
Tara berjalan ke arah Robert Darmawan, mengingat hari saat ini sudah semakin pagi, akhirnya dia pun segera mengajak rekan-rekannya untuk menyelesaikan masalah kecil itu untuk bisa segera kembali menuju kediaman Ferdian.
"Apa di antara kalian ada yang ingin bermain-main dengan pria tua itu? Jika tidak lekas bereskan, jangan sampai ada satu orang pun yang mengetahui kejadian ini." ucap Tara.
Ke-26 orang wanita pun langsung mendekat, mereka mulai memberikan serangan demi serangan ke arah Robert Darmawan.
Plak...
Plak...
dua kali tamparan mendarat di pipi Robert Darmawan dari Rima.
"Ini karena kau telah menyebarkan berita yang tidak benar tentang Keenan Ferdian."
Buk! Buk!
Brugh...
Dua kali bogem mentah diterima oleh Robert Darmawan dari Susan, yang saat itu langsung menyerang menggunakan tinjunya dan salah satu kaki kanannya langsung menendang ulu hati milik pria itu.
"Ini karena kau telah berani bermain-main dengan kebahagiaan bos kami."
Plak...
Plak...
Dua kali tamparan diterima kembali dari Shinta, yang saat ini terlihat sangat berang. Apalagi mengingat jika keluarga Aleena saat ini berada di ujung tanduk, akibat banyaknya kesalahpahaman yang terjadi. Salah satunya adalah karena Robert Darmawan yang telah berani menyebarkan berita yang tak benar tentang Keenan Ferdian.
"Ini karena kau telah mengganggu keharmonisan keluarga Ferdian."
Duagh...
Duagh...
Bruk...
"Ini karena kau telah berbuat jahat sehingga kebahagiaan bos kami terenggut." ucap Dhea sambil menu berikan dua kali tendangan yang sangat keras ke arah wajah dan juga perut Robert Darmawan.
Brak...
__ADS_1
Kratak...
dengan santainya Tara memelintir tangan milik Robert Darmawan hingga patah.
"Ini karena kau yang selalu menyakiti istrimu!"
Jleb...
"Ini dariku karena kau telah menjadi pria badjingan yang banyak merusak kehidupan orang lain dan mengganggu kenyamanan bos kami. Kau juga telah menjadi seorang pecundang dan menghianati istri yang begitu baik terhadapmu." ucap Malika yang tiba-tiba saja langsung menikamkan pisau ke dada pria tua itu hingga menembus punggungnya.
Bruk...
Tubuh Robert Darmawan langsung tersungkur bersimbah darah, bahkan Irma Aliani yang melihatnya langsung berteriak kencang, dia benar-benar merasa sangat takut dengan ke-27 orang wanita yang saat ini telah membunuh Robert Darmawan dengan sangat keji.
Irma Aliani bahkan tak bisa menggerakkan badannya saking merasa syok, setelah melihat bagaimana cara ke-27 orang wanita itu mengeksekusi musuhnya. Dia benar-benar sangat takut mendapatkan nasib yang serupa dengan yang dialami oleh pria tua itu.
"Aku tidak memiliki masalah apapun dengan kalian, Bukankah seharusnya kalian semua melepaskan aku?" tanya Irma Aliani, meskipun saat ini hatinya begitu takut, namun dia berusaha untuk mengeluarkan suaranya.
Tara yang mendengar kata-kata dari wanita itu langsung berbalik badan, dia pun menatap wajah Irma Aliani sambil tersenyum kecut.
"Kau juga wanita yang tidak berguna! Banyak wanita lain yang hidupnya bahkan lebih miris darimu, tapi mereka masih bisa menjaga dirinya dengan sangat baik! Sedangkan kau tak lebih dari seorang pe*acur. jika kau bisa menghianati Robert Darmawan maka kau juga bisa menghianati kami, lalu dari segimana aku harus melepaskanmu?" tanya Tara.
"Aku berjanji pada kalian, tidak akan memberitahukan siapapun tentang kematian pria tua itu, asalkan kalian bersedia untuk melepaskanku." ucap Irma Aliani setengah memohon di hadapan ke-27 orang wanita itu.
Namun Dhea segera berjalan ke arahnya, tanpa basa-basi wanita itu melayangkan sebelah kakinya untuk menendang ke arah kepala milik model yang sedang naik daun itu.
