
Tuan besar Anderson pun akhirnya segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, meninggalkan Calvin dan juga istrinya. Dia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, setelah semua masalah yang kini mulai satu persatu mencuat, yang disebabkan oleh hubungan asmara putra kesayangannya dengan Melinda Oktora.
Andai saja dia mengetahui sejak dulu, jika hal ini akan memacu kerusuhan seperti yang saat ini dia alami, mungkin pria paruh baya itu akan berusaha untuk menolak wanita pilihan dari putranya itu, keluarga Anderson tersihir akan ucapan dari Melinda Oktora yang akan membantu keluarga mereka, untuk meningkatkan kembali stabilitas perusahaan yang saat itu tengah oleng dengan memberikan suntikan dana yang lumayan besar.
Karena itulah akhirnya hubungan Melinda Oktora dan Calvin Anderson pun direstui oleh kedua orang tuanya, jika saja mereka mengetahui sejak awal bahwa Melinda Oktora bukanlah seorang perempuan baik-baik, mungkin saat itu juga mereka akan mengusir wanita yang dibawa oleh putranya itu agar tak lagi-lagi menginjakkan kaki di rumah keluarga besar mereka.
Tuan besar Anderson saat ini menyesali dirinya yang tidak menyelidiki terlebih dahulu latar belakang dan juga masa lalu dari mantan menantunya itu, jika saja dulu dia mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk mengawasi gerak-gerik dari mantan menantu ja*angnya itu, mungkin saat ini keluarga Anderson tak perlu menanggung malu dan selalu menjadi bahan cibiran dari semua orang.
Meski begitu saat ini dia pun tak bisa berbuat apa-apa, kenyataannya apa yang terjadi dengan keluarganya adalah salah satu dari kesalahannya, dia terlalu lalai karena terbuai dengan janji Manis yang diucapkan oleh wanita itu, sehingga akhirnya bahkan dia mengalami kerugian yang lebih daripada sebelumnya.
Tak hanya perusahaannya saja yang bangkrut, melainkan saat ini nama keluarga besarnya pun ikut tercemar akibat menerima wanita yang tidak tahu diri dan juga murahan seperti Melinda Oktora menjadi menantu di dalam keluarga besar mereka.
Tak...
Tak...
Tak...
Terrdengar langkah seseorang mendekati tuan besar Anderson, saat ini istrinya yaitu Nyonya Anderson tengah menuju ke arahnya dengan membawa secangkir teh, dia berusaha untuk menunjukkan perhatian terhadap sang suami yang saat ini tengah dilanda stres.
Meski sebenarnya wanita paruh baya itu juga merasakan ketakutan yang sama seperti yang dialami oleh anggota keluarganya yang lain, namun nampaknya dia masih bisa mengendalikan diri, sehingga selalu tampak lebih kuat dibandingkan yang lainnya.
Dia masih bisa menasehati sang suami maupun putra kesayangannya itu, agar tak terlarut dalam penyesalan, walau bagaimanapun pasti akan ada jalan keluarnya, yang terpenting saat ini seluruh keluarga mereka bersatu untuk bisa memecahkan masalah ini agar tidak semakin melebar ke mana-mana.
__ADS_1
Nyonya Anderson sangat yakin bahwa Aleena mungkin saja telah melihat berita mengenai keluarganya, dia terus berdoa agar gadis yang pernah dicampakkan oleh putranya itu bersedia membantu keluarga mereka, untuk membuat segala macam rumor buruk yang saat ini menyebar di seluruh sosial media menghilang.
Karena itulah Nyonya Anderson terus berusaha untuk meyakinkan Calvin agar mencari keberadaan Aleena di manapun dia berada.
"Diminum dulu tehnya, Pah." ucap Nyonya Anderson seraya menyodorkan cangkir teh pada sang suami.
Tuan besar Anderson pun melihat ke arah istrinya, meskipun di luar nampak kuat, namun pria paruh baya itu meyakini jika saat ini sang istri juga tengah merasa sedih, hanya saja dia terlalu pandai untuk menyembunyikan kekecewaan dan juga kepahitan itu di dalam hati, tanpa menampakan kepada orang lain.
Dia pun segera mengambil cangkir yang disodorkan oleh istrinya kemudian menyimpannya di atas meja, tangan pria paruh baya itu menarik pergelangan tangan istrinya dengan lembut dan menepuk kursi yang berada di sampingnya agar istrinya itu duduk bersebelahan dengannya.
