
Akhirnya keempat orang wanita itu pun segera berjalan kembali menuju ke mobil mereka, namun tak lama Rima pun berbalik dan melihat ke arah tiga orang pria yang tadi datang dengan membawa buldoser ke tempat itu.
"Pergilah! kalian tak perlu meratakan tempat ini." ucap Rima.
Ketiga orang pria itu pun nampak heran dengan Rima, Bukankah mereka dipanggil untuk meratakan daerah permukiman kumuh itu? Lalu kenapa tiba-tiba saja saat ini wanita yang dihadapannya ini malah menyuruh mereka untuk kembali tanpa melakukan tugas yang seharusnya mereka lakukan?
Tapi ketiganya tidak mengeluarkan suara, mereka hanya saling berpandangan kemudian segera menaiki buldoser itu dan pergi meninggalkan pemukiman warga.
Shinta yang sejak tadi diam pun akhirnya melemparkan seluruh map yang berisi akta tanah dan rumah milik para penduduk di sana.
"Aku hanya ingin memberikan kalian sedikit pelajaran, agar sadar dengan apa yang telah kalian perbuat terhadap putri-putri kalian! Jika di masa depan, kalian melakukan hal yang sama, aku tidak akan pernah segan-segan untuk memberikan pelajaran yang lebih parah daripada ini." ucap Shinta seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil.
"Anggap ini sebagai belas kasihan kami terhadap kalian semua! Tapi ingat baik-baik, mulai hari ini kalian tidak memiliki hubungan apapun dengan 22 orang gadis yang pernah kalian sakiti. Jika pun suatu saat nanti ada salah satu dari kalian yang membutuhkan bantuan, jangan pernah mencari mereka, atau kami akan datang dan membuat perhitungan yang lebih dari ini." ucap Rima.
Dia pun segera menaiki mobil bersama ketiga orang kawannya, akhirnya orang-orang yang sejak tadi menangis pun langsung berlari dan berebut surat-surat berharga milik mereka, sepertinya peringatan yang diberikan oleh Rima dan juga Shinta telah benar-benar dilupakan, begitu map-map Itu dilempar ke arah mereka.
"Ternyata benar, kalian hanyalah orang-orang yang tamak dan haus akan harta! Kalian tadi menangis kehilangan anak-anak kalian, tapi saat ini, setelah aku melemparkan map-map itu, dengan segera kalian melupakan kesedihan dan langsung menyambut map-map itu, meskipun harus saling sikut dan berebut dengan sesama kalian sendiri. Kalian memang benar-benar tak pantas untuk menjadi orang tua dari mereka!" ucap Shinta.
Tatapan matanya menyiratkan kekecewaan yang mendalam terhadap para penduduk, mendengar ucapan yang menohok dari mulut Shinta, tentu saja membuat mereka pun akhirnya berhenti memperebutkan map-map itu, mereka menyadari jika ternyata Shnta melakukan hal itu, memang semata-mata untuk menguji hati dan juga ketulusan mereka semua dan akhirnya mereka pun menyesali kebodohan yang lagi-lagi dibuat oleh mereka.
Andai saja tadi mereka bisa sabar dan bergerak sedikit lebih tenang, mungkin saat ini keempat orang wanita itu tidak akan pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa kekesalan.
__ADS_1
Mobil pun melaju ke arah perumahan mewah, saat ini mereka akan segera kembali ke rumah untuk menenangkan diri setelah pertunjukan yang menguras emosi di perumahan milik para penduduk itu.
Tak ayal hati ke-4 orang wanita itu pun ikut merasakan sakit, melihat bagaimana para orang tua dan juga keluarga dari 22 orang gadis yang saat ini mengikuti mereka bertindak dengan begitu tidak masuk akal.
Mereka terlihat seolah-olah sangat mencintai putri-putri mereka namun setelah itu mereka kembali pada sifat asli mereka yang tamak dan juga rakus akan harta, sepertinya mereka tidak akan pernah berubah jika tidak merasakan kehilangan dan juga kesulitan yang teramat sangat.
Sehingga akhirnya Sinta pun berfikir akan mencari orang untuk bisa membuat para penduduk itu benar-benar menyesal. ke 22 orang gadis itu pun masuk kedalam rumah, mereka langsung berjalan ke lantai 2.
