh ayahku, demi untuk mendapatkan uang agar bisa melunasi seluruh hutang judinya, Ayahku tega memberikanku pada Tuan Anto itu." ucap salah seorang gadis.
"Aku juga tidak ingin kembali, Ibuku sengaja meminjam uang dengan jumlah yang sangat banyak kepada Tuan Anto untuk menggelar pesta pernikahan kakakku, dan dia menjadikan aku sebagai jaminan hutangnya." ucap gadis satunya lagi.
Keempat orang wanita itu pun saling memandang, hingga akhirnya mereka pun menganggukkan kepala, bersedia menampung kedua orang gadis itu bersama mereka.
"Baiklah, kalian bisa ikut bersama kami." ucap Rima, akhirnya mereka pun melangkah keluar. namun baru saja Dhea akan menyentuh gagang pintu, tiba-tiba saja 20 orang gadis kembali datang menghampiri mereka.
"Tolong bawa kami juga, kami tidak ingin kembali pada keluarga kami, mereka sudah bertindak tidak adil dan menjadikan kami sebagai jaminan hutang." ucap ke-20 orang gadis itu.
"Keluarga kalian pasti akan sangat khawatir, jika kalian tidak kembali, apalagi kalau sampai mereka mendengar berita kematian Anto dan juga Mark." ucap Sinta.
__ADS_1
"Aku tidak peduli, mereka tidak pernah menyayangiku, mereka hanya menganggap aku sebagai tambang uang yang bisa mereka peras setiap hari, aku tidak akan kembali pada keluargaku, meski mereka merangkak dan bersujud sekalipun. Aku membenci mereka." jawab salah seorang gadis.
Akhirnya Sinta pun segera mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang, dia membutuhkan kendaraan yang lebih banyak untuk mengangkut ke-22 orang gadis-gadis itu.
Akhirnya setelah mobil jemputan mereka datang, kedua puluh dua orang gadis itu pun segera masuk dan mengikuti Sinta dan kawan-kawan.
"Apakah kita harus menghancurkan klub malam dan juga tempat perjudian itu?" tanya Dhea.
Sinta hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu!" ucapnya dengan santai.
"Kenapa?" Rima dan Susan nampak mengerutkan dahinya, kedua wanita itu tak percaya jika saat ini Sinta tidak ingin menghancurkan kedua tempat itu. Karena biasanya dialah orang yang paling semangat untuk melemparkan blm.
"Tentu saja kalian tidak boleh menghancurkannya, karena tanpa sepengetahuan kalian, tadi aku sudah mengambil surat-surat berharga dan juga beberapa uang yang ada di brankas mereka. Bukankah saat ini tempat itu juga sudah menjadi milikku?" ucap Sinta Sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hei, jangan pernah mengatakan kata matre terhadapku, walau bagaimanapun kita membutuhkan uang untuk berbagai keperluan. Apa kau mau makan batu setiap hari?" tanya Sinta.
"Kita akan segera memindah tangankan semua harta dan juga aset milik kedua tua bangka itu, dan tentu saja kita akan segera menjualnya, agar kita bisa mendapatkan banyak uang." jawab Sinta.
"Apakah yang ada di otak kecilmu itu hanya uang dan uang saja, Sinta?" tanya Susan.
"Itu lebih baik, lagi pula kedua orang itu tidak memiliki istri ataupun anak, jadi biarkan saja aku yang mendapatkan warisan dari kedua orang pria gila itu, selain itu aku juga memiliki banyak sekali sertifikat rumah milik orang-orang yang berhutang kepada mereka berdua, Bukankah besok seharusnya kita menggusur tempat itu?" tanya Sinta.
"Apa maksudmu? Hei.. Mereka itu orang susah, karena itulah mereka berani mengambil pinjaman terhadap Anto." ucap Rima.
__ADS_1
"Orang susah kau bilang? mereka bukanlah orang susah, melainkan orang-orang pemalas dan juga tidak punya hati, mereka bahkan rela menjadikan putri mereka sebagai jaminan untuk berhutang terhadap Anto, bukankah itu berarti bahwa mereka adalah orang-orang yang pantas untuk kita semua basmi?" jawab Sinta dengan cepat sambil membalikan pertanyaan pada ketiga rekannya.
"Baiklah, Terserah kau saja! tapi ingat satu hal, ke-22 orang gadis itu merupakan bagian dari keluarga mereka, setidaknya kau harus mengatakan hal itu terhadap mereka terlebih dahulu." jawab Rima.
"Tentu saja! aku yakin jika ke 22 orang gadis itu pasti akan setuju dengan rencanaku, lagi pula selama ini mereka telah banyak menderita, karena perlakuan dari keluarganya, tidak masalah bukan, jika kita mengusir mereka dari rumah itu? sekarang mereka tidak bisa lagi menjadikan anak-anak mereka jaminan kembali, karena semua putri mereka telah menghilang."
"Selain itu, mereka juga sebentar lagi akan segera kehilangan harta satu-satunya, dengan begitu, mereka semua akan jadi gelandangan, semoga saja dengan cara itu mereka bisa sadar jika apa yang selama ini mereka lakukan adalah salah." tutur Sinta panjang lebar.
"kau benar, Baiklah! Aku setuju, kita akan membicarakan kembali masalah ini setelah sampai di rumah." ucap Rima.
Ketiga orang temannya pun segera menganggukkan kepala, menyetujui apa yang diucapkan oleh wanita itu. Akhirnya mereka pun sampai di rumah yang dituju setelah menghabiskan waktu hingga 2 jam perjalanan.
Saat ini matahari terlihat sudah muncul di ufuk timur, pertanda jika mereka tak lagi bisa tidur dengan nyaman, karena harus melakukan pekerjaan lain.
Ke-22 orang gadis itu pun segera masuk, mereka diberikan kamar masing-masing untuk beristirahat.
"Kalian bisa mencari sendiri kamar mana yang kalian inginkan, tapi ingat jika kamar itu terkunci, kalian tidak boleh memasukinya karena itu berarti sudah ada penghuninya." ucap Rima menjelaskan.
Akhirnya ke-22 orang gadis itu pun segera beranjak menuju ke lantai 2 untuk mencari kamar tempat beristirahat mereka masing-masing, sementara keempat orang wanita itu saat ini tengah sibuk menyusun rencana karena ada hal lain yang saat ini harus segera diselesaikan oleh keempat orang wanita itu.
"Apa kau sudah memiliki rencana?"tanya Sinta seraya menatap ketiga sahabatnya. Susan pun menganggukan kepalanya, dia memang telah merancang sebuah ide untuk bisa memukul mundur lawannya.
Akhirnya keempat wanita itu pun kembali melanjutkan perbincangan mereka dengan sangat santai. Sambil sesekali, canda tawa terdengar keluar dari mulut mereka.
__ADS_1