
Keesokan harinya ke-26 orang wanita itu pun segera menaiki 6 buah mobil, untuk menuju ke arah pemukiman warga, di mana keluarga dari anggota baru mereka yang berjumlah 22 orang orang itu tinggal.
Sinta terlihat sangat ceria, hari ini dia akan segera mendapatkan banyak sekali keuntungan. Sedangkan Dhea tersenyum dengan sangat senang, dia hari ini ingin sedikit bermain-main dan memberikan ancaman kepada orang-orang itu.
Sedangkan rima dan juga Susan terlihat bersantai, keduanya bahkan tidak memiliki rencana apapun terhadap orang-orang yang saat ini akan segera mereka gusur.
Kemunculan enam mobil mewah yang tiba-tiba saja terparkir tak jauh dari perkampungan tempat para penduduk itu tinggal, akhirnya menyita perhatian, mereka pun segera berkerumun untuk mengetahui ada apa gerangan, sehingga banyak sekali orang kaya yang mendatangi tempat tinggal mereka.
Akhirnya empat orang wanita keluar dari dalam mobilnya, sedangkan ke-22 orang gadis yang mengikuti mereka dibiarkan tetap berada di dalam mobil untuk sementara waktu, saat ini keempat orang wanita itu ingin sedikit bermain-main dengan keluarga ke-22 orang gadis yang sudah mereka jadikan sebagai bagian dari mafia yang akan segera dibangun oleh Aleena.
Kehadiran keempat orang wanita yang berpakaian mewah tentu saja menarik perhatian semua warga, mereka pun berfikir apa yang membuat keempat orang wanita ini datang ke tempat kumuh seperti yang mereka tempati saat ini?
Namun senyum mereka tiba-tiba saja langsung pudar, begitu melihat Sinta yang datang dengan membawa banyak sekali map yang mereka yakini sebagai akta tanah dan juga rumah milik mereka.
"Dengarkan aku baik-baik! Mulai hari ini kalian harus segera meninggalkan rumah kalian, karena aku akan segera menghancurkan tempat ini dan membangun pusat perbelanjaan terbesar." ucap Shinta sambil mengipas-ngifaskan map ke wajahnya.
Warga yang berkerumun di sana pun tersentak kaget, apa kesalahan mereka sehingga membuat keempat orang wanita ini ingin menggusur tempat tinggal mereka? sedangkan selama ini, meskipun mereka berhutang kepada Anto, nyatanya mereka pun telah memberikan putri-putri mereka sebagai jaminan hutang, yang artinya putri merekalah yang akan digunakan sebagai bahan untuk pembayaran.
__ADS_1
"Apa maksud kalian? dan Siapa Kalian sebenarnya? kami tidak mengenal kalian dan kenapa harus menggusur tempat tinggal kami!" teriak salah seorang warga yang merasa terdzalimi.
"Tentu saja, karena mulai hari ini tempat ini resmi menjadi milikku." ucap Dhea dengan sangat santai, bahkan dia mulai melangkahkan kakinya ke arah orang yang berteriak tadi sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang dipakainya.
"Apa maksudmu? kami tak pernah menjual tempat ini!" ucap warga yang lain.
"Itu benar! kalian memang tidak pernah menjual tempat tinggal kalian, karena yang kalian jual adalah putri kalian sendiri." jawab Dhea yang saat ini mulai menunjukkan taringnya.
Wajah warga yang ada di sana pun langsung menghitam, sepertinya kelakuan mereka telah banyak diketahui oleh orang-orang, namun apa yang harus mereka lakukan saat ini? keempat orang wanita yang saat ini berdiri di hadapan mereka, sepertinya bukanlah orang sembarangan, mengingat di belakang mobil hitam yang mereka kendarai, masih ada 5 mobil lagi yang mana belum juga menunjukkan batang hidungnya di depan mereka.
Entah itu Bodyguard, pengacara ataupun pihak berwajib, mereka terlihat saling memandang.
"Sepertinya kau sangat pengertian! kami tidak membutuhkan apapun, lagi pula rumah-rumah kumuh yang ada di sini, hanya akan membuat pemandangan menjadi semakin buruk, beda halnya jika kami segera membangun sebuah tempat perbelanjaan besar, tempat ini akan menjadi semakin terkenal." ucap Dhea kembali.
