
Akhirnya Keenan Ferdian diberikan izin untuk keluar dari rumah sakit, dia sudah mulai bisa melakukan rawat jalan di rumah saja. Meskipun hingga saat ini kondisinya masih belum benar-benar stabil, tapi karena keinginan dari Keenan agar segera bisa kembali pulang, akhirnya dokter pun dengan terpaksa membiarkan pria itu untuk segera kembali ke rumahnya.
Keenan dijemput oleh kedua orang tuanya, sedangkan Mayang dan juga Rama Ferdian telah menunggu di rumah. Begitu juga dengan Aleena dan ke-27 orang anak buahnya, saat ini mereka telah berganti pakaian dengan menggunakan seragam para pelayan.
Sedangkan para pelayan yang sebenarnya telah diberikan cuti oleh keluarga Ferdian dan disuruh untuk kembali ke desa untuk berkumpul dengan keluarganya, mereka hanya akan kembali ke kediaman keluarga Ferdian setelah mendapatkan panggilan, sehingga untuk sementara waktu Aleena beserta seluruh anak buahnya yang akan menggantikan posisi mereka, untuk merawat rumah keluarga Ferdian sekaligus mengetahui dalang dibalik seluruh kejadian yang menimpa bisnis mereka.
Keenan akhirnya kembali melangkahkan kakinya di kediaman, namun hal yang pertama kali dia lihat adalah keberadaan Aleena beserta ke-27 orang anak buahnya yang telah berdiri menyambut kedatangan tuan muda keluarga Ferdian itu, dengan seragam pelayan. Sejenak dia mengerutkan dahi, namun Mayang Ferdian segera mengedipkan matanya untuk memberikan kode kepada sang cucu, agar tidak mengucapkan apapun terlebih saat ini Letta masih terus menggelayuti tangan Keenan.
Aleena sebenarnya merasa cemburu melihat sang suami terus saja ditempeli ulat bulu seperti Letta, namun mengingat saat ini dirinya tengah menyamar, akhirnya wanita itu pun dengan sangat terpaksa menyunggingkan senyuman manis dan bersikap ramah kepada Keenan maupun Letta yang baru saja sampai dari rumah sakit. Dia tak ingin membuat wanita itu menjadi curiga terhadapnya.
Letta sendiri sepertinya saat ini merasa tidak nyaman melihat keberadaan 28 orang pelayan yang masih muda dan juga sangat cantik, apalagi mereka menggunakan pakaian yang sangat mini sehingga bisa saja membuat Keenan tergoda. Wanita itu pun segera melangkahkan kakinya ke arah Aleena, dia melihat tubuh Aleena dari atas hingga ke bawah, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa semua pelayan di rumah ini berpakaian seperti itu? Bukankah ini sangat tidak pantas?" tanya Letta.
Monica yang saat itu berdiri di belakang Keenan pun langsung menjawab, "Bukankah kau juga menggunakan pakaian yang sama? Bahkan pakaianmu jauh lebih minim dibandingkan dengan para pelayan di rumah ini!" ucap Monica dengan sarkas.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Letta tersinggung, namun dia masih tetap menyunggingkan senyuman manis kepada Monica. Dia tak ingin bermusuhan dengan keluarga Ferdian, mengingat saat ini dirinya ingin segera masuk ke dalam keluarga itu dan menjadi satu-satunya Nyonya muda Ferdian menggantikan posisi Aleena.
"Dimana istrimu, Keenan? Bukankah saat itu keluargamu mengatakan jika kau telah menikah dan memiliki seorang putra?" tanya Letta.
Keenan melirik ke arah sang Ibu, tak lama Mayang langsung menjawab pertanyaan yang diajukan oleh wanita itu. "Istri Keenan saat ini tengah berada di luar negeri, sepertinya dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu lagi di sana!" jawab Mayang.
Letta hanya bisa menganggukkan kepalanya, wanita itu terlalu bodoh untuk memikirkan hal lain, sehingga dia percaya saja dengan apa yang diucapkan oleh wanita tua itu. Tidak tahu saja jika sebenarnya istri Keenan saat ini ada di hadapannya.
Tak lama Keenan pun langsung memasuki kediaman, dia ingin segera beristirahat di kamarnya. Letta sepertinya ingin mengikuti langkah Keenan, namun Mayang dan Monica segera menghentikannya.
__ADS_1
"Tidak baik seorang pria dan juga wanita ada dalam satu kamar, Lebih baik kau duduk saja di sana! Biar kami yang membantu Keenan." ucap Mayang.
Akhirnya meskipun dengan wajah yang menghitam, Letta pun segera mendudukkan dirinya di atas sofa yang ada di ruang tamu, matanya terlihat memindai seluruh ruangan sambil sesekali dia pun tersenyum manis.
Pria yang menjadi targetnya ternyata tidaklah semiskin yang diucapkan oleh Beny Ariyanto, Keenan adalah seorang putra dari keluarga kaya, apalagi kediaman itu memiliki 28 orang pelayan muda yang sangat cantik dan juga terlihat gesit dalam melayani seluruh kebutuhan para penghuni rumah.
