
Tap...
Tap...
Tap...
Terdengar langkah kaki seorang wanita, yang saat ini tengah menuruni tangga menuju ke ruang makan, tempat di mana kedua orang tua dan juga putra kesayangannya saat ini tengah duduk dengan santai dan berniat untuk menikmati sarapan mereka.
Wanita itu nampak menyunggingkan senyuman tipis, kemudian segera bergabung bersama kedua orang tuanya dan mengambil kursi tak jauh dari sang ibu.
"Bagaimana keadaan anak buahmu yang ada di Kota C, Aleena?" tanya Lukman.
Aleena hanya melengkungkan senyuman tipis, kemudian menjawab pertanyaan dari sang ayah. "Semuanya baik-baik saja, Ayah. Lagi pula mereka saat ini tengah bersenang-senang, karena telah membalas dendam kepada para preman yang sudah berani menghancurkan kebahagiaan dan juga masa depan mereka." jawab Aleena sambil meneguk air putih yang ada di depannya.
"Syukurlah, kalau memang begitu! Tapi ingat, jika mereka butuh bantuan, segera telepon ayah." ucap Lukman.
"Pasti." jawab Aleena.
Akhirnya suasana pun kembali hening, Aleena dan Lukman tak meneruskan percakapan mereka, dan memilih untuk segera menikmati hidangan, yang sudah disediakan oleh para pelayan yang ada di mension besar itu.
Selesai sarapan, pasangan ayah dan anak itu pun segera duduk di teras, keduanya terlihat tengah menyusun sebuah rencana, nampaknya saat ini ada seseorang yang mencoba untuk bermain-main dengan Lukman dan dia ingin agar Aleena yang menyelesaikan masalah itu.
Aleena sebenarnya bukanlah seseorang yang menyukai kerja kantoran, dirinya yang sudah terbiasa bekerja di butik beberapa waktu yang lalu merasa sedikit kurang percaya diri, untuk menggantikan posisi Lukman di perusahaan.
Apalagi hingga saat ini tidak ada satu orang pun yang pernah melihat wajah Lukman di kantor itu, hal itu tentu membuat Aleena semakin kesulitan untuk bisa menyelesaikan masalah, yang menimpa perusahaan milik ayahnya.
__ADS_1
"Kau bisa mengandalkan asisten ayah." ucap Lukman seraya mengambil ponselnya dan menghubungi salah seorang asistennya, agar segera datang ke Mansion besar itu.
Aleena hanya menganggukan kepalanya, mungkin ini adalah langkah awal untuk dia bisa bertemu dengan keluarga Ferdian, agar bisa melancarkan balas dendamnya terhadap Keenan.
Meski sebenarnya wanita itu belum cukup kuat untuk bisa berhadapan dengan seorang Keenan, tapi dia yakin dengan menggunakan sedikit trik licik sepertinya dia bisa melakukan sesuatu terhadap pria brengsek yang dulu pernah menghancurkan hidupnya itu.
Tak lama ponsel Aleena berbunyi, wanita itu pun segera berpamitan kepada ayahnya, untuk mengangkat panggilan telepon dari Rima. Sepertinya saat ini anak buahnya itu mengalami sedikit kesulitan, hingga harus menelpon dirinya yang masih ada di kota A.
Namun ternyata perkiraan Aleena meleset, Rima menelpon untuk memberitahukan jika saat ini mereka telah mendapatkan 22 orang anggota baru, untuk membangun mafia yang diinginkan oleh Aleena. Terlebih ke-22 orang itu pun wanita sama seperti mereka, dan pernah mengalami ketidakadilan dalam hidup dari keluarganya.
Aleena terlihat sangat girang setelah mendengar kabar itu, impiannya untuk membangun kelompok mafia wanita akan segera terwujud berkat kerja keras dari anak buahnya.
Akan lebih mudah untuk melatih seseorang yang pernah terluka dan juga sakit hati, karena mereka tentu saja akan menyimpan dendam, sehingga memiliki semangat tinggi untuk melatih fisik mereka agar semakin kuat.
.
.
.