"Jangan macam-macam! kau tidak berhak atas tanah dan juga rumah milik kami!" seorang bapak-bapak berusia 56 tahun langsung berjalan dengan sangat cepat ke arah Dhea nampaknya dia benar-benar sangat marah dan tak terima setelah tahu jika saat ini kehadiran keempat orang wanita itu tidaklah dengan niat yang baik-baik.
"Jika kalian tetap ngotot untuk tinggal di tempat ini, kami akan segera memanggil polisi dan melaporkan seluruh perbuatan kalian yang telah menjual putri kalian sendiri pada salah seorang rentenir sekaligus pemilik klub malam yang bernama Anto." teriak Sinta.
__ADS_1
Orang-orang itu pun mulai kalang kabut sepertinya saat ini mereka sangat takut jika sampai di penjara, namun apa yang terjadi sehingga keempat orang ini datang? Lalu di mana Anto? Bukankah rentenir itu pernah berjanji, jika mereka menyerahkan putri mereka sebagai pembayaran hutang ataupun jaminan peminjaman uang, maka mereka akan terlindungi dari hal apapun? Sekalipun akta rumah dan juga akta tanah itu berada di tangan Anto!
Salah seorang pria segera mengambil ponselnya dan berusaha untuk menelpon si rentenir tua yang saat ini mungkin saja sudah masuk ke liang kubur, pria itu sangat kecut, wajahnya terlihat marah karena ternyata panggilan teleponnya sama sekali tidak dijawab oleh si pemilik nomor tujuan.
"Dari mana kalian semua mendapatkan seluruh akta rumah dan juga tanah milik kami?" tanya salah seorang ibu muda yang langsung berjalan ke arah mereka dan berusaha untuk merebut salah satu map yang saat ini ada di dalam cengkraman tangan Sinta.
Sepertinya wanita ini cukup berani, namun Sayangnya dia tidak memiliki kemampuan apapun, hanya bisa menggertak, sehingga ketika tangan dia melayang dan ingin mencoba untuk mengambil salah satu dari map yang dipegang oleh Shinta, dengan sangat cepat Dhea pun segera mencengkram pergelangan tangan wanita itu dan langsung memelintirnya ke belakang, sehingga membuat si wanita muda itu pun akhirnya meringis karena merasakan sakit.
Dhea tak segan-segan memberi pitingan kepada wanita itu, agar dia berhenti untuk sok di hadapan mereka berempat, suasana tegang masih terus berlanjut, apalagi saat ini terlihat dari kejauhan ada tiga bulldozer yang datang ke arah mereka.
Mereka tak tahu lagi harus mengatakan apa? Jika sampai rumah mereka dihancurkan, lalu ke mana mereka harus pergi?
Salah seorang ibu kemudian mengambil ponselnya, dia berusaha untuk menelpon putrinya dan meminta tolong, namun sayang nomor ponsel yang dia telepon sudah tidak aktif.
Kemudian si ibu itu pun segera menggerutu untuk melampiaskan kekesalan hatinya, "Dasar anak sialan! harusnya dia berterima kasih karena aku telah memberikannya pada tuan Anto, sehingga dia memiliki banyak uang. Tapi lihatlah! saat ini dia bahkan tidak mau menerima telepon dariku. Anak itu harus segera aku beri pelajaran." ucap si ibu sambil segera menutup ponselnya.
Hal itu tentunya tak luput dari pandangan Susan dan juga Rima, kedua wanita itu hanya menyeringai sambil menunjukkan pandangan yang meremehkan ke arah si ibu, yang hingga saat ini masih terus mengoceh-ngoceh tak jelas.
__ADS_1
"Kau begitu bangga menyerahkan putrimu pada Anto si rentenir tua, apa kau tahu apa yang dilakukan oleh pria tua itu? Putri kecilmu telah dijadikan pela*ur olehnya!" ucap Rima.
Wanita itu pun melotot ke arah Rima dan mengatakan jika dia hanya menjadikan putrinya sebagai jaminan, yang akan kembali dia tebus setelah dia mendapatkan uang.