Dikira Babu Ternyata Ratu

Dikira Babu Ternyata Ratu
Chapter 40


__ADS_3

Keempat orang wanita itu saat ini hanya bisa tertawa terbahak-bahak, mendengar ucapan dari si Ibu tua, sepertinya dia terlalu percaya diri jika Anto akan menjaga putrinya dengan baik, padahal mereka tahu dengan sangat bahwa si rentenir itu juga memiliki sebuah klub malam yang mempekerjakan wanita-wanita muda dan juga di bawah umur sebagai pemuas nafsu untuk para pria hidung belang.


Akhirnya tiga bulldozer itu pun sampai di tempat, tiga orang laki-laki segera turun dari sana dan menghampiri keempat orang wanita, yang saat ini masih berdiri di tempat mereka.


"Semuanya sudah siap, Nona. Apa kita hancurkan sekarang?" tanya salah seorang dari pria itu.


Mendengar hal itu, tentu saja warga yang saat ini masih berkerumun di sana pun langsung terlihat panik, mereka sangat takut jika kehilangan rumah dan juga tanah yang selama ini telah menjadi milik mereka.


"Jangan pernah hancurkan tempat kami! kalian tidak memiliki hak untuk itu!" teriak seorang bapak-bapak sambil bertolak pinggang di hadapan keempat orang wanita, yang saat ini hanya tertawa terbahak-bahak.


"Bahkan jika kau mengadu ke pihak berwajib sekalipun, tetap saja kami yang menang, karena surat tanah dan juga akta rumah kalian berada di tangan kami!" ucap Shinta.


Namun mereka tak mau tahu, dan tetap bersikukuh, jika mereka tidak akan pernah meninggalkan tempat itu.


Brak...


Suara pintu mobil terbuka, 22 orang gadis muncul di hadapan mereka, namun saat ini tatapan dari ke-22 orang gadis itu terlihat sangat dingin dan tak menunjukkan hormat sama sekali.


"Apa yang kau lakukan Sisil? Aku sejak tadi menelponmu? Kenapa kau mematikan nomor ponselmu? Apa kau mau menjadi seorang anak durhaka?" ucap seorang ibu tua yang sejak tadi terus menelepon putrinya.


Gadis yang bernama Sisil itu pun mendengus seraya menunjuk wajah ibunya sendiri. "Bukankah kau berhutang demi untuk membuat pesta yang sangat besar untuk pernikahan kakakku, Lalu kenapa harus aku yang menanggung semuanya? Kau bahkan tak tahu apa yang aku alami saat berada di tempat Anto! aku hampir saja dijadikan pela*ur oleh pria tua itu." ucap gadis yang bernama Sisil.


Sang Ibu pun terlihat kaget mendengar ucapan dari putrinya itu, dia benar-benar tak menyangka jika Anto akan tega memperlakukan putrinya seperti itu, keluarga yang lain pun bergerak untuk mencoba berbicara kepada putri-putri mereka, namun tidak ada satupun yang merespon.

__ADS_1


Mereka terlihat begitu jijik dan juga sangat membenci keluarganya, sehingga membuat para orang tua dan keluarga mereka akhirnya menjadi sedih.


"Kalian adalah orang-orang yang sangat jahat! gara-gara kalian kami semua terjerumus dalam dunia hitam. apa kalian bisa mengganti rugi semua itu pada kami?" ucap salah seorang gadis berteriak dengan sangat keras, dia pun membanting beberapa barang yang berada tak jauh dari tempatnya, kemudian melemparkan ke arah warga yang saat itu berusaha untuk mendekat ke arahnya.


"Pergi! dan jangan pernah tunjukkan wajah kalian lagi, jika tidak, aku akan melaporkan kalian pada polisi dan membuat kalian semua membusuk di dalam penjara, kalian adalah orang-orang bodoh dan juga tamak, demi uang kalian bahkan menjual kami semua pada rentenir tua untuk dijadikan seorang pela*ur." teriak gadis yang bernama Sisil.


Seluruh warga di sana pun akhirnya menangis menjadi-jadi, mereka tak menyangka jika putri-putri mereka akan mengalami nasib yang begitu tragis, saat berada di tangan Anto.


Selama ini mereka berfikir jika putri-putri mereka akan dipekerjakan dengan sangat baik di tempat yang terhormat, bukan malah dijadikan objek pemuas nafsu bagi para pria hidung belang.


Akhirnya mereka pun mengalah dan membiarkan buldoser itu untuk menghancurkan rumah dan juga seluruh harta benda milik mereka.