Saat ini di Kota C, nampak 26 orang wanita tengah berdiri di belakang sebuah rumah besar, mereka diwajibkan untuk mulai melakukan pemanasan, sebelum dilatih berbagai macam ilmu beladiri.
Rima dan kawan-kawannya memang sengaja tidak melatih mereka dengan cara yang sama seperti yang mereka terima dari Tara maupun Aleena, keempatnya sepakat untuk melakukan pelatihan fisik sekaligus berbagai macam jurus beladiri dalam satu kali jalan.
Setelah berbagai macam pemanasan dilakukan, akhirnya ke-22 orang wanita itu pun mulai diajarkan berbagai macam kuda-kuda, mereka diharuskan memiliki pertahanan yang kokoh dan tidak memiliki celah agar jika di masa depan, saat bertemu dengan musuh yang lebih kuat, mereka masih bisa tetap berdiri dengan stabil.
__ADS_1
Selain itu juga, Rima dan kawan-kawan melatih ke-22 orang wanita itu teknik pernafasan, mereka diwajibkan untuk memasukkan wajah mereka ke dalam baskom yang sudah diisi air dan menahan nafasnya hingga beberapa saat.
Pada awal latihan, nampak beberapa orang saja yang berhasil, selebihnya mereka hanya bisa bertahan sekitar 10 atau 15 detik, mengingat mereka tidak pernah melakukan hal itu sejak dulu. Namun lain halnya dengan orang-orang yang memang memiliki keahlian berenang, mereka sudah terbiasa untuk menahan nafas di dalam air, sehingga pada saat diberikan pelatihan seperti itu, mereka pun tidak merasa gugup ataupun takut.
Pengalaman mereka di masa lalu menjadi sebuah acuan, yang harus bisa mereka lalui, agar menjadi semakin kuat dan kuat. Dhea yang selalu nampak konyol, hari ini mulai terus berceloteh dan mengkritik berbagai macam gerakan yang dilakukan oleh ke-22 orang wanita itu.
Dia nampak kurang puas dengan hasil yang diberikan, karena ke-22 orang wanita itu nampak kurang fokus dalam setiap gerakan. Mereka seolah tengah memikirkan sesuatu dengan sangat dalam.
"Sebenarnya aku punya sebuah kejutan untuk kalian semua!" ucap Sinta. Ke-22 orang itu pun segera menghentikan latihan mereka dan melirik ke arah wanita itu.
"Kejutan? Kejutan apa?" tanya salah seorang gadis yang bernama Sisil.
Rima pun segera menunjukkan setumpuk sertifikat rumah dan juga tanah, yang berhasil dia ambil pada saat penyerangan di di klub malam milik Anto kemarin.
"Aku memiliki sertifikat rumah kalian semua! Katakan padaku, Apakah kalian ingin memberikan pelajaran pada keluarga kalian?" tanya Rima lagi.
Sedangkan ketiga orang kawannya hanya diam sambil menikmati segelas susu segar yang saat ini ada di hadapan mereka.
"Bisakah kami membalas dendam?" tanya salah seorang gadis.
"Tentu saja bisa, jika kalian mau, kita akan berangkat besok dan mengusir mereka semua dari dalam rumah yang selama ini mereka tempati, mereka akan segera hidup terlunta-lunta. Apalagi saat mereka mengetahui kematian dari Mark dan juga Anto, mereka pasti sibuk mencari keberadaan kalian." ucap Rima.
"Jika seperti itu, lanjutkan saja! Aku akan mengikuti rencana kalian untuk mengusir mereka semua dari sana, tapi sepertinya hal ini sedikit sulit, aku hanya bisa menyarankan, untuk mencari buldoser agar langsung menghancurkan rumah-rumah itu dan merampok seluruh uangnya, jangan sampai mereka masih memiliki harta untuk bertahan hidup." saran dari salah seorang gadis yang bernama Widia.
"Orang-orang seperti mereka memang pantas mendapatkan pelajaran, meskipun orang tua kandungku sendiri, aku tak perduli karena selama ini mereka telah terlalu banyak berbuat kejahatan dan juga memanfaatkanku." ucap yang lain.
__ADS_1