Mereka membutuhkan waktu untuk menenangkan hati dan juga pikiran, karena sesungguhnya meskipun mulut mereka mengatakan bahwa mereka sangat membenci keluarga yang selama ini telah membesarkan dan juga mendidik mereka sejak kecil, nyatanya hati mereka juga ikut merasakan sakit yang teramat, rasa kehilangan dan juga kekecewaan yang mendalam.
Semoga di masa depan keluarga mereka benar-benar berubah dan tidak pernah menggunakan putri-putrinya lagi untuk kepentingan pribadi.
Ponsel Rima bergetar, ada panggilan masuk dari Tara, dengan cepat wanita itu pun segera memisahkan diri dan langsung mengangkat panggilan dari orang kepercayaan bos mereka.
📱"Bagaimana keadaan di sana, Rim?" tanya Tara.
📱"Semuanya baik. Kapan kalian akan kembali ke kota C?" tanya Rima lagi.
📱"Aku akan segera kembali dalam waktu dekat, namun Aleena sepertinya masih akan tetap tinggal di kota A saat ini, karena harus mengurus beberapa bisnis milik keluarganya." ucap Tara.
📱"Baiklah, Kabarkan jika kamu kembali ke kota C dan biarkan aku untuk menjemput di bandara." ucap Rima kembali.
__ADS_1
📱"Oke, salam pada teman-teman yang lain. Aku tetap teleponnya dulu." ucap Tara sambil menutup panggilannya.
Akhirnya Rima pun segera kembali ke sisi ketiga orang kawannya dan mengatakan apa yang tadi diucapkan oleh Tara. Ketiga orang temannya hanya menganggukkan kepala mereka juga merasa sangat rindu dengan Tara, meskipun terkadang wanita itu selalu mengeluarkan kata-kata yang pedas, namun mereka telah menganggap Tara seperti saudara.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Dhea.
"Tetap awasi kediaman keluarga Ferdian! jangan sampai mereka mencari masalah kembali dengan Aleena." ucap Rima.
Susan hanya bengong mendengar apa yang dikatakan oleh Rima, karena dia memang tidak mengikuti Ketiga orang temannya saat ke kota A, akhirnya Rima pun menceritakan tentang apa yang menimpa Aleena sebelum akhirnya bertemu dan menjadi anak angkat dari keluarga Alexander.
Susan mengangguk, "Baiklah jika seperti itu, biar aku lakukan sesuatu." ucapnya seraya membuka laptop dan langsung menggerakkan jari-jari tangannya dengan sangat lincah.
Dia memasukkan berbagai macam kata sandi, yang jelas tak dipahami oleh ketiga orang wanita itu. "Apa yang sedang kau lakukan, Susan?" tanya Dhea.
"Meretas CCTV rumah keluarga Ferdian." jawab Susan dengan santai tanpa menghiraukan reaksi dari ketiga orang temannya.
Ketiga wanita itu hanyamenggelengkan kepala, sepertinya semenjak dia belajar untuk meretas data, Susan agak sedikit berubah. Dia seringkali bekerja sendirian di depan layar laptopnya.
"Baiklah! Mari kita tunggu kedatangan Tara, setelah itu kita bisa memulai rencana baru, apalagi sekarang kita telah memiliki tambahan anggota. Aleena ingin agar segera bisa membangun sebuah mafia yang diberi nama Queen Devil." ucap Shinta.
"Aku akan mencoba mencari tempat yang tersembunyi dan juga tidak akan pernah dicurigai oleh orang lain, untuk dijadikan markas kita." ucap Rima.
__ADS_1
"Kau benar! Aku akan mencari sesuatu yang lebih berharga dari itu. Sepertinya beberapa senjata tajam dan juga senjata api akan kita butuhkan di masa depan, jika sewaktu-waktu ada kelompok mafia lain yang berusaha untuk mencari masalah dengan kita." timpal Dhea seraya bangkit dari kursi yang didudukinya. Wanita itu pun langsung menyambar kunci mobil yang ada di atas meja dan pergi meninggalkan rumah sendirian.