Mulai saat ini, aku memutuskan hubungan kekeluargaan dengan kalian semua! aku bukan lagi putrimu dan kau bukan ibuku. Kau adalah manusia berdosa yang telah menjual putrinya pada rentenir tua." ucap seorang gadis yang bernama Melda sambil menunjuk wajah ibunya yang saat ini masih terisak merasakan sakit.


Saat ini ke-22 orang itu terlihat seperti tengah mengadili keluarga mereka masing-masing, meskipun tangan dan juga kaki mereka tidak digunakan untuk memberikan pelajaran pada keluarganya, tapi ucapan yang pedas dan juga menohok tentunya akan lebih menyakitkan dan hal itulah yang memang mereka inginkan.


Mereka ingin membuat keluarga mereka menyesal, namun mereka tidak akan pernah memberikan kesempatan kedua, karena kebodohan dan juga sikap tamak mereka, yang telah menghancurkan kehidupan dan juga masa depan putri mereka sendiri.


"Kau tak pantas untuk dimaafkan! bahkan jika sampai aku mati sekalipun, aku mengharamkan kau untuk menyentuh jasadku!" teriak Sisil kepada ibunya. Dia adalah yang paling tersakiti, karena selain dijual, gadis itu masih terus saja diperas oleh sang ibu, yang melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan uang darinya.


Sang ibu terus menangis dengan sangat kencang, dia tak menyangka jika saat ini putrinya akan begitu membencinya. "Maafkan ibu.. Ibu tak tahu jika Anto akan melakukan hal itu terhadap kalian! maafkan Ibu." ucapnya.


Beberapa orang warga yang lain pun terlihat bersimpuh di hadapan ke-22 orang gadis yang saat ini tengah berdiri dengan tatapan yang sangat tajam ke arah mereka.

__ADS_1


"Meskipun kalian mati hari ini, ataupun kalian terus menangis hingga air mata kalian berubah menjadi darah, tak akan mengubah kenyataan jika kami telah dijadikan pela*ur karena keserakahan kalian, maka mulai saat ini jangan pernah menganggap kami sebagai bagian dari keluarga kalian lagi, sekalipun kalian hidup di jalanan dan terlunta-lunta, aku tak akan pernah memandang kalian." ucap mereka berbarengan.


Hal itu tentu membuat tekanan batin untuk semua warga yang ada di sana, betapa buruknya sifat mereka sehingga membuat putri-putri mereka akhirnya begitu membenci keberadaan mereka.


"Maafkan kami.." ucap mereka sambil berusaha untuk mendekat dan bersimpuh di kaki putri-putrinya, namun hal itu tak bisa mereka lakukan, karena ternyata ke-22 orang gadis itu telah mundur dan kembali masuk ke dalam mobil yang tadi ditumpanginya.


Sehingga membuat seluruh warga yang ada di sana tak bisa mendekat ke arah mereka.


"Sudah cukup! kalian sudah tahu apa yang menjadi kesalahan kalian? mulai hari ini terimalah hukuman untuk kalian, manusia-manusia serakah dan juga tamak akan harta! Kalian telah menghancurkan kehidupan putri-putri kalian sendiri, jadi mulai hari ini bersiaplah untuk hidup dengan penuh penderitaan di luar sana, agar kalian bisa menebus semua perbuatan kalian." ucap Susan dengan tatapan tidak bersahabat.


"Mungkin jika mereka melihat hidup kalian hancur, Mereka pun akan memberikan maaf." ucap Rima.


Beberapa orang wanita terlihat pingsan, mereka baru saja mengalami shock saat kemunculan putri-putri mereka, dengan mengeluarkan unek-unek dan juga kekesalan yang ada di dalam hatinya, andai waktu bisa diputar, mereka tak akan pernah melakukan hal itu.


Mereka juga menyayangi putri-putri mereka, tapi ternyata kata maaf saja tidak cukup, mereka semua telah membuat putri-putri mereka kehilangan masa depan.


"Baiklah! Kami akan segera pergi dari tempat ini! semoga kalian senang setelah tinggal di jalanan dan menjadi seorang gelandangan. Hahaha..." ucap Dhea dengan konyol.


Rima dan Shinta yang mendengar ucapan dari Kawannya pun tak kuasa dan langsung menggerakkan tangannya untuk menggeplak kepala gadis konyol itu, di hadapan semua orang.


"Jaga mulutmu! diam." ucap Shinta.


Dhea hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh, kemudian berjalan ke arah mobil mereka.

__ADS_1


"Ayo pulang! Sudah cukup kita melihat gelandangan ini menangis!" ucap Dhea tak memperdulikan peringatan dari Shinta.


__ADS_2