Bruagh...
Irma Aliani langsung tersungkur di atas lantai, saat ini kepalanya benar-benar merasa sakit. Dia berusaha untuk berteriak meminta pertolongan, namun naas ruangan tempat mereka saat ini berada merupakan ruangan yang kedap suara, sehingga sekencang apapun dirinya berteriak, tidak akan ada satu orang pun yang bisa mendengar ataupun menolongnya.
"Toloooong...!" suara Irma Aliani seperti tercekat di tenggorokan, saat ini dirinya merasakan pusing yang sangat mendera kepalanya. Apalagi setelah terkena hantaman dari kaki milik Dhea, membuat Irma Aliani limbung dan hampir kehilangan kesadaran.
Kheuk...
Wanita itu pun langsung memuntahkan seteguk darah, saat ini sepertinya dia mengalami kerusakan organ di bagian tenggorokan, sehingga membuatnya kehilangan pita suara.
Dia sepertinya sudah tak ingin bermain-main lagi, dengan sangat cepat Dhea pun mengambil pisau yang sudah berkarat dan kembali menikam perut milik Irma Aliani hingga berkali-kali.
Dia benar-benar sangat membenci seorang wanita yang tidak memiliki harga diri, apalagi mereka yang tidak pernah mau berjuang keras demi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, dan bersedia menghalalkan segala cara demi untuk mendapatkan ketenaran dan juga harta melimpah meskipun harus menjual diri.
__ADS_1
Jleb...
Srak...
Jleb...
Srak...
Jleb...
Srak...
Dia menarik pisau tumpul itu dari perut milik Irma Aliani kemudian kembali menikam bagian dadanya, suara dari pisau itu pun terdengar sangat keras, karena dia sama sekali tidak menggunakan perasaannya dalam menarik senjata itu, dia bahkan seolah tengah sengaja memperlihatkan sisi brutalnya, karena merasa benar-benar sangat muak dan juga jijik dengan seorang Irma Aliani yang tidak tahu malu.
"Lebih baik kita segera tinggalkan tempat ini, sebentar lagi hari akan semakin pagi." ucap Tara kepada rekan-rekannya.
"Lalu bagaimana dengan mayat kedua orang itu?" tanya Susan.
"Bukankah lebih baik jika kita hancurkan sekalian rumah ini, agar tidak ada satupun bukti yang memberatkan kita di kemudian hari?" tanya Rima.
Tara pun menganggukkan kepalanya, dia setuju dengan usulan dari rekannya itu. Kemudian dengan sangat cepat ke-27 orang wanita itu segera keluar dari kediaman milik Robert Darmawan.
Tak jauh dari kediaman itu, ke-27 orang wanita segera melemparkan bom ke arah rumah besar yang ditempati oleh Robert Darmawan. Sepertinya mereka saat ini tengah sengaja membuat keributan besar, sehingga membangunkan seluruh tetangga dan juga orang-orang yang bekerja di dalam kediaman besar itu.
Booom...
Booom...
Duar...
Kediaman besar milik Robert Darmawan akhirnya meledak, bahkan saat ini percikan api terlihat kemana-mana membuat seluruh penghuni rumah itu berlarian dengan sangat kencang untuk melarikan diri.
Mereka yang sejak tadi terlelap dalam tidurnya tidak menyangka akan ada kejadian di mana rumah itu akan diledakkan oleh seseorang, Bahkan mereka sampai melupakan Robert Darmawan yang masih berada di dalam ruangannya, sehingga akhirnya mereka pun segera meminta pertolongan kepada orang-orang untuk segera menghubungi pemadam kebakaran.
Mereka sangat takut jika Robert Darmawan dan juga Irma Aliani masih berada di dalam rumah besar itu.
"Tolong bantu kami untuk segera menghubungi pemadam kebakaran, saat ini majikan kami bisa saja masih berada di dalam ruangan, karena tidak mengetahui jika ada ledakan." ucap salah seorang pelayan kepada tetangga pemilik rumah.
Mendengar hal itu tentu saja orang-orang yang saat ini tengah berdiri di hadapan rumah besar itu langsung mengambil ponsel mereka, dan berusaha untuk melapor ke pihak yang berwajib sekaligus memanggil tim pemadam kebakaran untuk bisa menghentikan apinya.
__ADS_1