Nyonya Anderson pun segera mendudukkan dirinya di samping sang suami sambil sesekali dia pun menyunggingkan senyuman tipis.
"Apa kau baik-baik saja, istriku?" tanya sang suami.
Tuan Anderson pun menganggukkan kepalanya, meski dia tidak seberapa yakin dengan apa yang diucapkan oleh sang istri, namun tidak ada salahnya untuk mereka berharap bahwa suatu saat nanti Tuhan akan memberikan pertolongan kepada mereka.
.
.
.
Aleena hanya menatap datar ke arah layar ponselnya yang lagi-lagi memunculkan berita tentang Calvin Anderson dan juga tentang perselingkuhannya dengan Melinda Oktora di masa lalu, meskipun wanita itu tak memiliki dendam terhadap keluarga besar Anderson, namun sepertinya dia juga enggan untuk menolong keluarga itu.
__ADS_1
Dia hanya ingin agar hidupnya saat ini tenang, tanpa harus dibayang-bayangi oleh orang-orang dari masa lalunya. Meskipun keluarga besar Anderson selama ini selalu bersikap baik padanya, nyatanya putra mereka telah menyakiti hatinya terlalu dalam, sehingga membuat wanita itu sangat sakit hati.
Walau bagaimanapun pengkhianatan tidaklah dibenarkan Karena itulah Aleena sangat membenci seorang penghianat.
Sari yang melihat putrinya itu tengah terbengong sendiri sambil menatap layar ponsel pun segera mendekat, wanita paruh baya itu segera menepuk pundak Aleena untuk menyadarkan putrinya kembali.
Akhirnya Aleena pun segera menutup ponselnya, dan melirik ke arah sang ibu. "Ada apa, ibu?" tanya Aleena.
"Apa yang kau pikirkan, nak? Lupakan semuanya! Jangan lagi menyimpan dendam terhadap keluarga itu, walau bagaimanapun saat ini keluarga Anderson telah mendapatkan hukuman atas perbuatan yang mereka lakukan terhadapmu. Walaupun ini tidak mudah, tapi Yakinlah bahwa suatu saat nanti kau akan segera dipertemukan dengan seseorang yang sangat mencintaimu melebihi dirinya sendiri dan saat itu Kau pasti akan sangat bahagia." ucap Sari membesarkan hati Aleena.
"Aku baik-baik saja, bu! Aku juga tidak memiliki dendam pada keluarga itu, hanya saja aku merasa sedikit kesal dengan putra mereka yang terus saja mencari keberadaanku hanya untuk menepis isu miring tentang dirinya dan juga Melinda Oktora di masa lalu." ucap Aleena.
"Jika seperti itu, maka kau harus segera bertindak, Aleena. Jangan biarkan dia datang kembali dalam kehidupanmu, apalagi sekarang kau telah memiliki seorang putra, meskipun dia membutuhkan seorang ayah, tapi Ibu tidak akan pernah merestui, jika kamu kembali kepada Calvin Anderson." ucap Sari.
Aleena pun tersenyum, kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu wanita paruh baya itu. "Aku juga tidak akan pernah kembali padanya Ibu, seorang badjingan akan tetap menjadi badjingan pada waktunya dan aku tak ingin menjadi wanita bodoh untuk kedua kalinya." ucap Aleena.
Sari pun menganggukan kepalanya, kemudian dia mengelus surai hitam milik putrinya itu dengan sangat lembut. "Kau benar, nak. Jangan pernah mempercayai orang yang sudah menghianatimu, kau harus semakin kuat mulai sekarang, sebentar lagi putramu akan segera beranjak dewasa dan dia pasti membutuhkan figur seorang ibu yang kuat." ucap Sari.
"Ibu tenang saja, aku tidak akan pernah menjadi wanita lemah seperti dulu dan Kenzy akan sangat bangga terhadapku." ucap Aleena sambil memeluk wanita yang sudah mengangkatnya menjadi seorang putri dari keluarga Alexander itu.
Dia selalu bersyukur dalam hati, karena ditemukan tepat pada waktunya oleh pasangan paruh baya yang kini menjadi orang tua angkatnya, jika saat itu Sari dan juga Lukman tidak berada di sana, entah apa yang terjadi padanya saat ini, mungkin dia hanya tinggal nama.
Mengingat hal itu Aleena pun meneteskan sebutir bening dari matanya dan dia berjanji dalam hati, bahwa mulai detik ini dia akan melindungi putra dan juga kedua orang tuanya itu dengan tangan dan kakinya sendiri.
__ADS_1