"Silahkan diminum, nona." ucap Tara seraya bersimpuh diatas lantai dan menghidangkan jus jeruk beserta dua toples kecil kue.
Letta tersenyum sumringah, meskipun ke-28 orang pelayan itu terlihat sangat cantik, namun ternyata mereka memiliki tata krama yang sangat baik, bahkan saat ini seorang pelayan tengah bersimpuh di depan kakinya dan menyerahkan segelas jus beserta dua toples kecil kue kering untuk dia nikmati.
"Apa kau sudah lama bekerja di tempat ini?" tanya Letta.
Tara pun menjawab sambil menundukkan pandangannya, "Baru beberapa bulan." ucapnya terlihat sangat sopan, namun jika dilihat dengan teliti, wajah wanita itu tengah menyunggingkan senyuman kejam. Sepertinya dia telah berbuat sesuatu kepada wanita yang saat ini tengah duduk sambil menatapnya itu.
Letta sangat puas dengan kinerja para pelayan yang memperlakukannya bagaikan seorang nyonya, dia pun segera melangkahkan kakinya melihat-lihat lukisan yang ada di dinding, tidak ada satupun potret pernikahan Keenan atau pun putra kecilnya, sehingga Letta sangat yakin jika Keenan memang tidak mencintai istrinya.
"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang nyonya muda di rumah ini! Jadi kalian semua harus bersikap baik dan hormat terhadapku jika masih betah bekerja di sini." ucap Letta dengan sombong, seluruh pelayan itu pun hanya tertunduk di hadapan Letta sehingga membuat wanita itu semakin besar kepala.
Tak lama Mayang dan Monica pun turun dari kamar Keenan, keduanya segera menuju ruang tamu dan mendudukkan diri di atas sofa yang ada di sana. Letta yang saat ini masih berjalan-jalan pun segera kembali dan duduk di hadapan kedua orang wanita yang berbeda usia itu, dia ingin mencari perhatian sekaligus mendapatkan tempat di hati kedua orang wanita yang merupakan ibu dan juga nenek dari Keenan Ferdian.
"Bagaimana kesehatan nenek dan juga Ibu?" tanya Letta berbasa-basi.
Monica dan Mayang pun saling berpandangan, kemudian keduanya segera menyunggingkan senyuman tipis.
"Kami baik-baik saja dan terima kasih karena telah merawat Keenan dengan sangat baik selama masih di rumah sakit." ucap Mayang.
__ADS_1
Letta hanya menganggukkan kepalanya, sambil menyunggingkan senyuman manis. Sepertinya kedua orang wanita itu telah menaruh simpati terhadapnya, sehingga dia tak harus bersusah payah untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari kedua orang wanita itu.
"Hari sudah semakin malam, sebaiknya kau segera kembali ke rumahmu." ucap Mayang.
"Ibu benar! tidak baik seorang gadis berkeliaran malam-malam, apalagi di rumah seorang pemuda." ucap Monica menimpali.
Letta sebenarnya masih ingin tinggal di rumah keluarga Ferdian, tapi mendengar perkataan kedua orang wanita itu, akhirnya dia pun segera berpamitan. Dia tak boleh menunjukkan sikap kasar terhadap kedua orang wanita yang saat ini ada di hadapannya, sehingga memuluskan langkah dia ke depan untuk bisa menjadi seorang Nyonya muda Ferdian.
"Baiklah.. Jika seperti itu aku akan berpamitan kepada Keenan terlebih dahulu." ucap Letta.
Namun langkahnya segera diberhentikan oleh Monica, "Keenan sudah tidur, kau bisa mengunjunginya esok hari."
Mendengar hal itu akhirnya Letta pun kembali berbalik dan langsung berpamitan kepada kedua orang wanita yang saat ini telah berdiri dari kursi yang didudukinya, dia pun diantar menuju ke luar kediaman.
Letta tidak membawa mobil saat ini, sehingga mau tak mau dia pun harus menyetop taksi di jalan. Dia merutuki nasibnya, karena tadi tak meminta agar diantar oleh sopir keluarga Ferdian, untuk kembali ke kediaman miliknya yang berjarak sedikit lebih jauh, sehingga memakan waktu sekitar 30 menit dari kediaman milik Keenan Ferdian.
Sebuah mobil hitam tiba-tiba saja melaju dengan sangat cepat dan langsung berhenti tepat di depan Letta, tak lama dua orang pria bertubuh tinggi besar dan berpakaian hitam pun segera muncul dan langsung menyeret wanita itu untuk masuk ke dalam mobil yang saat ini terparkir.
Letta berusaha untuk berteriak meminta pertolongan, namun kedua orang pria itu langsung menutup mulut Letta dengan telapak tangannya, sehingga Letta pun akhirnya tak bisa berontak lagi.
"Kami sudah mendapatkan wanita itu, Bos!" ucap salah seorang pria sambil memegang earphone yang ada di telinganya.
...----------------...
Bab selanjutnya akan di upload tengah hari ya readers, mohon maaf untuk ketidaknyamanannya. Dan untuk yang mengikuti GA, masih ada waktu hingga pukul 12:00 untuk menambah dukungannya.
__ADS_1